Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ ketika meminta hujan (istisqa') keluar bersama manusia, lalu berdiri berdoa kepada Allah, menghadap kiblat, dan membalikkan jubahnya. Setelah itu, Allah mengabulkan doa mereka dengan menurunkan hujan. Hadits ini menjadi dalil disyariatkannya shalat istisqa' dengan tata cara tertentu, termasuk berdoa sambil berdiri dan membalik jubah sebagai simbol harapan perubahan keadaan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 186
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Catatan: Ayat ini adalah QS. Ghafir [40]: 60. Adapun QS. Al-Baqarah [2]: 186 berbunyi:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemahan: "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Istisqa' (Meminta Hujan), Bab Doa dalam Meminta Hujan dengan Berdiri, nomor 1023. Perawi sahabat adalah Abbad bin Tamim dari pamannya (yaitu Abdullah bin Zaid bin Asim Al-Anshari radhiyallahu 'anhu). Imam Az-Zuhri (Muhammad bin Shihab az-Zuhri) meriwayatkan hadits ini, dan beliau termasuk Tabi'in yang terpercaya.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam kitab shahihnya, menunjukkan validitasnya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil berdoa sambil berdiri saat istisqa'.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa membalik jubah mengandung makna simbolis perubahan keadaan dari kekeringan menuju kesuburan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menjelaskan tata cara Nabi ﷺ dalam shalat istisqa' (meminta hujan). Beberapa poin penting:
1. Keluar bersama manusia
Nabi ﷺ tidak berdoa sendirian, tetapi mengajak kaum muslimin keluar ke tanah lapang. Ini menunjukkan bahwa istisqa' adalah ibadah kolektif yang melibatkan seluruh umat, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Tujuannya agar kaum muslimin merendahkan diri, bertaubat, dan berdoa bersama-sama.
2. Berdoa sambil berdiri
Dalam hadits ini, Nabi ﷺ berdiri saat berdoa. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini menunjukkan bolehnya berdoa sambil berdiri, dan ini adalah salah satu cara dalam istisqa'. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa berdoa sambil berdiri menunjukkan kesungguhan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
3. Menghadap kiblat
Nabi ﷺ menghadap kiblat saat berdoa. Ini menunjukkan adab dalam berdoa, karena kiblat adalah arah terbaik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa menghadap kiblat saat berdoa adalah sunnah yang dianjurkan.
4. Membalik jubah
Nabi ﷺ membalikkan jubahnya (memindahkan bagian luar ke dalam atau sebaliknya). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini adalah simbolis: keadaan kekeringan diharapkan berubah menjadi hujan, sebagaimana jubah yang dibalik. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa ini juga menunjukkan tawadhu' dan harapan kepada Allah.
5. Dikabulkan doa
Allah mengabulkan doa mereka dengan menurunkan hujan. Ini menunjukkan bahwa istisqa' dengan tata cara yang benar akan dikabulkan, sebagaimana janji Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 186.
Perbedaan pendapat ulama:
- Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa membalik jubah dilakukan saat menghadap kiblat.
- Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa membalik jubah dilakukan setelah berdoa, sebagaimana dalam hadits ini.
- Pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai dengan zhahir hadits: Nabi ﷺ berdoa sambil berdiri, menghadap kiblat, lalu membalik jubah. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad, dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada suatu masa, kaum muslimin mengalami kekeringan panjang. Nabi ﷺ keluar bersama mereka ke tanah lapang. Beliau berdiri, mengangkat tangan, dan berdoa kepada Allah dengan penuh kerendahan. Beliau menghadap kiblat, lalu membalikkan jubahnya. Tidak lama setelah itu, awan gelap datang dan hujan pun turun membasahi bumi. Para sahabat bergembira, dan mereka mengetahui bahwa doa Nabi ﷺ dikabulkan. Kisah ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Zaid radhiyallahu 'anhu, sebagaimana dalam Shahih Al-Bukhari. Hikmahnya: hendaklah kita selalu merendahkan diri dan bersungguh-sungguh dalam berdoa, serta yakin bahwa Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.
Kesimpulan Praktis
- Shalat istisqa' adalah ibadah kolektif — ajaklah keluarga dan kaum muslimin untuk bersama-sama memohon hujan kepada Allah.
- Berdoalah dengan adab — berdiri, menghadap kiblat, dan angkat tangan dengan penuh tawadhu'.
- Membalik jubah adalah sunnah yang mengandung makna simbolis perubahan keadaan; lakukanlah jika memungkinkan.
- Yakinlah pada pengabulan doa — Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 186.
- Bertaubatlah — istisqa' adalah momentum untuk memperbaiki diri, karena dosa adalah penyebab kekeringan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.