Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1012 tentang Doa dan shalat istisqa dengan menghadap kiblat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tuntunan Nabi ﷺ ketika berdoa meminta hujan (shalat Istisqa'). Beliau keluar ke tanah lapang (musalla), menghadap kiblat, lalu membalik jubahnya (bagian dalam menjadi luar) sebagai isyarat harapan agar keadaan berubah dari kesusahan menjadi kemudahan, kemudian beliau shalat dua rakaat. Ini adalah sunnah yang diajarkan untuk dilakukan dengan penuh harap dan tawadhu' kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبَّادَ بْنَ تَمِيمٍ، يُحَدِّثُ أَبَاهُ عَنْ عَمِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَاسْتَسْقَى، فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، وَقَلَبَ رِدَاءَهُ، وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Makna ringkas: Dari Abdullah bin Zaid, bahwa Nabi ﷺ keluar ke tanah lapang untuk meminta hujan, lalu beliau menghadap kiblat, membalik jubahnya, dan shalat dua rakaat.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.'" (QS. Nuh [71]: 10-11)

Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar dan doa adalah sebab turunnya hujan, sebagaimana dipahami oleh para ulama.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Al-Bukhari (wafat 256 H) memuat hadits ini dalam Shahih-nya pada Kitab Doa Hujan dan Bab Mengubah Jubah dalam Doa Hujan, menunjukkan pemahaman beliau bahwa membalik jubah adalah bagian dari tuntunan.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hikmah membalik jubah, yaitu sebagai isyarat harapan agar keadaan berubah dari sulit menjadi lapang.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga membahas masalah ini dan menyebutkan bahwa membalik jubah dilakukan agar bagian dalam menjadi luar sebagai simbol perubahan keadaan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang tata cara shalat Istisqa' (shalat meminta hujan). Berikut penjelasan para ulama mengenai poin-poin pentingnya:

1. Keluar ke Musalla (Tanah Lapang)

Nabi ﷺ keluar ke tanah lapang, bukan di masjid. Ini menunjukkan bahwa shalat Istisqa' disunnahkan dilakukan di tanah lapang, sebagaimana shalat 'Id. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat demikian, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

2. Menghadap Kiblat

Nabi ﷺ menghadap kiblat ketika berdoa. Ini menunjukkan bahwa menghadap kiblat adalah adab dalam berdoa, terutama doa yang agung seperti meminta hujan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama sepakat disunnahkan menghadap kiblat dalam doa Istisqa'.

3. Membalik Jubah (رداءه)

Yang dimaksud rida' adalah selendang atau kain yang dikenakan di bagian atas. Nabi ﷺ membaliknya, sehingga bagian yang tadinya di kanan menjadi di kiri, dan bagian dalam menjadi di luar.

Hikmahnya menurut para ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menukil dari para ulama bahwa membalik jubah adalah isyarat harapan agar keadaan berubah, dari kemarau menjadi hujan, dari susah menjadi lapang.
  • Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari sebagian ulama bahwa maknanya adalah "agar Allah mengubah keadaan mereka dari kesusahan menjadi kelapangan."
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa membalik jubah ini adalah perbuatan yang bersifat ta'abbudi (ibadah yang kita ikuti), dan di dalamnya juga terkandung makna harapan akan berubahnya keadaan.

4. Shalat Dua Rakaat

Nabi ﷺ shalat dua rakaat. Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara shalat Istisqa':

  • Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat Istisqa' dilakukan dua rakaat dengan mengeraskan bacaan, seperti shalat 'Id.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat Istisqa' bukanlah shalat sunnah yang disyariatkan secara khusus, melainkan cukup dengan doa dan istighfar. Namun pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama) yang menyatakan disyariatkannya shalat dua rakaat, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits shahih lainnya.

5. Catatan Penting Imam Al-Bukhari

Di akhir hadits, Imam Al-Bukhari mencatat perkataan gurunya, Sufyan bin 'Uyainah, bahwa Abdullah bin Zaid yang meriwayatkan hadits ini adalah "sahabat adzan" (yaitu Abdullah bin Zaid bin Abdu Rabbih, perawi mimpi adzan). Namun Imam Al-Bukhari mengoreksi bahwa ini adalah kekeliruan (wahm), karena yang benar adalah Abdullah bin Zaid bin 'Ashim al-Mazini, sahabat yang berbeda. Ini menunjukkan ketelitian para ulama dalam memastikan periwayatan hadits.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi ﷺ, pernah terjadi kekeringan yang panjang di Madinah. Orang-orang datang mengadu kepada beliau. Maka Nabi ﷺ keluar bersama kaum muslimin ke tanah lapang dengan penuh ketundukan dan kerendahan hati. Beliau menghadap kiblat, membalik jubahnya, lalu berdoa dengan sungguh-sungguh memohon hujan kepada Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih ketiaknya, sebagai tanda betapa dalamnya harapan dan doa beliau. Tidak lama setelah itu, Allah menurunkan hujan yang lebat, hingga orang-orang bergembira.

Kisah ini menunjukkan bahwa doa yang dipanjatkan dengan adab, tawadhu', dan keyakinan penuh kepada Allah akan dikabulkan. Membalik jubah adalah bentuk harapan bahwa Allah akan mengubah keadaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat Istisqa' disunnahkan ketika terjadi kekeringan atau keterlambatan hujan, dilakukan di tanah lapang.
  2. Menghadap kiblat ketika berdoa adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Membalik jubah dilakukan sebagai isyarat harapan perubahan keadaan, dan ini termasuk sunnah yang bisa diamalkan.
  4. Shalat dua rakaat dilakukan sebagaimana shalat biasa, dengan mengeraskan bacaan menurut pendapat yang kuat.
  5. Perbanyak istighfar dan doa, karena itu adalah sebab turunnya hujan sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.