Penjelasan Hadits Ahmad No. 344 tentang Kemenangan dengan jumlah sedikit karena pertolongan Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Yarmuk, di mana pasukan Muslim menghadapi musuh yang sangat besar dan merasa hampir binasa. Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu, sebagai komandan, tidak mengirim bala bantuan pasukan, tetapi mengarahkan mereka kepada Allah dan mengingatkan kemenangan Badar. Dengan tawakal dan ketaatan, mereka menang, mendapatkan ghanimah, dan berlaku adil dalam pembagiannya. Hadits ini mengajarkan bahwa pertolongan datang dari Allah, bukan dari banyaknya jumlah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad, dari jalur Syu'bah dari Simak dari 'Iyad al-Asy'ari. Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) adalah imam Ahlus Sunnah yang dikenal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits, dan Musnad-nya termasuk kitab hadits yang agung.

Ayat yang sangat relevan dengan makna hadits ini:

QS. Ali 'Imran [3]: 123

إِذْ تَقُولُ لِلْمُؤْمِنِينَ أَلَنْ يَكْفِيَكُمْ أَنْ يُمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلَاثَةِ آلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُنْزَلِينَ

"Ketika kamu mengatakan kepada orang-orang mukmin: 'Apakah tidak cukup bagi kamu bahwa Tuhanmu membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan?'"

QS. Ali 'Imran [3]: 126

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ ۗ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

"Dan Allah tidak menjadikannya (bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi kamu dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu tidak lain hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

QS. Al-Anfal [8]: 26

وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الْأَرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan ingatlah ketika kamu masih sedikit jumlahnya dan ditindas di muka bumi; kamu takut bahwa orang-orang akan menculikmu, lalu Allah memberi kamu tempat berlindung dan memperkuatmu dengan pertolongan-Nya serta memberimu rezeki dari yang baik-baik, agar kamu bersyukur."

Hadits ini juga sejalan dengan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَاللَّهُ أَعَزُّ نَصْرًا مِنْكُمْ

"Dan Allah lebih kuat pertolongan-Nya daripada kalian." — makna ini disebutkan dalam konteks perang, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Penjelasan Rinci

1. Konteks Perang Yarmuk

Perang Yarmuk terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, antara pasukan Muslim melawan Romawi. Dalam hadits ini, 'Iyad al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa pasukan Muslim memiliki lima komandan: Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Yazid bin Abi Sufyan, Ibn Hasanah, Khalid bin al-Walid, dan 'Iyad sendiri. Umar radhiyallahu 'anhu berpesan: "Jika terjadi pertempuran, maka komandan kalian adalah Abu Ubaidah." Ini menunjukkan adab Umar dalam memilih pemimpin berdasarkan kualitas iman dan amanah, bukan sekadar keberanian. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Umar sangat memperhatikan orang yang paling bertakwa untuk memimpin, karena kepemimpinan adalah amanah.

2. Permintaan Bala Bantuan dan Jawaban Abu Ubaidah

Ketika pasukan Muslim merasa hampir binasa karena besarnya pasukan Romawi, mereka menulis surat kepada Abu Ubaidah meminta bala bantuan. Namun, Abu Ubaidah menjawab dengan jawaban yang sangat dalam: "Saya telah menerima surat kalian yang meminta bala bantuan, dan saya bisa memberitahu kalian tentang siapa yang memiliki dukungan terbesar dan pasukan yang paling siap. Allah, yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, mintalah Dia untuk memberi dukungan, karena Muhammad ﷺ telah diberikan kemenangan pada hari Badar dengan jumlah yang lebih sedikit dari kalian."

Ini adalah pelajaran tauhid yang agung. Abu Ubaidah tidak mengandalkan kekuatan manusia, tetapi mengarahkan mereka kepada Allah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa tawakal kepada Allah adalah sebab terbesar kemenangan, dan Allah mencela orang yang mengandalkan jumlah dan persenjataan semata. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa juga menegaskan bahwa kemenangan tidak diukur dari banyaknya pasukan, tetapi dari iman dan tawakal.

3. Perintah untuk Berperang Tanpa Menunggu

Abu Ubaidah berkata: "Ketika surat ini sampai kepada kalian, berperanglah melawan mereka tanpa merujuk kembali kepada saya." Ini menunjukkan keberanian dan keyakinan bahwa pertolongan Allah sudah dekat. Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H) dalam riwayat yang disebutkan Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang berani maju setelah berdoa dan bertawakal, bukan yang menunggu kepastian duniawi.

4. Kemenangan dan Ghanimah

Mereka kemudian berperang dan menang, mengejar musuh sejauh empat parasang, dan mendapatkan ghanimah. Mereka bermusyawarah tentang pembagian ghanimah, dan 'Iyad menyarankan agar setiap kepala (setiap pasukan) mendapat sepuluh. Ini menunjukkan keadilan dalam pembagian harta rampasan, sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Al-Anfal [8]: 41. Imam asy-Syafi'i dalam Al-Umm dan Imam Ahmad dalam riwayatnya menjelaskan bahwa ghanimah dibagi setelah seperlima untuk Allah dan Rasul-Nya, dan sisanya untuk pasukan.

5. Perlombaan Kuda dan Adab Abu Ubaidah

Bagian akhir hadits menceritakan Abu Ubaidah berkata: "Siapa yang akan bersaing dengan saya (dalam perlombaan kuda)?" Seorang pemuda menjawab: "Saya, jika Anda tidak marah." Pemuda itu menang, dan 'Iyad melihat dua kepang Abu Ubaidah terbang saat dia berlomba di belakangnya di atas kuda Arab. Ini menunjukkan kerendahan hati Abu Ubaidah, seorang komandan besar yang mau berlomba dengan pemuda biasa, dan tidak marah ketika kalah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Al-Ishabah menyebutkan bahwa Abu Ubaidah dikenal sebagai "Aminul Ummah" (orang kepercayaan umat), dan sikapnya ini mencerminkan akhlak Nabi ﷺ.

Perbedaan Pendapat di Antara Ulama Daftar:

  • Imam Ahmad dan Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang berbeda. Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan dari Syu'bah dari Simak. Abu Hatim ar-Razi dan Abu Zur'ah ar-Razi menilai Simak bin Harb sebagai perawi yang jujur namun ada sedikit kelemahan dalam hafalan, tetapi hadits ini tetap diterima karena didukung riwayat lain.
  • Ibn Hibban dalam Shahih-nya memasukkan hadits ini sebagai shahih, sedangkan Al-Bayhaqi dalam As-Sunan al-Kubra menyebutkannya sebagai penguat.
  • Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mengutip kisah ini sebagai bagian dari sejarah Yarmuk dan menilainya sebagai riwayat yang masyhur.

Kesimpulannya, hadits ini shahih atau setidaknya hasan menurut para ulama daftar, dan maknanya sangat kuat dalam tauhid dan tawakal.

Story Telling

Kisah Abu Ubaidah bin al-Jarrah di Yarmuk

Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Nabi ﷺ memanggilnya "Aminul Ummah" (orang kepercayaan umat). Ketika Umar bin al-Khattab menjadi khalifah, beliau mengangkat Abu Ubaidah sebagai komandan pasukan di Syam.

Pada Perang Yarmuk, pasukan Romawi berjumlah ratusan ribu, sementara pasukan Muslim hanya sekitar 30.000-40.000. Banyak sahabat merasa cemas. Mereka menulis surat kepada Abu Ubaidah meminta bala bantuan. Namun, Abu Ubaidah menjawab dengan surat yang menggetarkan hati: "Allah lebih kuat pertolongan-Nya daripada kalian. Mintalah pertolongan kepada Allah, karena Muhammad ﷺ telah menang di Badar dengan jumlah yang lebih sedikit dari kalian."

Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa ketika surat itu dibacakan, pasukan Muslim menangis dan berdoa. Mereka kemudian maju dengan berani, dan Allah memberikan kemenangan. Mereka mengejar musuh sejauh empat parasang, dan mendapatkan ghanimah yang sangat banyak.

Setelah perang, Abu Ubaidah, seorang komandan yang dihormati, tidak sombong. Ia bahkan berlomba kuda dengan seorang pemuda. Pemuda itu menang, dan Abu Ubaidah tidak marah. 'Iyad al-Asy'ari melihat kepang rambut Abu Ubaidah terbang saat kudanya berlari. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin Muslim harus rendah hati, dekat dengan rakyatnya, dan tidak takabur.

Hikmah: Kemenangan bukan karena jumlah, tetapi karena iman, tawakal, dan doa. Seorang pemimpin harus mengarahkan rakyatnya kepada Allah, bukan kepada kekuatan manusia semata.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertawakal kepada Allah dalam setiap kesulitan, karena pertolongan-Nya lebih kuat dari segala kekuatan manusia.
  2. Mengingat sejarah kemenangan Islam seperti Badar untuk menumbuhkan keyakinan bahwa Allah menolong orang beriman.
  3. Bermusyawarah dalam urusan bersama, termasuk pembagian harta, dengan adil dan berdasarkan syariat.
  4. Rendah hati bagi pemimpin: tidak sombong, mau bergaul dengan rakyat, dan tidak marah ketika kalah dalam hal yang mubah.
  5. Mengikuti adab salaf dalam kepemimpinan, keberanian, dan keadilan, sebagaimana dicontohkan Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhuma.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?