Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits/atsar ini bukanlah sabda Nabi ﷺ, melainkan perkataan Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) yang menjelaskan makna firman Allah dalam QS. Al-An'am [6]: 83, yaitu bahwa Allah mengangkat derajat seseorang dengan sebab ilmu. Imam Malik mengambil penjelasan ini dari Zaid bin Aslam (seorang tabi'in). Pelajarannya: ilmu agama adalah sebab kemuliaan dan terangkatnya derajat seorang hamba di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an — QS. Al-An'am [6]: 83
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ
Terjemahan ringkas: "Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui."
Atsar ini (Musnad Ahmad no. 449, Musnad Utsman bin Affan)
Teks yang Anda bawakan adalah riwayat dari Ubaid bin Abi Qurrah, ia mendengar Imam Malik bin Anas menafsirkan potongan ayat "نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ" dengan makna: dengan ilmu. Imam Malik lalu menyebut bahwa penafsiran ini berasal dari Zaid bin Aslam (tabi'in, wafat sekitar 136 H).
Kaitan dengan ulama dalam daftar:
- Imam Malik bin Anas — penyampai penafsiran ini, sebagaimana dinukil dalam Musnad Ahmad.
- Zaid bin Aslam — tabi'in yang menjadi sumber penafsiran tersebut (beliau termasuk generasi tabi'in, sejalan dengan rujukan generasi awal dalam daftar).
- Imam Ahmad bin Hanbal — meriwayatkan atsar ini dalam Musnad-nya.
- Ibnu Katsir dan As-Sa'di — keduanya menegaskan dalam tafsirnya bahwa Allah mengangkat derajat hamba-Nya karena ilmu dan iman, sebagaimana firman Allah: يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Penjelasan Rinci
Pertama: kedudukan atsar ini.
Perlu ditegaskan sejak awal bahwa ini bukan hadits marfu' (sabda Nabi ﷺ), melainkan atsar — perkataan seorang ulama besar, yaitu Imam Malik. Dalam Musnad Ahmad, riwayat semacam ini dikumpulkan karena mengandung faedah ilmu, bukan karena dianggap sabda Nabi. Maka kita tidak menyandarkannya kepada Nabi ﷺ.
Kedua: makna penafsiran Imam Malik.
Allah berfirman "نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ" — "Kami angkat derajat siapa yang Kami kehendaki." Imam Malik menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah pengangkatan derajat dengan sebab ilmu. Artinya, salah satu sebab utama seseorang diangkat derajatnya oleh Allah adalah ilmu — khususnya ilmu agama yang membuahkan iman dan amal.
Ketiga: bagaimana ulama daftar memahami hal ini.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang beriman yang berilmu di atas orang beriman yang tidak berilmu, dan ini ditegaskan pula oleh QS. Al-Mujadilah [58]: 11.
- As-Sa'di menegaskan bahwa kemuliaan hakiki adalah kemuliaan ilmu dan iman, bukan kemuliaan harta dan kedudukan dunia.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya (seperti Miftah Dar as-Sa'adah) menegaskan bahwa ilmu adalah kehidupan hati dan cahaya mata, dan dengannya seorang hamba naik ke derajat yang tinggi.
- Imam Ahmad bin Hanbal sendiri dikenal sangat memuliakan ilmu; beliau meriwayatkan atsar ini sebagai penguat prinsip tersebut.
Keempat: apakah ada perbedaan pendapat?
Tidak ada perbedaan di antara ulama daftar dalam pokok makna ini. Yang perlu diperhatikan hanyalah kualitas sanad atsar — sebagian riwayat dalam Musnad Ahmad tidak semuanya shahih, dan penilaian sanad adalah urusan ahli hadits seperti Imam Ahmad, Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma'in, Al-Bukhari, dan Abu Hatim ar-Razi. Namun makna yang dikandungnya sejalan dengan ayat-ayat lain yang shahih, sehingga faedahnya tetap bisa diambil.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas adalah imam Darul Hijrah (Madinah) yang sangat dihormati. Beliau tidak sembarangan berfatwa dan sangat berhati-hati dalam menukil ilmu. Ketika beliau menafsirkan ayat ini, beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu, tetapi menyandarkannya kepada Zaid bin Aslam, seorang tabi'in yang dikenal sebagai ahli tafsir di Madinah. Ini mengajarkan kepada kita adab dalam menukil ilmu: seorang ulama besar pun menyebut sumbernya, tidak mengklaim pendapat itu dari dirinya sendiri.
Imam Ahmad bin Hanbal pun dikenal sebagai imam yang menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu hadits. Beliau memahami betul bahwa derajat seorang hamba terangkat dengan ilmu — bukan dengan banyaknya harta atau pengikut.
Kesimpulan Praktis
- Ilmu agama adalah sebab terangkatnya derajat di sisi Allah, sebagaimana penafsiran Imam Malik atas QS. Al-An'am [6]: 83.
- Iman dan ilmu berjalan bersama — ilmu tanpa iman bisa menyesatkan, iman tanpa ilmu bisa keliru dalam beramal.
- Adab menukil ilmu: sebutkan sumbernya, jangan mengklaim pendapat orang lain sebagai milik sendiri, sebagaimana dicontohkan Imam Malik.
- Perbanyak belajar Al-Qur'an, sunnah, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah — inilah jalan kemuliaan yang sejati.
- Jangan tertipu kemuliaan dunia — kemuliaan hakiki ada pada ilmu dan amal, bukan pada harta dan jabatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.