Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita adab naik kendaraan yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu membaca basmalah saat hendak naik, hamdalah dan doa saat telah berada di atasnya, lalu memohon ampunan kepada Allah. Yang paling menarik, hadits ini juga mengabarkan bahwa Allah 'kagum' (ya'jabu) kepada hamba-Nya yang memohon ampun, karena itu menunjukkan kesadaran bahwa hanya Allah yang bisa mengampuni dosa. Ini adalah kabar gembira yang sangat besar bagi kita yang sering berbuat salah—selama kita memohon ampun, Allah justru menyukai dan menghargai hal itu.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang dibaca dalam doa tersebut:
QS. Az-Zukhruf [43]: 13-14
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
"Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 753) dari Ali bin Rabi'ah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan doa naik kendaraan ini dan menjelaskan keutamaannya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan makna "Allah kagum" terhadap hamba yang memohon ampun.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Adab Naik Kendaraan
Nabi ﷺ mengajarkan urutan doa ketika naik kendaraan:
- Saat hendak naik (meletakkan kaki di pijakan): membaca "Bismillah"
- Setelah berada di atas kendaraan: membaca "Alhamdulillah" lalu membaca ayat QS. Az-Zukhruf: 13-14
- Kemudian membaca "Alhamdulillah" 3 kali dan "Allahu Akbar" 3 kali
- Lalu berdoa: "Subhanaka la ilaha illa anta, qad zhalamtu nafsi faghfir li" (Mahasuci Engkau, tiada Tuhan selain Engkau, sungguh aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku)
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa doa ini mencakup tiga hal: pujian kepada Allah atas nikmat kendaraan, pengakuan kelemahan diri, dan permohonan ampunan.
2. Makna "Allah Kagum" (Ya'jabu)
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa "kagumnya" Allah adalah sifat yang layak bagi Allah, bukan seperti kekaguman manusia. Ini menunjukkan bahwa Allah sangat menyukai dan menghargai hamba-Nya yang memohon ampun. Ini adalah kabar gembira—bahwa doa istighfar kita tidak sia-sia, bahkan Allah meridhai dan menyukainya.
3. Pelajaran Tauhid
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa doa ini mengandung inti tauhid: pengakuan bahwa hanya Allah yang bisa mengampuni dosa. Ini adalah inti dari La ilaha illallah—tidak ada yang berhak disembah dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Allah.
4. Kisah Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu melakukan persis seperti yang dilakukan Nabi ﷺ, lalu tertawa. Ketika ditanya, beliau menjelaskan bahwa Nabi ﷺ juga tertawa setelah membaca doa ini, dan ketika ditanya, beliau bersabda bahwa Allah kagum kepada hamba-Nya yang memohon ampun. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat teliti dalam meniru Nabi ﷺ, bahkan dalam hal tertawa pun mereka bertanya alasannya.
Story Telling
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Az-Zuhd bahwa sebagian salaf berkata: "Tidaklah seorang hamba berbuat dosa lalu beristighfar, melainkan Allah mengampuninya. Dan tidaklah seorang hamba berbuat dosa lalu tidak beristighfar, melainkan ia akan berbuat dosa yang lebih besar lagi."
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di meja makan kalian, di jalan-jalan kalian, di pasar kalian, di majelis kalian. Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan."
Ini menunjukkan betapa pentingnya membiasakan istighfar dalam setiap keadaan—termasuk saat naik kendaraan, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan doa naik kendaraan ini dan amalkan setiap kali naik kendaraan—baik mobil, motor, atau kendaraan lainnya.
- Perbanyak istighfar dalam setiap keadaan, karena Allah menyukai hamba yang memohon ampun.
- Sadari bahwa hanya Allah yang bisa mengampuni dosa—ini adalah inti tauhid yang harus tertanam dalam hati.
- Teladani para sahabat dalam ketelitian mereka mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam hal-hal kecil sekalipun.
- Jangan putus asa dari rahmat Allah—selama kita memohon ampun, Allah menerimanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.