Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan keutamaan besar menjenguk orang sakit (ziyarah al-maridh). Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa seorang Muslim yang menjenguk Muslim lain yang sakit akan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat sejak pagi hingga sore, dan Allah menyiapkan baginya "kharif" di Surga, yaitu saluran air yang mengairi pohon kurma. Ini menunjukkan betapa agungnya pahala menjenguk orang sakit dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (no. 702), dari jalur 'Abidah bin Humaid, dari Tsuwair bin Abi Fakhitah, dari ayahnya, dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Hadits terkait yang shahih — diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا عَادَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ إِلَّا نَادَاهُ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ، وَتَبَوَّأْتَ مَنْزِلًا فِي الْجَنَّةِ
"Tidaklah seorang Muslim menjenguk saudaranya yang Muslim (yang sakit) kecuali seorang penyeru dari langit menyerukan: 'Engkau baik, dan baik pula langkahmu, dan engkau telah menyiapkan tempat tinggal di Surga.'"
Ayat Al-Qur'an yang relevan — Allah ﷻ berfirman:
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
"Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 80)
Ayat ini menunjukkan bahwa sakit dan kesembuhan berada di tangan Allah, dan menjenguk orang sakit adalah sarana mendekatkan diri kepada-Nya serta mengingatkan akan nikmat kesehatan.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Keutamaan menjenguk orang sakit — Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa menjenguk orang sakit adalah hak seorang Muslim atas Muslim lainnya, dan termasuk amal yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah). Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai kewajiban kolektif (fardhu kifayah) jika tidak ada yang melakukannya.
- Tujuh puluh ribu malaikat bershalawat — Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para malaikat ini mendoakan orang yang menjenguk orang sakit. Ini menunjukkan betapa Allah memuliakan orang yang peduli terhadap saudaranya yang sedang sakit. Angka "tujuh puluh ribu" dalam bahasa Arab menunjukkan jumlah yang sangat banyak, bukan sekadar hitungan literal, meskipun bisa juga dipahami secara hakiki sesuai kekuasaan Allah.
- Waktu pagi hingga sore — Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa penyebutan waktu ini menunjukkan bahwa doa malaikat berlangsung sepanjang hari, dari pagi hingga petang, sebagai bentuk penghormatan dan rahmat Allah bagi orang yang menjenguk.
- "Kharif" di Surga — Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa "kharif" adalah saluran air yang mengairi pohon kurma. Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ini adalah gambaran kenikmatan Surga yang penuh keberkahan, di mana pohon-pohon kurma tumbuh subur karena air yang mengalir. Dalam bahasa Arab, "kharif" juga bisa berarti musim panen buah-buahan, yang menunjukkan bahwa orang yang menjenguk orang sakit akan menuai pahala yang melimpah.
Pemahaman ulama tentang hadits ini:
- Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, menunjukkan perhatian beliau terhadap hadits-hadits yang berkaitan dengan adab dan keutamaan amal.
- Imam an-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin memasukkan bab tentang menjenguk orang sakit sebagai salah satu bab penting dalam adab Islam.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa menjenguk orang sakit memiliki manfaat spiritual bagi yang menjenguk maupun yang dijenguk: yang menjenguk mendapat pahala, dan yang sakit mendapat hiburan serta doa.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa amal-amal sosial seperti menjenguk orang sakit adalah bagian dari ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah "tujuh puluh ribu malaikat" harus dipahami secara literal atau sebagai kiasan banyaknya. Namun, mayoritas ulama dari daftar yang disebutkan — seperti Ibnu Hajar dan an-Nawawi — cenderung memahami angka tersebut sebagai hakikat yang menunjukkan besarnya pahala, tanpa mengurangi keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang paling kuat adalah memahami sesuai zhahirnya (literal) karena tidak ada dalil yang memalingkannya, dan Allah Maha Mengetahui.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu pernah menjenguk al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhu yang sedang sakit. Ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu masuk, beliau bertanya: "Apakah engkau datang untuk menjenguknya karena sakit, atau hanya sekadar berkunjung?" Abu Musa menjawab: "Tidak, wahai Amirul Mukminin, saya datang untuk menjenguknya karena sakit."
Mendengar jawaban itu, Ali radhiyallahu 'anhu menyampaikan hadits yang beliau dengar langsung dari Rasulullah ﷺ tentang keutamaan menjenguk orang sakit. Ini menunjukkan bahwa para sahabat saling mengingatkan tentang sunnah dan keutamaan amal, serta bahwa menjenguk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, tetapi ibadah yang memiliki pahala besar di sisi Allah.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan niat dalam beramal — apakah kunjungan itu karena sakit atau hanya silaturahmi biasa — karena setiap amal dinilai berdasarkan niatnya.
Kesimpulan Praktis
- Jenguklah orang sakit — Ini adalah sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki pahala besar.
- Ikhlaslah dalam menjenguk — Niatkan untuk mencari ridha Allah, bukan sekadar kunjungan sosial.
- Doakan orang yang sakit — Karena malaikat akan mendoakan kita ketika kita menjenguk.
- Renungkan nikmat kesehatan — Menjenguk orang sakit mengingatkan kita akan nikmat sehat yang sering terlupakan.
- Ajaklah keluarga dan anak-anak — Agar mereka terbiasa dengan adab Islam dan peduli terhadap sesama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.