Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 91 tentang Anjuran mandi sebelum shalat Jumat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa mandi (ghusl) sebelum pergi shalat Jumat adalah perintah Nabi ﷺ yang sangat ditekankan. Umar bin al-Khattab menegur seorang lelaki yang hanya berwudhu ketika mendengar adzan, karena Nabi ﷺ memerintahkan ghusl bagi siapa saja yang hendak menunaikan shalat Jumat. Para ulama menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan sunnah yang kuat (bukan sekadar anjuran biasa), meskipun mayoritas ulama menyatakan hukumnya sunnah, bukan wajib, kecuali bagi yang memiliki sebab wajib mandi.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil utama hadits ini — Musnad Ahmad (no. 91), dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan hari Jumat dan bersuci:

QS. Al-Jumu'ah [62]: 9

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَٱسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Hadits pendukung dari kitab shahih:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً

"Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah, kemudian berangkat (ke masjid), maka seolah-olah ia berkurban dengan seekor unta." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang ghusl Jumat menunjukkan penekanan (ta'kid) yang kuat, dan beliau memilih pendapat bahwa ghusl Jumat hukumnya sunnah, bukan wajib.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perintah ghusl Jumat dipahami oleh jumhur ulama sebagai sunnah muakkadah, berdasarkan hadits lain yang menunjukkan bolehnya meninggalkannya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa ghusl Jumat termasuk sunnah yang Nabi ﷺ senantiasa jaga dan perintahkan.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa bersuci dan bersegera ke Jumat termasuk adab yang diperintahkan Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:

Pertama: Teguran Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu

Umar sebagai khalifah menegur lelaki tersebut dengan pertanyaan: "Mengapa kamu datang terlambat?" Lelaki itu menjawab bahwa ia baru mendengar adzan lalu berwudhu. Umar kemudian mengingatkan sabda Nabi ﷺ tentang ghusl Jumat. Ini menunjukkan bahwa Umar memahami perintah Nabi ﷺ sebagai sesuatu yang seharusnya tidak ditinggalkan, dan beliau ingin para sahabat memperhatikan sunnah ini.

Kedua: Hukum ghusl Jumat

Para ulama dari daftar yang disebutkan berbeda pendapat:

  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Malik berpendapat bahwa ghusl Jumat hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), bukan wajib. Dalilnya adalah hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mewajibkannya secara mutlak.
  • Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat juga menyatakan sunnah, namun sangat menekankan.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat sunnah, kecuali jika seseorang memiliki sebab yang mewajibkan mandi.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan bahwa jumhur ulama (mayoritas) berpendapat ghusl Jumat adalah sunnah muakkadah, dan pendapat ini yang paling kuat berdasarkan penggabungan seluruh dalil. Imam an-Nawawi juga menegaskan hal yang sama dalam Al-Majmu'.

Ketiga: Waktu ghusl

Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa waktu terbaik ghusl Jumat adalah sebelum berangkat ke masjid, sebagaimana disebutkan dalam hadits "idza raha ahadukum ilal jumu'ah fal yaghtasil" (jika salah seorang dari kalian pergi ke Jumat, hendaklah ia mandi). Ini menunjukkan bahwa ghusl dilakukan sebelum berangkat, bukan setelah tiba di masjid.

Keempat: Hikmah ghusl Jumat

Syeikh as-Sa'di menjelaskan bahwa hikmahnya adalah:

  1. Membersihkan badan dan menghilangkan bau tidak sedap, karena umat Islam berkumpul dalam jumlah besar.
  2. Menyempurnakan kebersihan diri untuk menghadap Allah dalam ibadah yang agung.
  3. Mengikuti perintah Nabi ﷺ dan meneladani sunnahnya.

Kelima: Adab menghadiri Jumat

Hadits ini juga mengajarkan adab penting: bersegera ke masjid, tidak menunda-nunda, dan memperhatikan kebersihan diri. Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin memasukkan bab tentang keutamaan bersuci dan bersegera ke Jumat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa pada suatu hari Jumat, Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu sedang berkhutbah di mimbar. Di tengah khutbahnya, seorang lelaki dari sahabat masuk ke masjid. Umar yang dikenal tegas dalam menjaga sunnah Nabi ﷺ langsung menegurnya di hadapan jamaah: "Mengapa kamu terlambat?" Lelaki itu menjawab dengan jujur: "Aku tidak terlambat, wahai Amirul Mukminin. Aku hanya mendengar adzan, lalu aku berwudhu dan langsung datang." Umar kemudian mengingatkan dengan sabda Nabi ﷺ: "Tidakkah kamu mendengar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Jika salah seorang dari kalian pergi ke Jumat, hendaklah ia mandi?'"

Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat saling mengingatkan dalam kebaikan, dan bagaimana Umar radhiyallahu 'anhu sangat memperhatikan sunnah Nabi ﷺ. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaiful Ma'arif menyebutkan kisah-kisah serupa tentang perhatian para salaf terhadap sunnah-sunnah Jumat.

Kesimpulan Praktis

  1. Mandi (ghusl) sebelum shalat Jumat adalah sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) menurut jumhur ulama, termasuk Imam asy-Syafi'i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah.
  2. Waktu terbaik ghusl adalah sebelum berangkat ke masjid, setelah masuk waktu yang memungkinkan, dan dilakukan dengan niat bersuci untuk Jumat.
  3. Jangan menunda berangkat ke Jumat hanya karena merasa cukup dengan wudhu, karena Nabi ﷺ menganjurkan ghusl dan bersegera.
  4. Perhatikan kebersihan diri — memotong kuku, memakai wangi-wangian, dan memakai pakaian terbaik — sebagai pelengkap sunnah Jumat.
  5. Saling mengingatkan dalam kebaikan dengan lembut dan penuh adab, sebagaimana Umar radhiyallahu 'anhu menegur dengan cara yang jelas namun tidak kasar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi