Penjelasan Hadits Bukhari No. 1024 tentang Tata cara shalat istisqa meminta hujan

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara shalat istisqa (meminta hujan) yang dicontohkan Nabi ﷺ: beliau keluar, menghadap kiblat, berdoa, membalikkan jubah, lalu shalat dua rakaat dengan bacaan yang dikeraskan. Hadits ini menjadi dalil utama bagi para ulama tentang disyariatkannya shalat istisqa dan beberapa adab penting di dalamnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Istisqa, Bab Mengangkat Suara dalam Doa Meminta Hujan, dari sahabat 'Abbad bin Tamim dari pamannya (yaitu 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim, menurut penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan doa dan shalat dalam keadaan kesulitan, di antaranya firman Allah:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

(QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran."

Kaitan dengan ulama: Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya. Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya menghadap kiblat saat berdoa istisqa, membalikkan jubah, dan mengeraskan bacaan dalam shalat istisqa. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan hal serupa ketika membahas hadits-hadits istisqa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Keluar untuk meminta hujan (يَسْتَسْقِي)

Nabi ﷺ keluar dari kota menuju tempat terbuka untuk berdoa meminta hujan. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa disunnahkan keluar ke tanah lapang untuk shalat istisqa, menampakkan ketundukan dan kebutuhan kepada Allah. Ini juga menunjukkan bahwa istisqa bukan sekadar doa di dalam masjid, tetapi ada tata cara khusus.

Kedua: Menghadap kiblat saat berdoa (فَتَوَجَّهَ إِلَى الْقِبْلَةِ يَدْعُو)

Nabi ﷺ menghadap kiblat ketika berdoa. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa menghadap kiblat adalah adab dalam berdoa, terutama doa yang penting seperti meminta hujan. Ini juga menunjukkan bahwa doa istisqa dilakukan dengan penuh kekhusyukan.

Ketiga: Membalikkan jubah (وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ)

Nabi ﷺ membalikkan jubahnya. Para ulama berbeda pendapat tentang hikmahnya. Ibnu Hajar menyebutkan beberapa pendapat: ada yang mengatakan sebagai simbol perubahan keadaan (dari kekeringan menjadi subur), ada yang mengatakan sebagai tanda tawadhu dan harapan agar Allah mengubah keadaan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini adalah sunnah yang dilakukan saat istisqa.

Keempat: Shalat dua rakaat dengan bacaan keras (ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَهَرَ فِيهِمَا بِالْقِرَاءَةِ)

Nabi ﷺ shalat dua rakaat dan mengeraskan bacaan. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa shalat istisqa dilakukan dua rakaat seperti shalat Id, dengan bacaan yang dikeraskan. Ini menunjukkan bahwa shalat istisqa memiliki tata cara tersendiri yang berbeda dari shalat wajib.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

  • Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa shalat istisqa dilakukan dua rakaat, namun ada perbedaan tentang apakah imam berkhutbah atau tidak.
  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat istisqa dua rakaat dengan bacaan keras, dan ada khutbah setelahnya.
  • Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang menyatakan shalat istisqa dua rakaat dengan bacaan keras, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang shahih.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika, kaum Muslimin mengalami kekeringan yang panjang. Nabi ﷺ pun keluar bersama para sahabat untuk meminta hujan. Beliau menghadap kiblat, berdoa dengan penuh kerendahan, membalikkan jubahnya, lalu shalat dua rakaat. Tidak lama setelah itu, Allah menurunkan hujan yang membasahi bumi. Kisah ini menunjukkan betapa besar tawakal dan kerendahan hati Nabi ﷺ kepada Allah, serta pentingnya mengikuti sunnah beliau dalam berdoa dan shalat istisqa. (Sumber: Shahih Al-Bukhari dan Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani).

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat istisqa adalah ibadah yang disyariatkan ketika terjadi kekeringan atau kebutuhan air.
  2. Disunnahkan keluar ke tanah lapang, menghadap kiblat, berdoa, dan membalikkan jubah.
  3. Shalat istisqa dilakukan dua rakaat dengan bacaan yang dikeraskan.
  4. Hendaknya dilakukan dengan penuh kekhusyukan, tawadhu, dan harapan kepada Allah.
  5. Mengikuti tata cara yang dicontohkan Nabi ﷺ adalah yang paling utama.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?