Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1036 tentang Bab Apa yang Dikatakan tentang Gempa dan Tanda-Tanda

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memberitahukan enam tanda besar menjelang hari Kiamat, yaitu: ilmu agama diangkat dengan wafatnya ulama, gempa bumi sering terjadi, waktu terasa singkat bermakna penuh keberkahan yang sirna, fitnah merajalela, pembunuhan meluas, dan harta melimpah sampai tidak ada yang mau menerima sedekah. Semua ini harus kita waspadai dengan memperbanyak ilmu, taubat, dan amal saleh.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Teks Hadits (Shahih al-Bukhari, no. 1036):

<p dir="rtl" lang="ar">حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ، وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ، وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ، وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ، وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ — وَهُوَ الْقَتْلُ الْقَتْلُ — حَتَّى يَكْثُرَ فِيكُمُ الْمَالُ فَيَفِيضُ»</p>

Terjemahan: Nabi ﷺ bersabda, “Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga ilmu diangkat, gempa banyak terjadi, waktu saling berdekatan, fitnah bermunculan, dan pembunuhan (al-harj) merajalela, hingga harta melimpah ruah di antara kalian.”

Kaitan dengan Ulama dalam Daftar:

  • Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya, Kitab al-Istisqa', Bab Ma Yuqalu 'an al-Zalazil wa al-Ayat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (13/20, cet. Dar al-Ma’rifah) menjelaskan makna “yuqbadhu al-‘ilmu” yaitu Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, sehingga masyarakat mengikuti orang-orang bodoh yang berfatwa tanpa ilmu. Beliau juga menafsirkan “al-harj” dengan pembunuhan dan “al-zalazil” dengan gempa bumi.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (Kitab al-‘Ilm) menegaskan bahwa “taqarub al-zaman” bermakna hilangnya keberkahan waktu, sehingga sedikit waktu terasa banyak peristiwa, atau dapat berarti memendeknya detik-detik di akhir zaman.
  • Ibn Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim (1/25) memasukkan hadits ini sebagai salah satu tanda kiamat kubra yang telah banyak terlihat di zaman beliau.
  • Al-Hasan al-Bashri (sebagaimana diriwayatkan dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam oleh Ibn Rajab) sering menangis apabila mendengar hadits tentang hilangnya ilmu dan banyaknya fitnah, seraya berkata: “Sungguh, diangkatnya ilmu adalah sumber segala bencana.”

---

Penjelasan Rinci

Hadits ini mencakup enam tanda besar yang saling terkait:

  1. Ilmu diangkat (yuqbadhu al-‘ilmu)

Menurut Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi, yang dimaksud bukanlah pencabutan ilmu dari dada ulama secara ajaib, melainkan wafatnya para pembawa ilmu yang saleh. Akibatnya, orang-orang jahil mengambil alih kepemimpinan agama, lalu mereka berfatwa tanpa dasar, dan akhirnya manusia tersesat. Al-Hasan al-Bashri berkata: “Jika ilmu telah dicabut, maka amal pun akan mencair dan hati menjadi keras.”

  1. Gempa banyak terjadi (taktsuru al-zalazil)

Ibnu Hajar mencatat bahwa gempa kecil dan besar akan sering terjadi di berbagai penjuru bumi sebagai peringatan dan tanda dekatnya kiamat. Al-Qur’an sendiri mengingatkan melalui firman Allah:

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat)” (QS. Al-Zalzalah [99]: 1) — ayat ini tidak disebut dalam hadits, tetapi memperkuat maknanya.

  1. Waktu saling berdekatan (yataqarabu al-zaman)

Imam an-Nawawi menyebut dua tafsiran: (a) hilangnya keberkahan waktu sehingga sehari terasa seperti setahun, atau (b) jarak waktu antara satu peristiwa fitnah dengan peristiwa lain sangat pendek. Dalam riwayat lain, “waktu dekat hingga setahun seperti sebulan, sebulan seperti sepekan, sepekan seperti sehari, sehari seperti satu jam, dan satu jam seperti sekejap.” Ibnu Rajab menambahkan bahwa ini juga menandakan surutnya semangat ibadah dan kesibukan dunia yang melalaikan.

  1. Fitnah bermunculan (tazharu al-fitan)

Fitnah di sini berarti ujian dan penyimpangan akidah, seperti perpecahan umat, pertumpahan darah, dan munculnya berbagai syubhat. Abu Hurairah (perawi hadits) sendiri meriwayatkan sabda Nabi ﷺ: “Akan ada fitnah yang menyebabkan orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik daripada yang berlari…” (Shahih al-Bukhari, no. 1035).

  1. Al-Harj (pembunuhan massal)

Ibnu Hajar menjelaskan kata al-harj berasal dari bahasa Habasyah (Ethiopia) yang berarti pembunuhan. Dalam hadits ini disebut dua kali (al-qatl al-qatl) sebagai pengukuhan. Ini menandakan bahwa nilai nyawa manusia menjadi murah dan pembunuhan merajalela tanpa sebab yang jelas.

  1. Melimpahnya harta (yaktsuru al-mal fayafidhu)

Imam an-Nawawi berkata: “Harta akan melimpah sehingga orang yang bersedekah tidak menemukan orang yang mau menerima, karena setiap orang sudah merasa cukup.” Hal ini terjadi ketika keadilan dan kekuasaan Islam ditegakkan, atau justru ketika orang tamak dan tidak peduli terhadap saudaranya? Ibnu Hajar merajihkan bahwa limpahan harta di akhir zaman akan terjadi baik di tengah kehancuran maupun di masa kekuasaan Islam yang adil, namun konteks hadits ini lebih kepada masa fitnah dan kehancuran.

Semua tanda di atas telah mulai tampak sejak zaman sahabat dan semakin jelas seiring berjalannya waktu. Sufyan ats-Tsauri pernah berkata: “Janganlah engkau tertipu oleh banyaknya orang yang mengaku berilmu, karena ilmu yang benar adalah yang diwariskan dari para nabi, yang diamalkan dan diajarkan dengan ikhlas.”

---

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud (sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ — meskipun tidak ada dalam daftar ulama, tetapi kisah ini sahih dalam Shahih al-Bukhari) bahwa beliau pernah berlinang air mata ketika mendengar hadits tentang diangkatnya ilmu. Beliau berkata:

“Wahai manusia, ambillah ilmu sebelum diangkat! Sesungguhnya diangkatnya ilmu adalah dengan wafatnya ulama. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidak ada seorang pun yang mati meninggalkan ilmu yang lebih utama daripada ilmu yang diajarkan dan diamalkan.”

Hikmah:

Kisah ini mengajarkan kita betapa berharganya ilmu di mata para sahabat. Mereka bukan hanya menuntut ilmu, tetapi juga khawatir jika ilmu itu hilang. Maka sepatutnya kita saat ini lebih giat belajar dari ulama yang masih ada, dan berusaha menyebarkan ilmu yang benar sesuai pemahaman salaf.

---

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah menuntut ilmu agama dari sumber yang sahih sesuai manhaj Ahlus Sunnah, karena ilmu adalah landasan amal.
  2. Ikutilah jejak ulama yang tulus dan jangan hanya berguru kepada orang yang terkenal tetapi belum mantap ilmunya.
  3. Perbanyaklah taubat dan amal saleh karena tanda-tanda kiamat semakin dekat, sebagaimana diingatkan dalam hadits ini.
  4. Jadilah penebar kedamaian, bukan penyulut fitnah; hindari pertikaian yang dapat menyebabkan darah tertumpah.
  5. Bersyukurlah atas nikmat waktu dan harta dengan menggunakannya untuk ketaatan, bukan untuk maksiat atau mengejar dunia yang berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an,