Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 500 tentang Keutamaan belajar dan mengajarkan Al-Qur'an

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat agung dari Nabi ﷺ. Beliau menyebut bahwa manusia yang paling utama dan paling baik di antara kita adalah mereka yang mempelajari Al-Qur'an dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Ini menggabungkan antara memperbaiki diri dengan ilmu dan memberikan manfaat kepada orang lain dengan mengajarkannya. Kedudukan ini sangat tinggi di sisi Allah ﷻ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang mulia ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sahabat mulia Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Lafazh yang Anda sebutkan adalah gabungan dari riwayat Sufyan ats-Tsauri dan Syu'bah—semoga Allah merahmati keduanya—di mana salah satunya menggunakan lafazh "أَفْضَلُكُمْ" (paling utamanya kalian) dan yang lain "خَيْرُكُمْ" (sebaik-baik kalian). Keduanya bermakna sama.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5027) dari sahabat yang sama, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, dengan lafazh:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."

Adapun dalil dari Al-Qur'an yang senada dengan keutamaan ini, Allah ﷻ berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS. Fathir [35]: 32)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang-orang yang "lebih dahulu berbuat kebaikan" adalah mereka yang mengajarkan Al-Qur'an dan mengamalkannya, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat dari para salaf.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan yang sangat kuat untuk dua hal sekaligus:

Pertama: Belajar Al-Qur'an (تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ)

Belajar Al-Qur'an di sini mencakup belajar lafazhnya (tajwid dan bacaannya) serta belajar maknanya (tafsir dan pemahamannya). Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan belajar Al-Qur'an adalah menghafalnya, memahaminya, dan merenungkan maknanya. Beliau juga menukil perkataan para ulama bahwa menghafal Al-Qur'an adalah amalan yang sangat mulia, dan memahaminya lebih utama lagi karena tujuan utama Al-Qur'an diturunkan adalah untuk dipahami dan diamalkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa belajar Al-Qur'an tidak hanya sebatas menghafal teksnya, tetapi yang terpenting adalah memahami maknanya, karena Al-Qur'an adalah petunjuk. Beliau berkata, "Menghafal Al-Qur'an tanpa memahami maknanya seperti menyimpan obat tanpa mengetahui cara memakainya."

Kedua: Mengajarkan Al-Qur'an (عَلَّمَهُ)

Mengajarkan Al-Qur'an mencakup mengajarkan bacaannya, tajwidnya, tafsirnya, dan juga mengajak orang lain untuk mengamalkannya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa mengajarkan Al-Qur'an adalah termasuk amar ma'ruf yang paling utama, karena Al-Qur'an adalah sumber segala kebaikan.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menggabungkan antara belajar dan mengajar. Beliau juga menukil perkataan Al-Khathabi bahwa "belajar" dalam hadits ini mencakup belajar lafazh dan makna, dan "mengajar" mencakup mengajarkan keduanya juga.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menegaskan bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan bahwa kedudukan seorang guru Al-Qur'an sangat tinggi, bahkan lebih utama dari sekadar orang yang rajin beribadah namun tidak memberikan manfaat ilmunya kepada orang lain.

Perbedaan Lafazh "Afdlakum" dan "Khairukum"

Dalam riwayat yang Anda sebutkan, ada dua lafazh: "أَفْضَلُكُمْ" (paling utamanya kalian) dari Sufyan ats-Tsauri dan "خَيْرُكُمْ" (sebaik-baik kalian) dari Syu'bah. Kedua lafazh ini memiliki makna yang sama, yaitu menunjukkan keutamaan yang paling tinggi. Imam Al-Bukhari memilih lafazh "خَيْرُكُمْ" dalam Shahih-nya, dan ini yang lebih masyhur.

Apakah Hadits Ini Berarti Hanya Guru Al-Qur'an yang Paling Baik?

Tidak. Para ulama menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa di antara amalan-amalan kebaikan, belajar dan mengajarkan Al-Qur'an adalah amalan yang paling utama. Ini tidak menafikan keutamaan amalan-amalan lain seperti shalat, puasa, dan lainnya. Namun, Al-Qur'an adalah sumber dari semua ilmu, sehingga orang yang mempelajari dan mengajarkannya memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan dalam hadits ini antara kesempurnaan diri sendiri (dengan belajar) dan kesempurnaan orang lain (dengan mengajar), dan ini adalah puncak dari kebaikan.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, yaitu Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Beliau adalah seorang yang sangat fasih membaca Al-Qur'an dan sangat memahami maknanya. Suatu hari, beliau ditanya tentang rahasia ketenangan hatinya. Beliau menjawab, "Aku selalu membaca Al-Qur'an dan merenungkan maknanya. Setiap kali aku menemukan ayat tentang surga, aku merindukannya. Setiap kali aku menemukan ayat tentang neraka, aku takut kepadanya. Setiap kali aku menemukan ayat tentang sifat Allah, aku kagum kepada-Nya."

Al-Hasan Al-Bashri juga dikenal sebagai ulama yang sangat dermawan dalam mengajarkan ilmunya. Beliau tidak pernah bosan mengulang-ulang pelajaran untuk murid-muridnya. Suatu ketika, seorang pemuda datang dan bertanya tentang satu ayat. Al-Hasan menjelaskannya dengan panjang lebar. Pemuda itu bertanya lagi tentang ayat yang sama dengan cara yang berbeda. Al-Hasan tersenyum dan menjelaskannya lagi dengan sabar. Murid-muridnya heran dan bertanya, "Wahai Abu Sa'id, mengapa engkau begitu sabar terhadap pemuda itu?" Al-Hasan menjawab, "Karena aku ingat sabda Nabi ﷺ: 'Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.' Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang disebut dalam hadits ini."

Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat bersemangat untuk menjadi bagian dari hadits ini, baik dalam belajar maupun mengajar.

Kesimpulan Praktis

  1. Niatkan untuk belajar Al-Qur'an setiap hari, meskipun hanya beberapa ayat. Pelajari bacaannya dengan benar dan pahami maknanya.
  2. Jangan berhenti setelah belajar — ajarkan apa yang Anda ketahui kepada orang lain, sekecil apa pun ilmunya. Mengajarkan satu ayat kepada anak, saudara, atau teman adalah bagian dari hadits ini.
  3. Gabungkan antara memperbaiki diri dan bermanfaat bagi orang lain — inilah ciri orang yang paling baik menurut Nabi ﷺ.
  4. Jangan merasa cukup dengan hafalan saja — pelajari tafsir dan pemahaman para ulama agar Anda bisa mengajarkan Al-Qur'an dengan benar.
  5. Jadikan Al-Qur'an sebagai teman hidup — baca, pahami, amalkan, dan ajarkan. Dengan begitu, Anda akan termasuk dalam golongan yang disebut Nabi ﷺ sebagai sebaik-baik manusia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.