Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 982 tentang Dan dari Musnad Ali bin Abi Talib رضي الله عنه

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menyebutkan ciri fisik seorang pemimpin kelompok Khawarij di perang Nahrawan, yaitu memiliki tangan yang cacat (terpotong atau tidak sempurna). ‘Ali enggan menyampaikan secara terperinci janji Allah yang telah disampaikan Nabi ﷺ bagi orang yang membunuh kelompok tersebut demi menjaga masyarakat dari kesombongan. ‘Abidah (berkemungkinan ‘Abidah al-Salmani) bersaksi bahwa ia sendiri mendengar langsung penjelasan itu dari ‘Ali.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini juga diriwayatkan oleh:

  • Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 1066) dari jalur Qatadah, dari ‘Abidah.
  • Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 564) dan dalam Shahih secara mu’allaq.
  • Imam Abu Dawud (no. 4767), at-Tirmidzi (no. 3000), dan Ibnu Majah (no. 170).

Penjelasan para ulama:

  • Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari (12/294) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tanda fisik pemimpin Khawarij yang sudah diinformasikan Nabi ﷺ.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (7/168) menyebut bahwa hadits ini menjadi salah satu mukjizat Nabi ﷺ, karena ciri yang disebutkan terbukti pada diri Dzul Khuwaishirah at-Tamimi dan para pengikutnya.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam (2/329) mengingatkan bahwa hadits ini mengajarkan tawaquf (menahan diri) dari menyampaikan beberapa ilmu bila dikhawatirkan menimbulkan kerusakan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari ‘Abidah al-Salmani – seorang tabi‘in terpercaya – yang berkata bahwa ‘Ali رضي الله عنه berbicara tentang kelompok Khawarij di Nahrawan. ‘Ali menyebut bahwa di antara mereka ada seorang lelaki dengan tangan cacat (ungkapan “مُودَنُ الْيَدِ” atau “مَثْدُونُ الْيَدِ” atau “مُخْدَجُ الْيَدِ” – semuanya bermakna tangan yang tidak sempurna, pendek, atau seperti daging tanpa tulang). Kemudian ‘Ali bersabda: “Seandainya kalian tidak terjerumus dalam kesombongan (ghurur), niscaya aku kabarkan kepada kalian apa yang Allah janjikan di lisan Muhammad ﷺ bagi orang-orang yang membunuh mereka.”

Para ulama menyebut bahwa yang dimaksud adalah Dzul Khuwaishirah (nama aslinya: Hurqush bin Zuhair) yang muncul pada masa Nabi ﷺ dan pernah berkata kasar, lalu dikenali Nabi ﷺ sebagai pemimpin Khawarij. Tanda fisiknya inilah yang menjadi bukti kenabian, sebagaimana disepakati oleh para sahabat yang hadir dalam perang Nahrawan. ‘Ali sengaja merahasiakan janji besar (misalnya pahala atau jaminan surga bagi yang membunuh mereka) agar umat tidak menjadi sombong dan justru berperang karena pamrih duniawi, bukan karena ikhlas.

Pelajaran utama:

  1. Keteladanan ‘Ali – Beliau memiliki ilmu tentang hal gaib yang diwarisi dari Nabi, namun beliau tidak menyampaikannya secara serampangan karena khawatir menimbulkan fitnah.
  2. Bahaya Khawarij – Ciri mereka telah disebutkan Nabi: suka beribadah berlebihan namun keluar dari jamaah dan mengkafirkan Muslim yang berbeda pendapat.
  3. Adab menuntut ilmu – Seorang alim boleh menyembunyikan sebagian ilmu jika maslahatnya lebih besar, sebagaimana dilakukan ‘Ali.

Story Telling

Pada perang Shiffin (37 H), sekelompok orang dari barisan ‘Ali memisahkan diri dan membentuk kelompok yang dikenal sebagai Khawarij. Mereka mengkafirkan ‘Ali dan Mu‘awiyah, lalu memerangi keduanya. ‘Ali bersama pasukannya menghadapi mereka di Nahrawan. Sebelum perang, beliau berseru: “Di antara mereka akan ada seorang lelaki dengan tangan seperti susu (cacat). Jika kalian tidak mendapatinya, berarti kalian telah binasa.” Setelah pertempuran usai, para sahabat mencari dan menemukan mayat lelaki tersebut dalam kondisi tangan kanannya seperti susu (tidak normal). Hal ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa‘id al-Khudri. ‘Ali pun bersyukur dan menyampaikan bahwa apa yang dikabarkan Nabi ﷺ benar-benar terjadi. (Shahih Muslim, no. 1066)

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa semua yang disampaikan Nabi ﷺ pasti benar, termasuk berita tentang munculnya Khawarij.
  2. Jangan mudah sombong dengan ilmu; seorang yang berilmu hendaknya menimbang maslahat sebelum menyebarkan suatu berita.
  3. Waspadai sikap ekstrem dalam beragama – ibadah yang banyak tidak menjamin seseorang berada di atas kebenaran jika akidah dan manhajnya menyimpang.
  4. Teladani kesabaran ‘Ali dalam menghadapi kelompok yang menentang beliau dengan hujjah dan hikmah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.