Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki shalat sunnah (nafl) di siang hari yang jumlahnya cukup banyak, yaitu enam belas rakaat, yang beliau kerjakan pada waktu-waktu tertentu setelah Fajar hingga sebelum Ashar. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menyampaikan bahwa sedikit sekali orang yang mampu menjaga rutinitas shalat tersebut, namun beliau tetap menganjurkan untuk mengambil sebatas kemampuan. Hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap shalat sunnah dan pentingnya menjaga shalat sunnah rawatib serta shalat-shalat sunnah lainnya di siang hari.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (no. 650), dari jalur Waki' bin al-Jarrah, dari Sufyan (ats-Tsauri), Israil, dan ayahnya (al-Jarrah bin Malih), dari Abu Ishaq (Amr bin Abdullah as-Sabi'i), dari Ashim bin Damrah, dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan shalat sunnah dan menjaga waktu-waktu shalat, di antaranya:
QS. Al-Isra' [17]: 78
وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
"Dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik."
QS. Al-Baqarah [2]: 238
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
"Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk."
Hadits-hadits terkait yang menjelaskan shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah di siang hari, di antaranya:
- Hadits dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda:
"Shalat sunnah rawatib itu sepuluh rakaat: dua rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat setelah Zhuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
- Hadits dari Ummu Habibah رضي الله عنها, Nabi ﷺ bersabda:
"Barangsiapa shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam (shalat sunnah rawatib), maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga." (Diriwayatkan oleh Muslim)
- Hadits dari Abdullah bin as-Sa'ib رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ shalat empat rakaat setelah matahari tergelincir sebelum Zhuhur, dan bersabda: "Ini adalah waktu di mana pintu-pintu langit dibuka, dan aku ingin amal shalihku naik pada waktu itu." (Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi)
Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya memasukkan hadits ini sebagai bagian dari penjelasan tentang shalat sunnah Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa shalat sunnah rawatib yang muakkadah (ditekankan) ada dua belas rakaat, sedangkan shalat sunnah ghairu muakkadah lebih banyak lagi. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki shalat sunnah yang beliau jaga secara rutin, dan sebagian shalat sunnah beliau kerjakan di rumah sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa poin penting yang perlu dipahami dengan baik:
Pertama: Kehati-hatian Ali bin Abi Thalib dalam menyampaikan ilmu.
Ketika Ashim bin Damrah bertanya kepada Ali رضي الله عنه tentang shalat sunnah Nabi ﷺ di siang hari, Ali menjawab: "Kalian tidak akan mampu untuk itu." Ini menunjukkan bahwa Ali رضي الله عنه khawatir jika beliau menyampaikan seluruh amalan Nabi ﷺ, maka orang-orang akan merasa berat dan meninggalkannya. Ini adalah metode pendidikan yang penuh hikmah, sebagaimana Nabi ﷺ sendiri pernah bersabda: "Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang memaksakan diri dalam agama ini melainkan ia akan dikalahkan." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari)
Kedua: Anjuran untuk mengambil ilmu sesuai kemampuan.
Ketika para sahabat berkata: "Beritahu kami dan kami akan melakukan semampu kami," Ali رضي الله عنه kemudian menyampaikan rincian shalat sunnah Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa seorang Muslim dianjurkan untuk bertanya tentang amalan-amalan sunnah dan berusaha mengamalkannya sesuai kemampuan, tidak perlu memaksakan diri di luar batas.
Ketiga: Rincian waktu dan jumlah rakaat shalat sunnah Nabi ﷺ di siang hari.
Ali رضي الله عنه menjelaskan bahwa Nabi ﷺ:
- Setelah shalat Fajar, menunggu hingga matahari terbit setinggi posisi matahari pada waktu Ashar (dari arah timur), kemudian shalat dua rakaat.
- Kemudian menunggu lagi hingga matahari terbit setinggi posisi matahari pada waktu Zhuhur, kemudian shalat empat rakaat.
- Kemudian shalat empat rakaat sebelum Zhuhur ketika matahari telah tergelincir (zawal).
- Kemudian shalat dua rakaat setelah Zhuhur.
- Kemudian shalat empat rakaat sebelum Ashar.
Totalnya adalah enam belas rakaat shalat sunnah di siang hari.
Keempat: Memisahkan setiap dua rakaat dengan salam.
Nabi ﷺ memisahkan setiap dua rakaat dengan salam, dan beliau mengucapkan salam kepada para malaikat yang dekat dengan Allah, para Nabi, para mukmin, dan para Muslim yang mengikuti mereka. Ini menunjukkan bahwa salam dalam shalat bukan hanya sekadar penutup, tetapi juga doa dan penghormatan kepada makhluk-makhluk Allah yang shalih.
Kelima: Sedikitnya orang yang menjaga rutinitas shalat sunnah ini.
Ali رضي الله عنه berkata: "Itu adalah enam belas rakaat yang ditawarkan Nabi ﷺ sebagai shalat nafl di siang hari, tetapi sangat sedikit yang melakukannya secara rutin." Ini menunjukkan bahwa amalan ini termasuk amalan yang berat untuk dijaga, namun memiliki keutamaan yang besar.
Keenam: Komentar Habib bin Abi Tsabit.
Habib bin Abi Tsabit berkata kepada Abu Ishaq: "Wahai Abu Ishaq, haditsmu ini sebanding dengan masjid ini yang penuh dengan emas." Ini adalah ungkapan kekaguman terhadap betapa berharganya hadits ini, karena mengandung ilmu yang sangat bermanfaat tentang shalat sunnah Nabi ﷺ.
Perbedaan pendapat di kalangan ulama:
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah rakaat shalat sunnah rawatib yang muakkadah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa shalat sunnah rawatib yang muakkadah ada dua belas rakaat berdasarkan hadits Ummu Habibah. Adapun shalat sunnah ghairu muakkadah lebih banyak lagi, termasuk yang disebutkan dalam hadits Ali ini. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits Ali ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memiliki shalat sunnah yang beliau kerjakan secara rutin di siang hari, dan sebagian ulama memahami bahwa shalat sunnah tersebut termasuk shalat sunnah ghairu muakkadah yang tidak selalu beliau kerjakan.
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa shalat sunnah rawatib yang muakkadah ada dua belas rakaat, sedangkan shalat sunnah lainnya seperti yang disebutkan dalam hadits Ali ini termasuk shalat sunnah ghairu muakkadah yang dianjurkan untuk dikerjakan sesuai kemampuan. Ini sejalan dengan prinsip bahwa agama ini mudah dan tidak memberatkan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar رضي الله عنهما, seorang sahabat yang sangat tekun dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, memiliki kebiasaan shalat sunnah yang banyak. Suatu ketika, seseorang bertanya kepadanya tentang shalat sunnah Nabi ﷺ, dan beliau menjelaskan dengan sangat detail. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa yang terpenting adalah istiqamah (konsisten) dalam mengerjakan amalan, meskipun sedikit. Nabi ﷺ pernah bersabda:
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam beribadah, yang terpenting bukanlah banyaknya amalan, tetapi konsistensi dan keikhlasan dalam mengerjakannya. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه sendiri adalah salah satu sahabat yang paling tekun dalam beribadah, namun beliau tetap mengingatkan bahwa tidak semua orang mampu mengikuti seluruh amalan sunnah Nabi ﷺ, sehingga hendaknya setiap orang mengambil amalan sesuai kemampuannya.
Kesimpulan Praktis
- Shalat sunnah di siang hari memiliki keutamaan yang besar. Nabi ﷺ memiliki shalat sunnah yang beliau kerjakan secara rutin, dan ini menunjukkan betapa pentingnya shalat sunnah dalam kehidupan seorang Muslim.
- Kerjakan shalat sunnah sesuai kemampuan. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mengingatkan bahwa tidak semua orang mampu mengerjakan seluruh shalat sunnah Nabi ﷺ, namun hendaknya setiap orang berusaha mengerjakan sebatas kemampuannya.
- Jaga shalat sunnah rawatib yang muakkadah. Shalat sunnah rawatib yang muakkadah ada dua belas rakaat, dan ini adalah amalan yang sangat dianjurkan untuk dijaga secara rutin.
- Perbanyak shalat sunnah di siang hari. Meskipun tidak semua orang mampu mengerjakan enam belas rakaat seperti yang disebutkan dalam hadits ini, hendaknya seorang Muslim berusaha memperbanyak shalat sunnah di siang hari, terutama sebelum dan sesudah Zhuhur serta sebelum Ashar.
- Istiqamah dalam beribadah. Yang terpenting dalam beribadah adalah konsistensi, meskipun amalan yang dikerjakan sedikit. Nabi ﷺ bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.
- Bersikap lembut dalam menyampaikan ilmu. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه memberikan contoh bagaimana menyampaikan ilmu dengan penuh hikmah, tidak memberatkan, dan memperhatikan kemampuan orang yang bertanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.