Penjelasan Hadits Ahmad No. 793 tentang Lailatul Qadr ditandai bulan separuh piring

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah keluar pada suatu malam, lalu beliau melihat bulan terbit yang bentuknya seperti separuh piring (yaitu bulan di pertengahan malam, bukan bulan purnama penuh). Kemudian beliau bersabda bahwa malam itu adalah Lailatul Qadr. Namun perlu dipahami, ini bukanlah penetapan bahwa Lailatul Qadr selalu jatuh pada malam tersebut secara pasti, melainkan kabar gembira bagi orang-orang yang hadir saat itu bahwa mereka mendapatkan malam mulia tersebut. Para ulama menjelaskan bahwa Lailatul Qadr terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, dan hadits ini tidak bertentangan dengan hal itu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sampaikan):

<p>حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، لُوَيْنٌ حَدَّثَنَا حُدَيْجٌ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي حُذَيْفَةَ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَرَجْتُ حِينَ بَزَغَ الْقَمَرُ كَأَنَّهُ فِلْقُ جَفْنَةٍ، فَقَالَ: اللَّيْلَةَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ.</p>

Makna ringkas:

Nabi ﷺ keluar (dari rumahnya) ketika bulan telah terbit, dan beliau melihat bentuk bulan itu seperti separuh piring (yaitu bulan di malam pertengahan bulan). Lalu beliau bersabda: "Malam ini adalah Lailatul Qadr."

Hadits-hadits lain yang terkait tentang Lailatul Qadr:

  1. Hadits riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah رضي الله عنها, Nabi ﷺ bersabda:

> "تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ"

> "Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan."

> (HR. Al-Bukhari no. 2017, Muslim no. 1169)

  1. Hadits riwayat Imam Muslim dari Ibnu Umar رضي الله عنهما:

> "أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ"

> "Aku melihat mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Maka siapa yang ingin mencarinya, hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir."

> (HR. Muslim no. 1165)

Kaitan dengan ulama dari daftar rujukan:

  • Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim ketika menafsirkan QS. Al-Qadr [97]: 1-3 menjelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam yang mulia, dan ia terjadi di bulan Ramadhan, tepatnya pada sepuluh malam terakhir, dan paling kuat pada malam-malam ganjil.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menafsirkan QS. Al-Qadr bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan, dan Allah merahasiakan waktunya agar hamba-hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepanjang bulan Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Hudayj bin Mu'awiyah yang dinilai oleh sebagian ulama hadits sebagai perawi yang layyin (kurang kuat hafalannya). Namun, makna hadits ini tetap dapat diterima karena tidak bertentangan dengan dalil-dalil lain yang lebih kuat tentang Lailatul Qadr.

Pemahaman ulama terhadap hadits ini:

  1. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari ketika membahas hadits-hadits tentang Lailatul Qadr menjelaskan bahwa Nabi ﷺ pernah keluar untuk mengabarkan kepada para sahabat tentang Lailatul Qadr, namun beliau lupa atau diangkat ilmunya karena ada dua orang sahabat yang bertengkar. Ini berdasarkan hadits shahih riwayat al-Bukhari dari Ubadah bin ash-Shamit. Maka hadits Ali ini bisa dipahami bahwa pada saat itu Nabi ﷺ mengetahui bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadr, dan beliau mengabarkannya kepada mereka yang hadir.
  2. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Lailatul Qadr terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, dan hikmah dirahasiakannya adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh beribadah di semua malam tersebut. Adapun hadits Ali ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah keluar pada malam tertentu dan mengabarkan bahwa malam itu adalah Lailatul Qadr, namun ini khusus untuk orang-orang yang hadir saat itu, bukan ketentuan umum bagi seluruh umat.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa Lailatul Qadr tidak ditentukan secara pasti, dan pendapat yang paling kuat menurut para ulama adalah ia terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil. Adapun hadits Ali ini, jika shahih, maka itu adalah kabar khusus bagi para sahabat yang hadir pada malam itu.

Tentang bentuk bulan "seperti separuh piring":

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bulan di malam pertengahan bulan (malam ke-14 atau ke-15), di mana bulan terlihat seperti separuh lingkaran. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah bulan di awal kemunculannya yang berbentuk seperti potongan piring. Yang jelas, ini adalah gambaran indah dari Nabi ﷺ untuk menjelaskan keadaan malam tersebut.

Kesimpulan ulama tentang waktu Lailatul Qadr:

Pendapat yang paling kuat - sebagaimana ditegaskan oleh Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan diikuti oleh Imam Ibn Hajar al-Asqalani serta Syaikh al-Albani - adalah bahwa Lailatul Qadr terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, dan paling kuat pada malam-malam ganjil, terutama malam ke-27. Namun, untuk kehati-hatian, seorang muslim dianjurkan bersungguh-sungguh beribadah di seluruh sepuluh malam terakhir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam al-Hasan al-Bashri - semoga Allah merahmatinya - sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beliau mandi, memakai wewangian, dan menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat, dzikir, dan doa. Beliau berkata: "Sungguh, seorang hamba tidak akan mendapatkan Lailatul Qadr kecuali dengan kesungguhan dan keikhlasan."

Kisah ini menunjukkan bahwa para salafus shalih sangat antusias mencari Lailatul Qadr, bukan hanya menunggu tanpa amal. Mereka menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah, karena mereka memahami bahwa malam itu lebih baik dari seribu bulan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguhlah mencari Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama malam-malam ganjil, sebagaimana perintah Nabi ﷺ.
  2. Jangan berdebat tentang penetapan pasti Lailatul Qadr; yang terpenting adalah memperbanyak ibadah di semua malam sepuluh terakhir.
  3. Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Aisyah: "اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي" (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai ampunan, maka ampunilah aku).
  4. Jadikan hadits ini sebagai motivasi bahwa para sahabat pernah mendapatkan kabar langsung dari Nabi ﷺ tentang Lailatul Qadr, dan kita pun bisa mendapatkannya dengan kesungguhan.
  5. Jangan lupa bersedekah dan berbuat baik di malam-malam tersebut, karena amal kebaikan di Lailatul Qadr dilipatgandakan pahalanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?