Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini meriwayatkan peristiwa di Ghadeer Khumm, di mana Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya." Makna "maula" di sini adalah pemimpin, kekasih, dan penolong, bukan pengangkatan sebagai khalifah. Hadits ini menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dan perintah untuk mencintai serta membelanya, namun tidak boleh ditafsirkan sebagai pengangkatan kepemimpinan mutlak sepeninggal Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Maidah [5]: 55
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, sedang mereka rukuk."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 952) dari jalur Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi (no. 3713) dan Imam an-Nasa'i dalam al-Khasa'ish.
Penjelasan ulama:
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna "maula" dalam hadits ini adalah kekasih dan penolong, bukan pengangkatan sebagai khalifah. Beliau berkata: "Hadits ini adalah hadits shahih, dan maknanya adalah bahwa Ali adalah kekasih dan penolong bagi setiap mukmin, sebagaimana Rasulullah ﷺ adalah kekasih dan penolong bagi mereka."
Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa (4/418) menjelaskan: "Hadits Ghadeer Khumm tidak menunjukkan pengangkatan Ali sebagai khalifah, karena makna 'maula' di sini adalah kekasih dan penolong. Para sahabat memahami hal ini, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang memahami bahwa Nabi ﷺ mengangkat Ali sebagai khalifah pada hari itu."
Penjelasan Rinci
Hadits ini terjadi pada peristiwa Ghadeer Khumm, yaitu ketika Nabi ﷺ kembali dari Haji Wada' pada tahun 10 H. Di tempat tersebut, Nabi ﷺ menyampaikan khutbah yang sangat penting, dan di antaranya beliau bersabda tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib.
Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan yang disebutkan dalam sistem, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Bukhari, dan Imam Muslim, meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih. Namun, mereka tidak pernah menafsirkannya sebagai pengangkatan Ali sebagai khalifah.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa makna "maula" dalam hadits ini adalah:
- Kekasih - yaitu orang yang dicintai dan mencintai
- Penolong - yaitu orang yang membantu dan dibantu
- Pemimpin - dalam arti pemimpin dalam kebaikan dan ketakwaan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ali radhiyallahu 'anhu, namun tidak boleh dipahami secara berlebihan. Beliau berkata: "Hadits ini adalah hadits shahih yang menunjukkan keutamaan Ali, namun tidak menunjukkan bahwa beliau adalah khalifah setelah Nabi ﷺ. Karena para sahabat yang lebih utama dari Ali, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman, tidak pernah memahami demikian."
Adapun tambahan redaksi "wa 'aadi man 'aadaahu" (dan musuhilah orang yang memusuhinya) menunjukkan bahwa mencintai Ali adalah bagian dari iman, dan memusuhinya adalah tanda kemunafikan. Namun, ini tidak berarti bahwa setiap orang yang tidak sepakat dengan Ali dalam masalah ijtihad adalah musuhnya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu, salah seorang sahabat yang ikut dalam peristiwa Ghadeer Khumm. Beliau berkata: "Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam perjalanan, dan beliau berhenti di Ghadeer Khumm. Lalu beliau memanggil orang-orang dan bersabda tentang Ali." (HR. Ahmad)
Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Mereka hanya berdiri dan bersaksi ketika diminta oleh Ali radhiyallahu 'anhu, dan mereka bersaksi dengan apa yang benar-benar mereka dengar. Ini adalah teladan bagi kita dalam menjaga kejujuran dan amanah dalam menyampaikan ilmu.
Kesimpulan Praktis
- Hadits Ghadeer Khumm adalah hadits shahih yang menunjukkan keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu
- Makna "maula" dalam hadits ini adalah kekasih, penolong, dan pemimpin dalam kebaikan
- Tidak boleh menafsirkan hadits ini sebagai pengangkatan Ali sebagai khalifah sepeninggal Nabi ﷺ
- Mencintai Ali adalah bagian dari iman, dan memusuhinya adalah tanda keburukan
- Kita wajib mencintai seluruh sahabat Nabi ﷺ tanpa berlebihan atau merendahkan
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.