Ringkasan Jawaban Singkat
Riwayat ini bukanlah sabda Nabi ﷺ, melainkan perkataan seorang tabi'in bernama Abu al-'Aliyah (seorang tabi'in yang masyhur, wafat sekitar 90-an H) yang menceritakan bahwa ia dan kawan-kawannya pernah berjaga di pintu rumah Khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Riwayat ini termasuk atsar (perkataan/pengalaman tabi'in), bukan hadits marfu' kepada Nabi ﷺ. Karena itu, ia tidak bisa dijadikan dalil langsung untuk hukum ibadah, tetapi bisa diambil sebagai pelajaran tentang keadaan salaf, keutamaan menjaga amanah, dan suasana ibadah pada sepuluh hari Dzulhijjah.
Rujukan Ulama & Dalil
Karena ini atsar (bukan hadits marfu'), maka yang lebih tepat kita sandarkan adalah kepada kaidah umum dari Al-Qur'an dan hadits shahih tentang keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah, serta penjelasan ulama daftar.
Dalil Al-Qur'an tentang keutamaan hari-hari tertentu (termasuk sepuluh Dzulhijjah):
QS. Al-Fajr [89]: 1–2
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Terjemahan: "Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh."
Dalil hadits shahih tentang keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah:
Hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
Terjemahan: "Tidak ada hari-hari yang amal shalih di dalamnya lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari ini (sepuluh Dzulhijjah)." (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi; dishahihkan oleh Al-Albani)
Kaitan dengan ulama daftar:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud "sepuluh hari" dalam QS. Al-Fajr adalah sepuluh hari Dzulhijjah menurut jumhur ulama tafsir.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sepuluh malam itu adalah sepuluh malam Dzulhijjah.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif membahas panjang keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah dan amal-amal yang dianjurkan padanya.
Penjelasan Rinci
Pertama: Kedudukan riwayat ini.
Riwayat dalam Musnad Ahmad no. 548 ini sanadnya berhenti pada Abu al-'Aliyah (bukan sahabat, melainkan tabi'in). Karena itu, ini disebut atsar atau maqthu', bukan marfu' kepada Nabi ﷺ. Para ulama hadits seperti Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi membedakan dengan tegas antara hadits marfu' (disandarkan kepada Nabi ﷺ) dan atsar (perkataan tabi'in). Maka tidak boleh kita klaim sebagai sabda Nabi ﷺ.
Kedua: Siapa Abu al-'Aliyah?
Abu al-'Aliyah adalah seorang tabi'in terpercaya, dikenal sebagai ahli qira'at dan periwayat hadits. Ia hidup pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه. Ini menunjukkan bahwa peristiwa dalam riwayat ini terjadi pada masa awal Islam, di kota Madinah.
Ketiga: Makna "menjaga pintu Utsman".
Ungkapan "kami berada di pintu Utsman" menunjukkan bahwa Abu al-'Aliyah dan kawan-kawannya sedang berjaga atau menunggu di depan rumah Khalifah Utsman. Ini bisa bermakna:
- Menjaga keamanan khalifah, karena pada masa itu muncul gejolak politik.
- Menunggu keperluan atau menanti keluarnya khalifah untuk urusan tertentu.
- Berkumpul untuk urusan ilmu atau ibadah di dekat rumah khalifah.
Keempat: Kaitan dengan sepuluh hari Dzulhijjah.
Penyebutan "عَشْرِ الْأَضْحَى" (sepuluh hari penyembelihan kurban) menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 1–10 Dzulhijjah. Ini mengisyaratkan bahwa para salaf memperhatikan waktu-waktu mulia, dan aktivitas mereka pada hari-hari itu tetap dalam bingkai ketaatan dan pelayanan kepada kaum muslimin.
Kelima: Bagaimana ulama daftar memahami hal ini?
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menekankan bahwa sepuluh hari Dzulhijjah adalah waktu terbaik untuk memperbanyak amal: puasa (khususnya hari Arafah bagi yang tidak berhaji), takbir, tahmid, tahlil, sedekah, dan kurban.
- Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memperbanyak amal shalih pada sepuluh hari ini, terutama takbir, tahmid, dan tahlil.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menyebutkan bahwa "layali 'asyr" (malam yang sepuluh) adalah sepuluh malam Dzulhijjah, dan Allah bersumpah dengannya karena keagungannya.
Keenam: Catatan penting.
Riwayat ini tidak mengandung hukum fiqih tertentu. Ia hanya menggambarkan keadaan sosial dan ibadah pada masa Utsman رضي الله عنه. Maka tidak tepat menjadikannya dalil untuk amalan tertentu seperti "wajib berjaga di pintu pemimpin pada sepuluh Dzulhijjah" atau semisalnya. Yang bisa diambil adalah pelajaran tentang semangat salaf dalam melayani dan menjaga urusan kaum muslimin, terutama pada waktu-waktu mulia.
Story Telling
Diceritakan bahwa pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan رضي الله عنه, kota Madinah mengalami gejolak. Sebagian kaum muslimin merasa perlu menjaga keamanan khalifah. Di antara mereka ada Abu al-'Aliyah, seorang tabi'in yang dikenal zuhud dan ahli ibadah.
Suatu hari, ketika sepuluh hari pertama Dzulhijjah tiba — hari-hari yang Allah ﷻ muliakan dengan sumpah-Nya dalam QS. Al-Fajr — Abu al-'Aliyah dan kawan-kawannya berdiri di depan pintu rumah Utsman. Mereka tidak hanya berjaga, tetapi juga memanfaatkan waktu mulia itu untuk berdzikir, bertakbir, dan menjaga lisan.
Utsman رضي الله عنه, yang dikenal sebagai khalifah yang sangat pemalu dan dermawan, keluar menemui mereka. Ia melihat para penjaga itu tidak sibuk dengan dunia, tetapi sibuk dengan amal. Maka beliau pun mendoakan mereka. Inilah gambaran salaf: ketika waktu mulia datang, mereka isi dengan ketaatan, bukan dengan kelalaian.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif mengomentari bahwa para salaf sangat menjaga waktu-waktu mulia seperti sepuluh Dzulhijjah, dan mereka mengisi hari-harinya dengan takbir, tahmid, tahlil, serta amal shalih lainnya. Kisah Abu al-'Aliyah ini menjadi bukti bahwa mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.
Kesimpulan Praktis
- Pahami kedudukan riwayat ini: Ini atsar tabi'in, bukan hadits Nabi ﷺ. Jangan mengklaim sebagai sabda Nabi ﷺ.
- Manfaatkan sepuluh hari Dzulhijjah: Perbanyak takbir, tahmid, tahlil, puasa (khususnya hari Arafah bagi yang tidak berhaji), sedekah, dan amal shalih lainnya.
- Teladani semangat salaf: Mereka menjaga waktu mulia dengan ibadah dan melayani kaum muslimin, bukan dengan kelalaian.
- Jaga adab terhadap pemimpin: Jika ada kebutuhan untuk membantu atau menjaga urusan kaum muslimin, lakukan dengan niat ibadah dan cara yang benar.
- Rujuk ulama terpercaya: Untuk amalan spesifik pada sepuluh Dzulhijjah, rujuk penjelasan Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar, dan As-Sa'di dalam kitab-kitab mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.