Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan tuntunan Nabi ﷺ ketika keluar untuk melaksanakan shalat istisqa' (meminta hujan). Beliau keluar menuju tanah lapang dengan merendahkan diri kepada Allah, dan di antara amalan yang beliau contohkan adalah membalikkan jubah atau selendangnya. Ini adalah sunnah yang diajarkan sebagai bentuk optimisme dan harapan agar keadaan berubah dari susah menjadi lapang, dari kering menjadi subur.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ تَمِيمٍ، عَنْ عَمِّهِ، قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ يَسْتَسْقِي وَحَوَّلَ رِدَاءَهُ.
Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah bin Abu Bakr, dari Abbad bin Tamim, dari pamannya (yaitu Abdullah bin Zaid bin 'Ashim radhiyallahu 'anhu), ia berkata: "Nabi ﷺ keluar untuk melakukan shalat istisqa' dan membalikkan jubahnya."
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Istisqa', Bab Permohonan Hujan dan Keluar Nabi dalam Permohonan Hujan (no. 1005). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 894) dari jalur lain.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١)
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.'" (QS. Nuh [71]: 10-11)
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar dan kembali kepada Allah adalah sebab turunnya hujan dan keluarnya keberkahan.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Disyariatkannya Shalat Istisqa'
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmu' menjelaskan bahwa shalat istisqa' adalah sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) berdasarkan hadits-hadits shahih. Beliau menukil ijma' (kesepakatan) ulama tentang disyariatkannya shalat ini. Ini adalah bentuk pengakuan akan kelemahan hamba dan kebutuhan mutlak kepada Allah Ta'ala.
2. Keluar ke Tanah Lapang
Nabi ﷺ keluar menuju tanah lapang (musalla) untuk melaksanakan shalat istisqa', bukan di masjid. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hikmahnya adalah untuk memperlihatkan kerendahan diri dan kehinaan di hadapan Allah, serta agar lebih luas bagi jamaah yang hadir.
3. Membalikkan Jubah (Rida')
Para ulama menjelaskan makna membalikkan jubah ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hikmahnya adalah sebagai isyarat optimisme bahwa keadaan akan berubah dari kesusahan menjadi kemudahan, dari kekeringan menjadi kesuburan. Ini adalah bentuk tafa'ul (optimisme) yang dicontohkan Nabi ﷺ.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa membalikkan rida' dilakukan ketika menghadap kiblat setelah khutbah, yaitu dengan membalik bagian kanan ke kiri dan kiri ke kanan. Ini dilakukan sambil menghadap kiblat dan mengangkat tangan berdoa.
4. Urutan Pelaksanaan
Dari hadits-hadits lain yang shahih, kita mengetahui bahwa tata cara istisqa' adalah: keluar ke tanah lapang, shalat dua rakaat (seperti shalat 'Id, dengan takbir), kemudian khutbah, lalu membalikkan rida' dan berdoa dengan menghadap kiblat. Imam Asy-Syafi'i rahimahullah menjelaskan bahwa khutbah dilakukan setelah shalat, sebagaimana shalat 'Id.
5. Doa dan Istighfar
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa sebab utama turunnya hujan adalah istighfar dan taubat kepada Allah. Ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Nuh di atas.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Zaid bin 'Ashim radhiyallahu 'anhu (paman Abbad bin Tamim yang meriwayatkan hadits ini) bahwa ia berkata:
"Aku melihat Nabi ﷺ pada hari ia keluar untuk meminta hujan. Beliau membalikkan jubahnya menghadap kiblat, lalu berdoa, kemudian shalat dua rakaat dan membaca dengan suara keras dalam dua rakaat tersebut." (HR. Al-Bukhari no. 1012)
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa dan beribadah ketika menghadapi musibah, seperti kekeringan. Beliau tidak hanya berdoa, tetapi juga shalat, berkhutbah, dan membalikkan jubah sebagai bentuk optimisme. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus menggabungkan antara ikhtiar lahiriah dan doa batiniah.
Kesimpulan Praktis
- Shalat istisqa' adalah sunnah yang dicontohkan Nabi ﷺ ketika terjadi kekeringan atau keterlambatan hujan.
- Dianjurkan keluar ke tanah lapang dengan pakaian sederhana, merendahkan diri, dan penuh harap kepada Allah.
- Membalikkan jubah adalah sunnah yang memiliki makna optimisme akan perubahan keadaan menjadi lebih baik.
- Perbanyak istighfar dan taubat, karena itu adalah sebab utama turunnya rahmat dan keberkahan dari langit.
- Doa dengan menghadap kiblat dan mengangkat tangan adalah bagian dari tuntunan dalam istisqa'.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.