Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini berisi anjuran zikir dengan kalimat-kalimat agung yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Kalimat-kalimat itu menegaskan tauhid, memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia, dan mengakui keagungan-Nya sebagai Rabb langit dan 'Arsy. Para ulama menjelaskan bahwa zikir ini sarana pengampunan dosa dan peneguhan iman, meski seseorang sudah dijamin ampunan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad (no. 712), dari jalur Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Redaksi lengkapnya:
Teks hadits (Arab berharakat):
حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ إِذَا قُلْتَهُنَّ غُفِرَ لَكَ مَعَ أَنَّهُ مَغْفُورٌ لَكَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ»
Terjemahan:
"Ali berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: 'Maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang jika engkau mengucapkannya, engkau akan diampuni — meskipun engkau sudah diampuni: Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Penyabar, Yang Maha Dermawan; tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung; Maha Suci Allah, Tuhan langit yang tujuh dan Tuhan 'Arsy yang Agung; segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:
Allah berfirman:
وَذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
QS. Al-Kahf [18]: 24
"Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa."
Juga firman Allah:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
QS. Al-Baqarah [2]: 152
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, menunjukkan perhatian beliau terhadap riwayat-riwayat zikir dan doa.
- Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini dalam kitab-kitab tahqiqnya; beliau menyebutkan bahwa sanadnya memiliki kelemahan pada Ali bin Shalih, namun maknanya didukung oleh riwayat-riwayat lain tentang keutamaan zikir.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan keutamaan kalimat tauhid dan zikir secara umum, dan bahwa zikir dapat menjadi sebab pengampunan.
- Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan keutamaan kalimat "Laa ilaaha illallah" dan variasinya sebagai zikir yang sangat dianjurkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Anjuran mempelajari dan mengamalkan zikir.
Nabi ﷺ memulai dengan pertanyaan "أَلَا أُعَلِّمُكَ" (Maukah aku ajarkan kepadamu?) — ini menunjukkan kasih sayang beliau kepada para sahabat dan keinginan beliau agar mereka memperoleh kebaikan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa cara Nabi ﷺ mengajar dengan pertanyaan seperti ini adalah untuk menarik perhatian dan menumbuhkan semangat belajar.
2. Keutamaan kalimat tauhid.
Kalimat "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ" adalah kalimat paling utama. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kalimat tauhid adalah zikir yang paling afdhal, sebagaimana hadits lain: "Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallah."
3. Menyebut nama-nama Allah yang mulia.
Dalam hadits ini disebutkan:
- الْحَلِيمُ (Yang Maha Penyabar) — Allah tidak tergesa-gesa dalam memberi hukuman.
- الْكَرِيمُ (Yang Maha Dermawan) — Allah Maha Pemberi karunia.
- الْعَلِيُّ (Yang Maha Tinggi) — Allah Maha Tinggi di atas segala sesuatu.
- الْعَظِيمُ (Yang Maha Agung) — Allah Maha Besar dan Agung.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa berdoa dan berzikir dengan menyebut nama-nama Allah yang sesuai dengan kebutuhan adalah cara yang paling baik. Misalnya, memohon ampunan dengan menyebut "Al-Ghaffar" (Yang Maha Pengampun), memohon rezeki dengan "Ar-Razzaq", dan seterusnya.
4. Pengakuan keagungan Allah sebagai Rabb langit dan 'Arsy.
Kalimat "سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ" mengandung tasbih (penyucian) dan pengagungan. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa 'Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar dan agung, dan menyebut Allah sebagai Rabb 'Arsy adalah bentuk pengagungan yang sangat tinggi.
5. Pengampunan dosa.
Nabi ﷺ menyebutkan "غُفِرَ لَكَ" (engkau akan diampuni). Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menjelaskan bahwa zikir dan istighfar adalah sebab utama pengampunan dosa. Namun beliau juga menegaskan bahwa pengampunan ini berlaku bagi dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus.
6. "Meskipun engkau sudah diampuni."
Frasa "مَعَ أَنَّهُ مَغْفُورٌ لَكَ" menunjukkan bahwa meskipun seseorang sudah dijamin ampunan (seperti Ali yang dijamin masuk surga), tetap dianjurkan berzikir dan beristighfar. Ini menunjukkan bahwa zikir bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga untuk meningkatkan derajat dan mendekatkan diri kepada Allah. Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa zikir memiliki banyak manfaat, termasuk menambah iman, ketenangan hati, dan mendatangkan keberkahan.
Catatan tentang sanad:
Hadits ini diriwayatkan melalui Ali bin Shalih, yang oleh sebagian ulama hadits dinilai memiliki kelemahan. Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha'ifah menyebutkan bahwa hadits ini memiliki kelemahan, namun maknanya didukung oleh hadits-hadits shahih lain tentang keutamaan zikir dan kalimat tauhid. Karena itu, zikir ini boleh diamalkan, tetapi tidak boleh diyakini sebagai hadits yang shahih secara sanad tanpa catatan.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau sering belajar langsung dari Rasulullah ﷺ, termasuk dalam hal zikir dan doa. Suatu hari, Nabi ﷺ menawarkan kepada Ali untuk mengajarkan kalimat-kalimat yang dapat menjadi sebab pengampunan dosa. Ali pun menerima dengan penuh antusias.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Zikir adalah makanan hati. Jika hati tidak diberi makan zikir, ia akan mati." Kisah ini mengingatkan kita bahwa zikir bukan sekadar rutinitas, tetapi kebutuhan ruhani yang harus dipenuhi.
Fudhail bin 'Iyadh juga pernah menasihati: "Jika engkau ingin hatimu hidup, maka perbanyaklah zikir kepada Allah." Beliau adalah seorang ulama yang dikenal zuhud dan sangat menjaga zikirnya.
Kesimpulan Praktis
- Amalkan zikir ini — terutama kalimat tauhid dan tasbih — sebagai bagian dari dzikir harian, meskipun kita merasa sudah diampuni.
- Pahami makna kalimatnya — jangan hanya mengucapkan, tetapi resapi makna tauhid, pengagungan, dan pujian kepada Allah.
- Gunakan nama-nama Allah yang sesuai — ketika berdoa, sebutlah Allah dengan nama-Nya yang sesuai dengan kebutuhan kita.
- Jangan tinggalkan zikir — karena zikir adalah makanan hati dan sebab pengampunan dosa.
- Perhatikan sanad hadits — meskipun hadits ini memiliki kelemahan sanad, maknanya didukung oleh banyak dalil shahih lainnya. Amalkan dengan niat baik, namun jangan jadikan sebagai dalil tunggal dalam masalah akidah atau hukum.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.