Penjelasan Hadits Ahmad No. 35 tentang Anjuran membaca Al-Qur'an sesuai bacaan Ibnu Ummi Abd

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar bacaan Al-Qur'an Abdullah bin Mas'ud (Ibn Umm 'Abd), seorang sahabat yang mulia. Nabi ﷺ memuji bacaan beliau sebagai bacaan yang "segar" (ghadhdhan) seperti saat Al-Qur'an diturunkan. Ini bukan berarti bacaan selain beliau tidak sah, tetapi menunjukkan bahwa bacaan beliau sangat sesuai dengan cara Al-Qur'an diturunkan, baik dalam tajwid, tartil, maupun keikhlasan hati.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (Musnad Abu Bakar ash-Shiddiq, no. 35), dari jalur 'Ashim bin Abi an-Nujud dari Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma memberi kabar gembira kepada Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

Terjemahan: "Siapa yang ingin membaca Al-Qur'an segar seperti saat diturunkan, hendaklah ia membacanya sesuai dengan bacaan Ibn Umm 'Abd."

Dalam riwayat kedua dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda dengan lafazh: "غَضًّا أَوْ رَطْبًا" (segar atau basah).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan makna serupa. Imam at-Tirmidzi menghasankannya, dan Syaikh al-Albani menilainya shahih dalam Shahih at-Tirmidzi.

Penjelasan Rinci

Makna "Ghadhdhan" (Segar):

Kata "غَضًّا" berarti sesuatu yang masih segar, baru, belum layu, dan belum berubah. Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa maknanya adalah bacaan yang masih murni, belum tercampur dengan perubahan, dan sesuai dengan cara Al-Qur'an diturunkan. Ini mencakup:

  1. Kebenaran lafazh — sesuai dengan huruf dan harakat yang diturunkan.
  2. Kesempurnaan tajwid — membaca dengan tartil, tidak tergesa-gesa.
  3. Keikhlasan hati — membaca dengan tadabbur dan kekhusyukan.

Siapa Ibn Umm 'Abd?

Beliau adalah Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat terdekat Nabi ﷺ dan termasuk empat orang yang Nabi ﷺ perintahkan untuk mengambil Al-Qur'an dari mereka. Dalam hadits shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda: "Ambillah Al-Qur'an dari empat orang: Abdullah bin Mas'ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka'b, dan Mu'adz bin Jabal."

Mengapa Nabi ﷺ Memuji Bacaan Ibn Mas'ud?

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa pujian ini bukan berarti bacaan selain beliau tidak sah atau tidak boleh diikuti. Sebaliknya, ini menunjukkan:

  • Bacaan Ibn Mas'ud sangat sesuai dengan bacaan Nabi ﷺ secara langsung.
  • Beliau adalah salah satu sahabat yang paling fasih dan paling memahami Al-Qur'an.
  • Ini merupakan motivasi bagi umat Islam untuk mempelajari Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh.

Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama:

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah memahami hadits ini sebagai anjuran untuk mengikuti bacaan Ibn Mas'ud dalam hal tartil dan tajwid, bukan dalam hal qira'at yang berbeda. Adapun qira'at yang mutawatir (seperti qira'at 'Ashim, Nafi', Ibnu Katsir, dll.) semuanya sah dan boleh dibaca, karena Nabi ﷺ sendiri mengajarkan berbagai qira'at kepada para sahabat.

Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan bacaan Ibn Mas'ud, tetapi tidak berarti qira'at lain tidak sah. Qira'at yang mutawatir semuanya adalah wahyu yang diturunkan, dan mengingkari salah satunya adalah kesalahan besar.

Kaitan dengan Kitab Ulama:

  • Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, menunjukkan perhatian beliau terhadap keutamaan sahabat dan bacaan Al-Qur'an.
  • Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya menyebutkan hadits ini dan menilainya hasan.
  • Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi menilainya shahih.
  • Syaikh al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mendorong kita untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil dan sesuai dengan bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau pernah diperintahkan Nabi ﷺ untuk membacakan Al-Qur'an di hadapan beliau. Ketika Ibn Mas'ud membaca Surah an-Nisa' hingga ayat 41, Nabi ﷺ menangis dan bersabda: "Cukup." (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Suatu ketika, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mendengar seseorang membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang tidak sesuai. Umar pun menegurnya dan mengajaknya untuk belajar kepada Ibn Mas'ud. Umar berkata: "Sesungguhnya Ibn Mas'ud adalah orang yang paling mengetahui Al-Qur'an di antara kita." (HR. al-Bukhari).

Hikmahnya: Para sahabat saling mengakui keutamaan ilmu dan bacaan Al-Qur'an. Mereka tidak merasa cemburu, tetapi justru mendorong umat untuk belajar dari yang lebih ahli. Ini adalah adab salafus shalih yang harus kita teladani.

Kesimpulan Praktis

  1. Belajarlah Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh — baik tajwid, tartil, maupun tadabbur — agar bacaan kita "segar" seperti saat diturunkan.
  2. Hormati para ahli Al-Qur'an — para qari dan hafizh yang mengajarkan bacaan sesuai sunnah.
  3. Jangan fanatik buta — semua qira'at mutawatir adalah sah, dan kita boleh mengikuti salah satunya.
  4. Bacalah Al-Qur'an dengan hati yang hadir — bukan hanya lisan, tetapi juga pikiran dan hati.
  5. Teladani semangat sahabat — seperti Abu Bakar, Umar, dan Ibn Mas'ud yang mencintai Al-Qur'an dan mengamalkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?