Penjelasan Hadits Ahmad No. 670 tentang Kesaksian dua belas sahabat tentang peristiwa Ghadir Khumm

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu riwayat tentang peristiwa Ghadiir Khum. Namun perlu dipahami dengan benar: hadits ini tidak menyebutkan lafadz perkataan Nabi ﷺ yang diminta oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, hanya menyebutkan bahwa ada dua belas orang sahabat ahli Badr yang bersaksi. Riwayat ini tidak bisa dijadikan dalil untuk klaim-klaim tertentu yang bertentangan dengan pemahaman Ahlus Sunnah. Kita wajib mengimani keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagai salah satu khulafaur rasyidin, namun tidak boleh melampaui batas (ghuluw) sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kelompok.

Rujukan Ulama & Dalil

Teks Hadits (sebagaimana yang Anda berikan):

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ يَعْنِي ابْنَ أَبِي صَالِحٍ الْأَسْلَمِيَّ، حَدَّثَنِي زِيَادُ بْنُ أَبِي زِيَادٍ، سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَنْشُدُ النَّاسَ فَقَالَ أَنْشُدُ اللَّهَ رَجُلًا مُسْلِمًا سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَوْمَ غَدِيرِ خُمٍّ مَا قَالَ فَقَامَ اثْنَا عَشَرَ بَدْرِيًّا فَشَهِدُوا

Catatan Penting: Dalam riwayat ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tidak menyebutkan secara langsung isi perkataan Nabi ﷺ. Beliau hanya bertanya kepada orang-orang, lalu dua belas orang sahabat ahli Badr berdiri dan bersaksi.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. An-Nisa' [4]: 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat dalam sesuatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya)."

Ayat ini menunjukkan kewajiban taat kepada pemimpin yang sah, dan ini adalah prinsip Ahlus Sunnah dalam memahami kedudukan para khalifah.

Hadits terkait dari Shahih:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي"

"Barangsiapa menaatiku maka sungguh ia telah menaati Allah, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku maka sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah. Barangsiapa menaati pemimpin (amir) maka sungguh ia telah menaatiku, dan barangsiapa bermaksiat kepada pemimpin maka sungguh ia telah bermaksiat kepadaku." (HR. Al-Bukhari no. 2957, Muslim no. 1835)

Kaitan dengan ulama:

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rahimahullah dalam kitabnya Minhajus Sunnah menjelaskan bahwa riwayat-riwayat tentang Ghadiir Khum tidak menunjukkan apa yang diklaim oleh sebagian kelompok, karena:

  1. Peristiwa itu terjadi di akhir hayat Nabi ﷺ, dan tidak ada perintah untuk mengangkat pengganti secara eksplisit.
  2. Para sahabat sepakat bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq adalah khalifah pertama, dan Ali sendiri berbaiat kepada beliau.
  3. Hadits-hadits tentang keutamaan Ali tidak bertentangan dengan keutamaan Abu Bakar dan Umar.

Penjelasan Rinci

Pertama: Konteks Peristiwa Ghadiir Khum

Peristiwa Ghadiir Khum terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun 10 H, saat Rasulullah ﷺ kembali dari Haji Wada'. Di tempat bernama Ghadiir Khum, beliau berhenti dan menyampaikan khutbah. Dalam khutbah tersebut, beliau bersabda:

"مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ"

"Barangsiapa yang aku menjadi maulanya, maka Ali adalah maulanya." (HR. At-Tirmidzi no. 3713, dan beliau berkata: hadits hasan shahih)

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa makna "mawla" di sini adalah kecintaan dan pertolongan, bukan kekhalifahan. Ini ditegaskan oleh:

  • Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (bab keutamaan Ali) meriwayatkan hadits ini tanpa menyebutkan klaim kekhalifahan.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini tidak menunjukkan pengangkatan Ali sebagai khalifah, karena jika demikian, maka Ali tidak akan berbaiat kepada Abu Bakar.
  • Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Minhajus Sunnah (7/319) menjelaskan panjang lebar bahwa hadits Ghadiir Khum tidak bisa dijadikan dalil untuk imamah (kepemimpinan) Ali secara langsung.

Kedua: Analisis Sanad Riwayat Ini

Riwayat yang Anda sebutkan dari Musnad Ahmad ini memiliki sanad yang perlu diperhatikan:

  • Ziyad bin Abi Ziyad: ada perbedaan pendapat tentang statusnya, sebagian ulama hadits menganggapnya majhul (tidak dikenal) atau layyin (lemah hafalannya).
  • Ar-Rabi' bin Abi Shalih al-Aslami: juga dinilai layyin oleh sebagian ulama hadits.

Oleh karena itu, riwayat ini tidak mencapai derajat shahih menurut kriteria Imam Al-Bukhari dan Muslim. Namun, makna dasarnya (bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang keutamaan Ali di Ghadiir Khum) adalah shahih karena diriwayatkan melalui jalur lain yang shahih.

Ketiga: Sikap Ahlus Sunnah terhadap Peristiwa Ini

Ahlus Sunnah wal Jama'ah:

  1. Mengimani bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah satu dari khulafaur rasyidin yang empat, dan beliau adalah khalifah keempat yang sah.
  2. Mencintai Ali dan seluruh sahabat Nabi ﷺ tanpa ghuluw (berlebihan) dan tanpa mencela.
  3. Menolak klaim bahwa Nabi ﷺ menunjuk Ali sebagai pengganti secara eksplisit, karena hal ini bertentangan dengan ijma' (kesepakatan) para sahabat yang memilih Abu Bakar sebagai khalifah pertama.
  4. Memahami bahwa peristiwa Ghadiir Khum adalah penegasan kecintaan Nabi ﷺ kepada Ali, bukan pengangkatan politik.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata tentang para sahabat: "Mereka adalah orang-orang yang paling utama setelah Nabi ﷺ, dan yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali." (Disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam Al-I'tiqad)

Story Telling

Dikisahkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menjadi khalifah, beliau pernah ditanya tentang kedudukan Abu Bakar dan Umar. Beliau menjawab: "Mereka berdua adalah pemimpin penduduk surga setelah para nabi." Kemudian beliau naik ke mimbar dan berkata: "Sebaik-baik manusia setelah Nabi ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar." (HR. Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah, dan sanadnya shahih)

Ini menunjukkan bahwa Ali sendiri tidak pernah mengklaim bahwa beliau lebih utama dari Abu Bakar dan Umar, dan tidak pernah menyebut bahwa Nabi ﷺ menunjuknya sebagai pengganti. Maka bagaimana mungkin ada orang yang mengaku mencintai Ali tetapi menuduh beliau didholimi oleh para sahabat? Ini adalah kebohongan besar atas nama Ali.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: "Tidak ada seorang pun dari para sahabat yang dicela karena kekurangan, tetapi mereka yang mencela sahabat berarti telah keluar dari jalan Ahlus Sunnah." (Disebutkan oleh Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah)

Kesimpulan Praktis

  1. Cintai Ali bin Abi Thalib sebagaimana kita mencintai seluruh sahabat Nabi ﷺ, tanpa ghuluw dan tanpa merendahkan.
  2. Pahami hadits Ghadiir Khum sesuai pemahaman ulama Ahlus Sunnah, yaitu sebagai penegasan kecintaan dan keutamaan Ali, bukan pengangkatan kekhalifahan.
  3. Jangan mudah terprovokasi oleh riwayat-riwayat yang sanadnya lemah atau dipahami secara keliru oleh kelompok tertentu.
  4. Rujuklah penjelasan ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Minhajus Sunnah dan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari untuk memahami masalah ini secara ilmiah.
  5. Jaga lisan dan hati dari mencela sahabat, karena Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku..." (HR. Al-Bukhari no. 3673, Muslim no. 2540)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?