Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini bukan tentang menambah-nambahi atau mengubah hadits, tetapi tentang adab menerima riwayat: bila sampai kepada kita sebuah hadits dari Nabi ﷺ, kita terima dengan prasangka baik dan pemahaman yang paling lurus, paling membawa kebaikan, dan paling menjaga ketakwaan. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengajarkan agar kita tidak langsung menolak, tidak pula memahaminya dengan cara yang buruk atau menyimpang. Sikap ini adalah bagian dari adab Ahlus Sunnah dalam menerima wahyu dan sunnah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad (nomor 985), dari jalur Abu Mu'awiyah → Al-A'masy → Amr bin Murrah → Abu Al-Bakhtari → Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Teks Arabnya:
إِذَا حُدِّثْتُمْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا فَظُنُّوا بِهِ الَّذِي هُوَ أَهْدَى وَالَّذِي هُوَ أَهْيَا وَالَّذِي هُوَ أَتْقَى
Terjemahan ringkas:
"Jika kalian diberitahu sebuah hadits dari Rasulullah ﷺ, maka anggaplah ia dengan cara yang paling terarah (ahdā), paling membawa kebaikan (ahyā), dan paling bertakwa (atqā)."
Ayat yang menjadi landasan umum sikap ini antara lain:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
QS. Al-Hasyr [59]: 7
"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah; dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."
Juga firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
QS. Al-Ahzab [33]: 70
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."
Hadits ini berkaitan erat dengan prinsip yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim: bahwa menerima hadits harus dengan niat mengikuti petunjuk, bukan mencari pembenaran hawa nafsu.
Penjelasan Rinci
Perkataan Ali رضي الله عنه ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama, hadits dari Nabi ﷺ adalah sumber petunjuk. Maka ketika seseorang menyampaikan hadits, sikap seorang mukmin adalah menerimanya dengan lapang dada, lalu memahaminya dengan pemahaman yang paling baik. Inilah yang dimaksud "yang paling terarah" (أَهْدَى), yaitu paling sesuai dengan jalan hidayah.
Kedua, "yang paling membawa kebaikan" (أَهْيَا) menunjukkan bahwa hadits itu harus dipahami sebagai sesuatu yang menghidupkan hati, membawa manfaat, dan mendorong amal saleh. Bukan dipahami sebagai beban atau alasan untuk berdebat.
Ketiga, "yang paling bertakwa" (أَتْقَى) berarti pemahaman itu harus menjaga ketakwaan, menjauhi takwil yang menyimpang, dan tidak memelintir makna demi hawa nafsu.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa salaf sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan memahami hadits. Mereka tidak menambah, tidak mengurangi, dan tidak menafsirkan dengan cara yang menyimpang. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menegaskan bahwa menerima sunnah dengan prasangka baik adalah tanda keimanan, sedangkan menolak atau memutarbalikkan makna adalah tanda penyakit hati.
Ibn Katsir dalam tafsirnya sering menekankan bahwa para sahabat adalah generasi yang paling memahami sunnah, dan Ali رضي الله عنه termasuk yang paling dalam ilmunya. Perkataan beliau ini adalah nasihat agar umat tidak salah langkah dalam menerima riwayat.
Perlu dicatat: hadits ini bukan berarti kita menerima setiap riwayat tanpa verifikasi. Para ulama seperti Al-Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma'in, dan Ali bin al-Madini justru sangat ketat dalam meneliti sanad. Jadi maknanya: setelah riwayat itu sah dari Nabi ﷺ, maka terimalah dengan pemahaman terbaik, bukan dengan prasangka buruk atau takwil yang menyimpang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang paling lama bersama Nabi ﷺ dan paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau dikenal sangat teliti dalam menyampaikan riwayat. Ketika beliau berbicara tentang hadits, beliau selalu menekankan agar umat menerima sunnah dengan hati yang bersih dan niat mengikuti petunjuk.
Suatu ketika, sebagian orang mulai berdebat tentang makna sebuah hadits dengan cara yang keras dan saling menyalahkan. Ali رضي الله عنه mengingatkan bahwa sikap yang benar adalah menerima hadits dengan pemahaman yang paling lurus, paling membawa kebaikan, dan paling menjaga ketakwaan. Hikmahnya: perselisihan yang sehat adalah yang tetap dalam bingkai adab dan niat mencari kebenaran, bukan kemenangan diri.
Kesimpulan Praktis
- Terima hadits Nabi ﷺ dengan prasangka baik dan niat mengikuti petunjuk.
- Pahami hadits dengan pemahaman yang paling lurus, bukan dengan takwil yang menyimpang.
- Jangan menolak hadits hanya karena tidak sesuai dengan selera atau kebiasaan.
- Tetap verifikasi riwayat melalui ulama yang terpercaya, lalu amalkan dengan penuh ketakwaan.
- Jauhi perdebatan yang keras dan saling menyalahkan dalam memahami sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.