Penjelasan Hadits Ahmad No. 36 tentang Anjuran membaca Al-Qur'an seperti bacaan Ibnu Mas'ud

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan keutamaan membaca Al-Qur'an dengan cara yang paling segar dan murni, yaitu sesuai dengan bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Mas'ud (Ibn Umm 'Abd). Nabi ﷺ memuji bacaan beliau sebagai bacaan yang masih "ghadhdhan" (segar/murni) sebagaimana Al-Qur'an diturunkan. Ini menunjukkan keutamaan Abdullah bin Mas'ud dan keutamaan membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang shahih sesuai talaqqi dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari jalur Yahya bin Adam, dari Abu Bakr bin 'Ayyasy, dari 'Ashim, dari Zirr, dari Abdullah (yaitu Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu). Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma menyampaikan kabar gembira ini kepada Abdullah bin Mas'ud.

Teks hadits:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Terjemahan: "Siapa yang ingin membaca Al-Qur'an dengan segar (murni) sebagaimana ia diturunkan, maka hendaklah ia membacanya dengan bacaan Ibn Umm 'Abd (Abdullah bin Mas'ud)."

Dalam riwayat kedua dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ menyebut "غَضًّا أَوْ رَطْبًا" (segar atau basah), yang maknanya sama: masih murni dan belum berubah.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan selainnya, dan dinilai shahih oleh para ulama seperti Syeikh al-Albani dalam kitab-kitab tahqiqnya.

Adapun ayat yang berkaitan dengan keutamaan membaca Al-Qur'an dengan tartil dan sebagaimana diturunkan:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

QS. Al-Muzzammil [73]: 4

Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan beberapa faedah penting:

Pertama: Keutamaan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Nabi ﷺ secara khusus memuji bacaan beliau dan menganjurkan umat untuk membaca Al-Qur'an dengan bacaan beliau. Ini menunjukkan bahwa Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling kuat dan paling shahih dalam bacaan Al-Qur'an. Beliau adalah sahabat yang pertama kali mengeraskan bacaan Al-Qur'an di Makkah, dan Nabi ﷺ pernah memerintahkan para sahabat untuk mengambil Al-Qur'an dari empat orang, salah satunya Abdullah bin Mas'ud (sebagaimana dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kedua: Makna "ghadhdhan" (غَضًّا).

Para ulama menjelaskan bahwa makna "ghadhdhan" adalah "segar", "murni", "belum layu", atau "belum berubah". Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna ini adalah membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang masih asli sebagaimana diturunkan, tanpa perubahan dan tanpa penambahan. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah bacaan yang masih murni dan belum tercampur dengan perubahan.

Ketiga: Anjuran membaca Al-Qur'an sesuai bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ.

Hadits ini menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an harus dengan bacaan yang shahih, yang diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi ﷺ. Bacaan Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu bacaan yang shahih dan diakui. Para ulama seperti Imam Ibn al-Jazari (dalam kitabnya tentang qira'at) menjelaskan bahwa bacaan-bacaan yang mutawatir semuanya benar dan berasal dari Nabi ﷺ.

Keempat: Perbedaan pendapat di antara ulama daftar.

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah memahami hadits ini sebagai anjuran untuk membaca dengan bacaan Abdullah bin Mas'ud secara khusus. Namun, jumhur ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahumullah menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah membaca dengan bacaan yang shahih dan murni, dan bacaan Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu contoh terbaik pada masa itu. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur: hadits ini memuji bacaan Abdullah bin Mas'ud sebagai bacaan yang shahih dan murni, dan menganjurkan umat untuk membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang shahih dan sesuai dengan yang diajarkan Nabi ﷺ.

Kelima: Keutamaan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma.

Mereka berdua menyampaikan kabar gembira ini kepada Abdullah bin Mas'ud, menunjukkan perhatian mereka terhadap ilmu dan keutamaan sahabat lainnya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau pernah berkata: "Aku adalah orang yang paling tahu tentang Kitabullah di antara kalian." Beliau juga pernah membaca Al-Qur'an di hadapan Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ menangis mendengarnya. Ketika Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma menyampaikan kabar gembira ini kepada beliau, itu menunjukkan betapa besar kedudukan beliau di mata para sahabat. Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan kisah ini sebagai bagian dari keutamaan Abdullah bin Mas'ud.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah Al-Qur'an dengan bacaan yang shahih — sesuai dengan bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ dan diriwayatkan secara mutawatir.
  2. Pelajari ilmu tajwid dan qira'at — agar bacaan kita sesuai dengan yang diturunkan.
  3. Hormati dan cintai para sahabat Nabi ﷺ — terutama Abdullah bin Mas'ud yang dipuji langsung oleh Nabi ﷺ.
  4. Sampaikan kabar gembira kepada orang lain — sebagaimana Abu Bakar dan Umar menyampaikan kabar gembira kepada Abdullah bin Mas'ud.
  5. Jangan berlebihan (ghuluw) dalam mengagungkan seseorang — pujian Nabi ﷺ kepada Abdullah bin Mas'ud adalah pujian yang benar, bukan berarti mengangkat beliau di atas sahabat lainnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?