Penjelasan Hadits Bukhari No. 1021 tentang Doa Nabi saat kekeringan dan hujan berlebihan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah bukti nyata mukjizat Nabi ﷺ dan kekuatan doa beliau. Ketika kaum muslimin dilanda kekeringan, beliau berdoa meminta hujan, lalu Allah mengabulkannya. Namun, ketika hujan terus-menerus turun hingga merusak rumah dan memutus jalan, beliau berdoa agar hujan dipindahkan ke sekitar Madinah, bukan di atas Madinah. Doa beliau pun dikabulkan. Hadits ini mengajarkan kita tentang adab berdoa, keyakinan kepada kekuasaan Allah, dan kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam memimpin umatnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Istisqa' (Doa Meminta Hujan), Bab "Doa Jika Hujan Banyak di Sekitar Kita dan Tidak di Atas Kita", no. 1021, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Terdapat juga riwayat senada dalam Shahih Muslim (no. 897) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Adapun dalil tentang kekuasaan Allah dalam menurunkan dan menahan hujan, Allah berfirman:

QS. Fathir [35]: 9

وَاللّٰهُ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ فَتُثِيْرُ سَحَابًا فَسُقْنٰهُ اِلٰى بَلَدٍ مَّيِّتٍ فَاَحْيَيْنَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ كَذٰلِكَ النُّشُوْرُ

"Dan Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami arahkan awan itu ke suatu negeri yang mati (kering), lalu dengan hujan itu Kami hidupkan bumi setelah matinya. Demikianlah kebangkitan itu."

QS. Ar-Ra'd [13]: 17

اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَالَتْ اَوْدِيَةٌۢ بِقَدَرِهَا

"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya."

Ayat ini menunjukkan bahwa hujan yang turun pun diatur oleh Allah sesuai ukuran dan kebutuhan, sebagaimana doa Nabi ﷺ agar hujan dipindahkan ke sekitar Madinah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung banyak pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

  1. Kisah Lengkap: Anas bin Malik menceritakan bahwa pada suatu hari Jumat, saat Nabi ﷺ berkhutbah, para sahabat mengadu tentang kekeringan yang berkepanjangan. Pohon-pohon mengering dan hewan ternak banyak yang mati. Mereka meminta Nabi ﷺ untuk berdoa meminta hujan. Nabi ﷺ pun mengangkat tangan dan berdoa, "Allahumma aghitsna" (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami) atau dalam riwayat ini "Allahumma isqina" (Ya Allah, berilah kami minum/hujan). Beliau mengucapkannya dua kali.

Padahal, saat itu langit tidak terlihat ada awan sama sekali. Namun, atas izin Allah, tiba-tiba muncul awan dan hujan pun turun deras. Hujan terus berlangsung hingga Jumat berikutnya.

Pada Jumat berikutnya, ketika Nabi ﷺ berkhutbah, para sahabat kembali mengadu, tetapi kali ini sebaliknya. Rumah-rumah mulai rusak karena hujan deras dan jalan-jalan terputus. Mereka meminta Nabi ﷺ untuk berdoa agar hujan berhenti atau dipindahkan. Nabi ﷺ tersenyum mendengar keluhan mereka, lalu berdoa, "Allahumma hawalaina wa la 'alaina" (Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan di atas kami). Seketika itu juga, awan di atas Madinah tersingkap seperti mahkota, dan hujan hanya turun di sekitar Madinah, tidak setetes pun di kota Madinah.

  1. Makna Doa Nabi ﷺ: Doa "Allahumma hawalaina wa la 'alaina" adalah doa yang sangat dalam maknanya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini adalah permintaan agar hujan turun di tempat-tempat yang membutuhkan (seperti ladang, kebun, dan gunung) dan tidak membahayakan pemukiman penduduk. Ini menunjukkan kecintaan Nabi ﷺ kepada umatnya dan kebijaksanaan beliau dalam memimpin. Beliau tidak meminta hujan berhenti total, karena air tetap dibutuhkan, tetapi meminta agar hujan dialihkan ke tempat yang lebih bermanfaat.
  2. Mukjizat dan Kekuasaan Allah: Hadits ini adalah salah satu mukjizat terbesar Nabi ﷺ. Perubahan cuaca yang terjadi secara drastis dan cepat, dari tidak ada awan menjadi hujan deras, dan dari hujan deras menjadi cerah di atas Madinah, adalah bukti bahwa alam semesta sepenuhnya berada di bawah kendali Allah. Doa Nabi ﷺ adalah wasilah, namun yang mengabulkan adalah Allah semata. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin bahwa mukjizat ini menegaskan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.
  3. Adab Berdoa dan Bertawasul: Para sahabat tidak langsung berdoa sendiri, tetapi mereka meminta kepada Nabi ﷺ untuk mendoakan mereka. Ini menunjukkan bolehnya meminta didoakan kepada orang yang lebih shalih ketika ada kebutuhan, selama tidak mengandung unsur syirik atau keyakinan bahwa orang tersebut yang menurunkan hujan. Mereka meminta karena yakin doa Nabi ﷺ lebih mustajab. Namun, perlu digarisbawahi, ini adalah kekhususan untuk meminta didoakan, bukan meminta kepada selain Allah secara langsung.
  4. Senyum Nabi ﷺ: Ketika para sahabat mengeluh tentang banyaknya hujan, Nabi ﷺ tersenyum. Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa senyum ini adalah ekspresi kekaguman dan kebahagiaan Nabi ﷺ melihat kondisi umatnya yang berubah. Dari kekeringan yang membuat mereka susah, kini mereka kebanjiran yang juga membuat mereka susah. Ini menunjukkan bahwa ujian bisa datang dalam berbagai bentuk, dan seorang mukmin harus selalu bersabar dan berbaik sangka kepada Allah dalam segala keadaan.

Story Telling

Kisah ini menunjukkan betapa dekatnya para sahabat dengan Nabi ﷺ. Mereka tidak segan untuk menyampaikan keluhan dan masalah mereka secara langsung di hadapan umum saat khutbah. Ini adalah cerminan dari kepercayaan mereka yang total kepada Nabi ﷺ.

Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ berinteraksi. Beliau tidak marah ketika khutbahnya disela. Beliau tidak berkata, "Tunggu sampai khutbah selesai." Justru beliau langsung merespon kebutuhan umatnya. Beliau memanjatkan doa dengan khusyuk dan penuh keyakinan.

Kemudian, lihatlah bagaimana hujan yang tadinya sangat dinanti-nantikan, berubah menjadi bencana karena turun terus-menerus. Ini adalah pelajaran bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kekurangan hujan itu buruk, tetapi kebanyakan hujan juga bisa menjadi masalah. Maka, seorang mukmin diajarkan untuk selalu meminta kebaikan dan keberkahan, bukan sekadar meminta sesuatu secara mutlak.

Nabi ﷺ mengajarkan kita doa yang sangat komprehensif: "Allahumma hawalaina wa la 'alaina". Ini adalah doa yang meminta kebaikan secara keseluruhan, bukan hanya untuk satu golongan. Beliau meminta agar hujan turun di tempat yang membutuhkan dan tidak merugikan tempat tinggal manusia. Ini adalah puncak dari kasih sayang seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits ini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Perbanyak doa dalam setiap kesulitan. Yakinlah bahwa Allah Maha Kuasa untuk mengubah keadaan apa pun, seperti Dia mengubah keadaan dari kering kerontang menjadi hujan deras.
  2. Jadikan Nabi ﷺ sebagai teladan dalam berdoa. Doa beliau singkat, padat, dan sarat makna. Kita bisa menghafal dan mengamalkan doa-doa ma'tsur (yang diajarkan) dari beliau.
  3. Minta kepada Allah kebaikan yang menyeluruh. Dalam setiap doa, mintalah yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat kita, serta untuk kaum muslimin semuanya.
  4. Bersabar dalam menghadapi ujian. Baik ujian berupa kekurangan (kekeringan) maupun kelebihan (banjir), keduanya adalah ujian dari Allah. Yang penting adalah bagaimana sikap kita: bersabar, berdoa, dan berusaha.
  5. Menghormati dan mencintai para ulama dan orang shalih. Sebagaimana para sahabat meminta didoakan kepada Nabi ﷺ, kita pun dianjurkan untuk meminta doa kepada orang-orang shalih di zaman kita, dengan tetap meyakini bahwa yang mengabulkan hanyalah Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?