Penjelasan Hadits Bukhari No. 1022 tentang Doa dan shalat istisqa tanpa adzan dan iqamah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara shalat istisqa' (shalat meminta hujan) yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ, yaitu: dilakukan dengan berdiri tanpa mimbar, berdoa dan beristighfar terlebih dahulu, kemudian shalat dua raka'at dengan bacaan yang dikeraskan, dan tanpa adzan maupun iqamah. Ini adalah salah satu dalil utama tentang praktik shalat istisqa' yang sederhana dan penuh ketundukan kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Doa Meminta Hujan, Bab Doa Dalam Meminta Hujan Berdiri, nomor 1022. Diriwayatkan dari Abu Nu'aim, dari Zuhair, dari Abu Ishaq, bahwa 'Abdullah bin Yazid Al-Ansari keluar bersama Al-Bara' bin 'Azib dan Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhum untuk meminta hujan. Beliau berdiri di atas kedua kakinya tanpa mimbar, beristighfar, kemudian shalat dua raka'at dengan mengeraskan bacaan, tanpa adzan dan iqamah. Abu Ishaq berkata bahwa 'Abdullah bin Yazid telah melihat Nabi ﷺ melakukan hal yang sama.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.'"

(QS. Nuh [71]: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar adalah salah satu sebab turunnya hujan dan keberkahan dari Allah. Dalam hadits ini, 'Abdullah bin Yazid juga memulai dengan istighfar sebelum shalat istisqa'.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf menjelaskan bahwa shalat istisqa' disyariatkan berdasarkan sunnah Nabi ﷺ. Imam Asy-Syafi'i dalam kitabnya Al-Umm menjelaskan tata cara shalat istisqa' berdasarkan hadits-hadits shahih, termasuk hadits ini. Beliau menyebutkan bahwa shalat istisqa' dilakukan dua raka'at dengan mengeraskan bacaan, tanpa adzan dan iqamah, dan dilakukan di tanah lapang.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan gambaran yang jelas tentang tata cara shalat istisqa' yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Beberapa poin penting yang dapat diambil:

  1. Berdiri Tanpa Mimbar: 'Abdullah bin Yazid Al-Ansari berdiri di atas kedua kakinya tanpa mimbar. Ini menunjukkan bahwa khutbah istisqa' tidak harus dari mimbar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Nabi ﷺ keluar untuk istisqa' dengan merendahkan diri, dan beliau tidak menggunakan mimbar dalam khutbah istisqa' tersebut, berbeda dengan khutbah Jum'at.
  2. Beristighfar Sebelum Shalat: Beliau memulai dengan beristighfar. Ini sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ yang banyak beristighfar ketika meminta hujan. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ ketika istisqa' memperbanyak doa dan istighfar.
  3. Shalat Dua Raka'at dengan Bacaan Keras: Setelah berdoa, beliau shalat dua raka'at dengan mengeraskan bacaan. Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa disunnahkan mengeraskan bacaan dalam shalat istisqa', sebagaimana shalat 'ied.
  4. Tanpa Adzan dan Iqamah: Hadits ini dengan tegas menyebutkan bahwa tidak ada adzan dan iqamah dalam shalat istisqa'. Ini adalah kesepakatan para ulama bahwa shalat istisqa' tidak diawali dengan adzan maupun iqamah.
  5. Sahabat yang Meriwayatkan: 'Abdullah bin Yazid Al-Ansari adalah sahabat yang pernah melihat langsung Nabi ﷺ melakukan shalat istisqa'. Kesaksiannya menjadi hujjah bahwa praktik ini benar-benar berasal dari Nabi ﷺ.

Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam bab "Doa Dalam Meminta Hujan Berdiri" untuk menunjukkan bahwa doa istisqa' dilakukan dengan berdiri, bukan dengan duduk atau cara lainnya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika kaum muslimin tertimpa kekeringan di masa Nabi ﷺ, beliau keluar bersama para sahabat ke tanah lapang dengan penuh kerendahan hati. Beliau tidak menggunakan mimbar, tetapi berdiri di atas tanah dengan khusyuk. Beliau mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dengan penuh harap dan tangis. Para sahabat di belakangnya pun mengaminkan doa beliau dengan penuh kekhusyukan.

Setelah berdoa dan beristighfar, beliau shalat dua raka'at dengan bacaan yang keras, tanpa adzan dan iqamah. Tidak lama setelah itu, Allah menurunkan hujan yang membasahi bumi, menghidupkan tanaman, dan menghilangkan kesedihan kaum muslimin.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa ketika menghadapi musibah seperti kekeringan, seorang muslim hendaknya kembali kepada Allah dengan penuh ketundukan, memperbanyak istighfar, dan melaksanakan shalat sebagai bentuk permohonan kepada-Nya. Kesederhanaan dalam beribadah—tanpa mimbar, tanpa adzan—menunjukkan bahwa yang terpenting adalah keikhlasan hati dan ketundukan kepada Allah, bukan kemegahan lahiriah.

Kesimpulan Praktis

Beberapa amalan yang bisa kita ambil dari hadits ini:

  1. Memperbanyak istighfar ketika menghadapi kesulitan, terutama kekeringan, karena istighfar adalah sebab turunnya rahmat Allah.
  2. Melaksanakan shalat istisqa' dua raka'at dengan bacaan yang dikeraskan, tanpa adzan dan iqamah, sebagai bentuk permohonan hujan kepada Allah.
  3. Berdiri dengan rendah hati ketika berdoa meminta hujan, tanpa harus menggunakan mimbar atau tempat yang tinggi.
  4. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam setiap ibadah, termasuk dalam tata cara shalat istisqa', tanpa menambah atau mengurangi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?