Penjelasan Hadits Ahmad No. 680 tentang Keutamaan Az-Zubair sebagai murid Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi dua hal penting: (1) keutamaan besar Az-Zubair bin al-'Awwam رضي الله عنه sebagai hawari (penolong setia) Nabi ﷺ, dan (2) ucapan Sayyidina 'Ali رضي الله عنه yang menyesalkan terbunuhnya Az-Zubair. Ucapan "biarkan pembunuh Az-Zubair masuk ke dalam Api" adalah bentuk celaan keras terhadap perbuatan membunuh sahabat mulia, bukan berarti 'Ali memastikan kekafiran seseorang. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai dalil keutamaan Az-Zubair dan peringatan agar tidak mencela para sahabat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

QS. Al-Fath [48]: 29

Terjemahan ringkas: "Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka... Allah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 680), dari jalur 'Ashim bin Abi an-Nujud, dari Zirr bin Hubaish, dari 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Hadits senada juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari jalur lain, dengan lafaz bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang Az-Zubair: "Sesungguhnya setiap Nabi memiliki hawari, dan hawari-ku adalah Az-Zubair." Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa ini adalah keutamaan besar bagi Az-Zubair.

Penjelasan Rinci

Makna kata "hawari": Para ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dan Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hawari berarti penolong setia, sahabat dekat yang murni pembelaannya, tanpa pamrih. Nabi ﷺ menyebut Az-Zubair sebagai hawari-nya, artinya Az-Zubair termasuk orang paling teguh membela Islam dan Rasulullah ﷺ.

Konteks ucapan 'Ali رضي الله عنه: Ketika Ibn Jurmooz (pembunuh Az-Zubair) meminta izin masuk, 'Ali mengucapkan kalimat keras. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah dan Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyebutkan bahwa 'Ali sangat menyesal dan tidak meridhai terbunuhnya Az-Zubair. Ucapan itu adalah bentuk inkar (penolakan keras) terhadap pembunuhan sahabat mulia, bukan vonis pasti bahwa Ibn Jurmooz pasti masuk neraka secara mutlak — karena vonis akhir hanya milik Allah. Ini sejalan dengan kaidah Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim bahwa ancaman dalam nash bisa bermakna tahdid (peringatan keras) dan bisa terhapus dengan taubat.

Sikap Ahlus Sunnah terhadap para sahabat: Ibn Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah dan Ibn Katsir menegaskan wajibnya menahan diri dari mencela sahabat, khususnya yang terlibat dalam fitnah di antara mereka, karena mereka adalah mujtahid; yang benar mendapat dua pahala, yang salah mendapat satu pahala dan dosanya diampuni. Peristiwa terbunuhnya Az-Zubair adalah musibah besar, dan 'Ali sendiri menyesalinya.

Keutamaan Az-Zubair: Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Az-Zubair termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dan termasuk enam orang ahli syura yang dipilih 'Umar رضي الله عنه. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fadhail ash-Shahabah menyebutkan keutamaan-keutamaan Az-Zubair, termasuk kesaksian Nabi ﷺ bahwa ia adalah hawari.

Story Telling

Dikisahkan dalam Siyar A'lam an-Nubala' karya Adz-Dzahabi dan al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir: Az-Zubair bin al-'Awwam رضي الله عنه adalah orang pertama yang menghunus pedang untuk membela Islam di Makkah. Ia selalu berada di barisan depan dalam setiap peperangan bersama Nabi ﷺ. Pada Perang Jamal, ketika pasukan 'Ali dan pasukan 'Aisyah berhadapan, Az-Zubair mengingat sabda Nabi ﷺ tentang fitnah yang akan terjadi, lalu ia memilih mundur dari pertempuran untuk menghindari pertumpahan darah sesama Muslim. Namun di tengah perjalanan, ia dibunuh secara curang oleh Ibn Jurmooz saat sedang shalat. Ketika 'Ali رضي الله عنه mendengar kabar itu, beliau sangat sedih dan mengucapkan kalimat dalam hadits ini sebagai bentuk penyesalan dan celaan terhadap perbuatan keji tersebut. Hikmahnya: betapa besar kedudukan sahabat, dan betapa berat dosa menumpahkan darah mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengakui keutamaan Az-Zubair bin al-'Awwam sebagai hawari Nabi ﷺ, sebagaimana ditegaskan dalam hadits shahih.
  2. Menahan diri dari mencela para sahabat, khususnya yang terlibat dalam fitnah di antara mereka, sesuai manhaj Ahlus Sunnah yang dijelaskan Ibn Taymiyyah dan Ibn Katsir.
  3. Memahami ucapan 'Ali sebagai bentuk penyesalan dan peringatan keras, bukan vonis mutlak terhadap seseorang.
  4. Meneladani sikap tawadhu dan penyesalan para sahabat ketika terjadi musibah di antara mereka.
  5. Berhati-hati dalam menyebarkan riwayat tentang perselisihan sahabat, dan selalu merujuk kepada penjelasan ulama yang mu'tabar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?