Penjelasan Hadits Ahmad No. 902 tentang Allah Maha Baik dan mencintai kebaikan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Allah bersifat Rafīq (Maha Lembut), mencintai kelembutan, dan memberikan keberkahan serta hasil pada sikap lembut yang tidak diberikan pada sikap kasar. Maka seorang Muslim hendaknya menghiasi diri dengan kelembutan dalam berdakwah, mendidik, bermuamalah, dan menyelesaikan perselisihan. Kekerasan justru sering menutup pintu kebaikan, sedangkan kelembutan membuka banyak jalan hidayah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (nomor 902) dari jalur Ali bin Abi Talib رضي الله عنه, dengan lafaz:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, mencintai kelembutan, dan Dia memberi (pahala/keberkahan) atas kelembutan yang tidak Dia berikan atas kekerasan."

Makna ini diperkuat oleh hadits shahih lain yang semakna, yaitu hadits dari Aisyah رضي الله عنها yang diriwayatkan Imam Muslim:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan." (HR. Muslim)

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar sifat lembut ini antara lain firman Allah:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

QS. Fushshilat [41]: 34

Terjemahan: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang sangat setia."

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini bahwa membalas keburukan dengan kebaikan dan kelembutan dapat mengubah permusuhan menjadi kasih sayang. Ibnul Qayyim juga menegaskan dalam kitab-kitabnya bahwa kelembutan adalah pintu masuk hidayah, sedangkan kekerasan menutup hati manusia.

Penjelasan Rinci

Kata ar-Rifq dalam bahasa Arab berarti kelembutan, kasih sayang, dan sikap yang tidak kasar. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ar-Rifq mencakup kelembutan dalam ucapan, perbuatan, dan cara berinteraksi dengan orang lain, termasuk kepada orang yang berbeda pendapat atau berbuat salah.

Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menerangkan bahwa kelembutan adalah sifat yang menyatu dengan rahmat, dan Allah menyukai hamba yang meneladani sifat ini. Beliau juga menyebutkan bahwa kelembutan adalah sebab turunnya keberkahan, sedangkan kekerasan adalah sebab terhalangnya kebaikan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang kelembutan menunjukkan bahwa kelembutan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang terarah. Orang yang lembut mampu meraih tujuan dakwah dan perbaikan yang tidak dapat diraih dengan kekerasan.

Para ulama seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri juga menekankan pentingnya kelembutan dalam amar ma'ruf nahi munkar. Al-Hasan al-Bashri berkata bahwa seorang dai hendaknya menyeru dengan lembut, karena kelembutan lebih mudah diterima hati daripada kekerasan.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang penerapan kelembutan, sebagian menekankan kelembutan dalam dakwah kepada umum, sementara dalam menegakkan hukum syariat tetap ada ketegasan pada tempatnya. Namun kesimpulannya, kelembutan adalah prinsip dasar dalam muamalah, sedangkan ketegasan hanya pada perkara yang memang memerlukan, seperti menegakkan hudud dan mencegah kemungkaran besar dengan cara yang syar'i.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui pernah masuk masjid dan kencing di dalamnya. Para sahabat marah dan hendak memukulnya, namun Nabi ﷺ melarang mereka dan bersabda agar dibiarkan, lalu beliau memerintahkan untuk menyiram bekas kencing itu dengan air. Setelah itu Nabi ﷺ menasihati badui tersebut dengan lembut, sehingga ia pun berdoa untuk Nabi ﷺ dan kaum Muslimin. Kisah ini menunjukkan bahwa kelembutan Nabi ﷺ mampu melunakkan hati yang keras, sedangkan kekerasan hanya akan menimbulkan penolakan. (Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari dan Muslim, dan dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam syarahnya.)

Kesimpulan Praktis

  • Biasakan diri berbicara dan bersikap lembut kepada keluarga, tetangga, dan siapa pun, terutama saat menasihati.
  • Ingatlah bahwa kelembutan membuka pintu hidayah dan keberkahan, sedangkan kekerasan menutupnya.
  • Dalam mendidik anak dan berdakwah, gunakan cara yang penuh kasih sayang, bukan bentakan.
  • Ketika menghadapi perbedaan pendapat, utamakan adab dan hikmah, bukan emosi.
  • Berdoalah agar Allah menjadikan kita hamba yang lembut hatinya dan lisannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?