Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi dua hal penting: (1) kehati-hatian Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang sangat menjaga diri dari berdusta atas nama Nabi ﷺ, dan (2) larangan serta peringatan Nabi ﷺ terhadap munculnya kelompok di akhir zaman yang berbicara dengan kata-kata indah (mengutip Al-Qur'an dan sunnah) tetapi imannya tidak sampai ke hati, sehingga mereka menyimpang dan memberontak terhadap kaum muslimin. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai dalil wajibnya berpegang pada pemahaman jama'ah dan menjauhi sikap ghuluw (berlebihan) serta takfir tanpa ilmu.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hujurat [49]: 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk tabayyun (memverifikasi berita), terutama berita yang berkaitan dengan nyawa dan kehormatan kaum muslimin.
Hadits terkait dari kitab shahih:
Hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna:
يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَقِرَاءَتَكُمْ مَعَ قِرَاءَتِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ
Terjemahan: "Akan muncul pada kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan bacaan kalian dibanding bacaan mereka. Mereka membaca Al-Qur'an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama dan kitab:
- Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, dan beliau sendiri dikenal sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Beliau berkata: "Barangsiapa berdusta atas nama Nabi ﷺ dengan sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka."
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil tentang munculnya kelompok Khawarij dan kelompok-kelompok yang menyimpang dengan ciri-ciri tersebut.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ciri "iman tidak melewati tenggorokan" bermakna mereka mengucapkan syahadat dengan lisan tetapi tidak meresap ke dalam hati, sehingga amal mereka tidak bermanfaat.
- Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini termasuk nash yang menunjukkan wajibnya memerangi kelompok yang memberontak terhadap jama'ah kaum muslimin dan menumpahkan darah tanpa hak.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan menegaskan bahwa tanda utama kelompok ini adalah berbicara dengan kata-kata yang indah namun hatinya kosong dari iman dan ilmu yang benar.
Penjelasan Rinci
Pertama: Kehati-hatian Sayyidina Ali radhiyallahu 'anhu dalam meriwayatkan hadits.
Sayyidina Ali berkata: "Jika aku menceritakan kepada kalian dari Rasulullah ﷺ, maka sungguh aku lebih suka terjatuh dari langit daripada aku berdusta atas namanya." Ini menunjukkan betapa besar rasa takut beliau kepada Allah dalam menyampaikan hadits. Beliau membedakan antara berita yang beliau sampaikan dari Nabi ﷺ — yang wajib dijaga ketat — dengan berita dari selain Nabi ﷺ, di mana beliau menyebut dirinya sebagai "pejuang" dan "perang adalah tipu daya." Artinya, dalam urusan strategi perang, boleh ada taktik, tetapi dalam menyampaikan hadits Nabi ﷺ, tidak boleh ada dusta sama sekali.
Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam an-Nawawi menjadikan perkataan Ali ini sebagai dalil tentang keutamaan sifat wara' (menjaga diri) dalam meriwayatkan hadits, dan ancaman keras bagi siapa saja yang berdusta atas nama Nabi ﷺ.
Kedua: Ciri-ciri kelompok yang disebutkan dalam hadits.
Nabi ﷺ menyebutkan beberapa ciri:
- أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ — usia mereka masih muda.
- سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ — akal mereka belum matang (bodoh dalam berpikir).
- يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ — mereka mengucapkan perkataan yang sama dengan perkataan sebaik-baik makhluk (yakni mengutip Al-Qur'an dan sunnah).
- لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ — iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka, artinya hanya di lisan, tidak sampai ke hati.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ciri ini menunjukkan bahwa seseorang bisa saja berbicara dengan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadits, tetapi hatinya kosong dari iman yang benar dan pemahaman yang lurus. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menambahkan bahwa ilmu yang tidak sampai ke hati tidak akan melahirkan amal yang benar.
Ketiga: Perintah memerangi mereka.
Nabi ﷺ bersabda: "Di mana pun kalian menemui mereka, maka bunuhlah mereka." Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa perintah ini bukanlah izin untuk membunuh sembarang orang yang berbeda pendapat, melainkan khusus bagi kelompok yang mengangkat senjata dan memberontak terhadap kaum muslimin, menumpahkan darah, dan merampas harta — sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Khawarij pada masa sahabat. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang wajibnya memerangi ahlul bid'ah yang memberontak, bukan sekadar berbeda pendapat dalam masalah fiqih.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah memahami hadits ini secara umum tentang setiap kelompok yang menyimpang dari jama'ah. Sedangkan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim lebih spesifik mengaitkannya dengan Khawarij dan kelompok-kelompok yang mengangkat senjata. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa hadits ini mencakup semua kelompok yang memiliki ciri-ciri tersebut, dan hukum memerangi mereka berlaku ketika mereka memberontak dan menumpahkan darah, bukan sekadar berbeda pendapat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah ditanya mengapa beliau begitu berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Beliau menjawab dengan perkataan yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad ini. Beliau sangat takut jika sampai salah dalam menyampaikan sabda Nabi ﷺ, karena itu adalah dosa besar.
Pada masa beliau, muncul kelompok Khawarij yang memberontak. Mereka rajin beribadah, membaca Al-Qur'an, dan mengucapkan kata-kata yang indah, tetapi mereka mengkafirkan kaum muslimin dan menumpahkan darah. Sayyidina Ali berhadapan dengan mereka berdasarkan hadits Nabi ﷺ ini, dan beliau tidak memerangi mereka sampai mereka benar-benar memberontak dan menumpahkan darah. Ini menunjukkan bahwa penerapan hadits ini harus dengan ilmu dan keadilan, bukan dengan hawa nafsu.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: "Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang pada apa yang dipegang oleh para sahabat Nabi ﷺ, meninggalkan bid'ah, dan tidak memerangi penguasa selama mereka tidak memerintahkan kemaksiatan." Ini menunjukkan bahwa Imam Ahmad memahami hadits-hadits seperti ini dengan pemahaman yang seimbang, tidak ghuluw, dan tidak takfir sembarangan.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lisan dari berdusta atas nama Nabi ﷺ. Setiap hadits yang kita sampaikan harus dipastikan kebenarannya dan dipahami dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
- Kenali ciri-ciri kelompok yang menyimpang: usia muda yang belum matang, akal yang belum dewasa, ucapan yang indah tetapi iman tidak sampai ke hati. Jangan tertipu oleh penampilan luar.
- Tabayyun (verifikasi) sebelum bersikap. Sebagaimana perintah Allah dalam QS. Al-Hujurat [49]: 6, jangan mudah terprovokasi oleh berita yang belum jelas kebenarannya.
- Jauhi ghuluw (berlebihan) dan takfir tanpa ilmu. Hadits ini bukan dalil untuk mengkafirkan atau membunuh sembarang orang yang berbeda pendapat, melainkan peringatan terhadap kelompok yang memberontak dan menumpahkan darah.
- Berpegang pada jama'ah dan ulama. Sebagaimana pesan Imam Ahmad bin Hanbal, berpeganglah pada pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, dan jauhi bid'ah serta perpecahan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.