Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits qudsi yang sangat agung. Isinya tentang janji Allah Ta'ala untuk mengangkat derajat hamba-Nya yang bersikap tawadhu' (merendahkan diri) karena Allah. Hadits ini menggunakan perumpamaan yang sangat indah: orang yang merendahkan dirinya seperti telapak tangan yang menunduk ke bumi, maka Allah akan mengangkatnya setinggi langit. Ini adalah kabar gembira bagi siapa saja yang menjauhi kesombongan dan keangkuhan.
Rujukan Ulama & Dalil
Teks Hadits (Musnad Ahmad No. 309):
حَدَّثَنَا يَزِيدُ، أَنْبَأَنَا عَاصِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا رَفَعَهُ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَنْ تَوَاضَعَ لِي هَكَذَا وَجَعَلَ يَزِيدُ بَاطِنَ كَفِّهِ إِلَى الْأَرْضِ وَأَدْنَاهَا إِلَى الْأَرْضِ رَفَعْتُهُ هَكَذَا وَجَعَلَ بَاطِنَ كَفِّهِ إِلَى السَّمَاءِ وَرَفَعَهَا نَحْوَ السَّمَاءِ
Makna Hadits: Dari Ibnu Umar, dari Umar radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Aku tidak mengetahuinya kecuali beliau (Ibnu Umar) memarfu'kannya (menyandarkannya kepada Nabi ﷺ)." Beliau bersabda: "Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: 'Barangsiapa yang merendahkan diri kepada-Ku seperti ini' - dan perawi (Yazid) menjadikan telapak tangannya menghadap ke bumi dan mendekatkannya ke tanah - 'maka Aku akan mengangkatnya seperti ini' - dan beliau menjadikan telapak tangannya menghadap ke langit dan mengangkatnya ke arah langit."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh:
- Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2588) dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma
- Imam Ibnu Majah (no. 4174)
- Imam al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Furqan [25]: 63
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."
QS. Al-Hujurat [49]: 13
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan yang sangat kuat untuk memiliki sifat tawadhu' dan peringatan keras dari sifat sombong.
1. Makna Tawadhu' dalam Hadits Ini
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa tawadhu' yang dimaksud dalam hadits ini adalah merendahkan diri di hadapan Allah dan di hadapan hamba-hamba-Nya karena Allah. Ini bukan berarti merendahkan diri karena kehinaan, tetapi karena keimanan dan pengagungan kepada Allah.
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tawadhu' adalah salah satu cabang keimanan yang paling agung. Beliau membedakan antara tawadhu' (rendah hati) dengan dzillah (kehinaan). Tawadhu' adalah kerendahan hati yang lahir dari pengagungan kepada Allah, sedangkan kehinaan adalah kerendahan yang tercela.
2. Perumpamaan dalam Hadits
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa perumpamaan dalam hadits ini sangat jelas: orang yang merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, orang yang menyombongkan diri, maka Allah akan merendahkannya.
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "رفعته" (Aku akan mengangkatnya) adalah mengangkat derajatnya di sisi Allah, memberikan kemuliaan di hati manusia, dan meninggikan kedudukannya di akhirat.
3. Keutamaan Tawadhu' Menurut Para Ulama
Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai ulama yang sangat tawadhu'. Beliau pernah ditanya tentang makna tawadhu', maka beliau menjawab: "Engkau keluar dari rumahmu, maka tidaklah engkau bertemu dengan seorang muslim melainkan engkau menganggap dia lebih baik darimu."
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa tawadhu' adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih. Beliau menyebutkan bahwa kesombongan adalah akhlak yang paling dibenci Allah, sedangkan tawadhu' adalah akhlak yang paling dicintai-Nya.
4. Peringatan dari Kesombongan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini juga merupakan peringatan keras dari sifat sombong. Karena jika Allah menjanjikan ketinggian derajat bagi yang tawadhu', maka sebaliknya Allah akan merendahkan orang yang sombong. Beliau mengingatkan bahwa kesombongan adalah penghalang masuk surga, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Story Telling
Ada kisah indah tentang ketawadhu'an seorang ulama besar dari kalangan Tabi'in, yaitu Sa'id bin al-Musayyib. Beliau adalah seorang ulama Madinah yang sangat dihormati. Suatu hari, beliau berjalan di pasar dan bertemu dengan seorang pemuda yang sedang membawa barang dagangan. Pemuda itu tidak mengenal Sa'id bin al-Musayyib.
Pemuda itu berkata, "Wahai syaikh, tolong bantu saya membawakan barang ini."
Sa'id bin al-Musayyib tersenyum dan langsung membantu pemuda itu membawakan barangnya. Orang-orang yang melihatnya tercengang dan berkata kepada pemuda itu, "Tahukah engkau siapa yang sedang membantumu? Dia adalah Sa'id bin al-Musayyib, ulama besar Madinah!"
Pemuda itu pun kaget dan malu, lalu berkata, "Maafkan saya wahai Tuan, saya tidak mengenal Tuan."
Sa'id bin al-Musayyib menjawab dengan tenang, "Tidak mengapa. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah yang biasa. Membantumu adalah kebaikan bagiku."
Kisah ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin besar pula ketawadhu'annya. Karena ia tahu bahwa semua kelebihan yang dimilikinya hanyalah karunia dari Allah semata.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan tawadhu' sebagai sifat utama dalam beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan sesama manusia.
- Jauhi kesombongan dalam bentuk apa pun, baik sombong karena harta, ilmu, keturunan, maupun kekuasaan.
- Yakinlah dengan janji Allah bahwa siapa yang merendahkan diri karena-Nya, maka Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat.
- Contohkan ketawadhu'an dalam keseharian, seperti mendahulukan salam, tersenyum, membantu orang lain, dan tidak merasa lebih baik dari siapa pun.
- Perbanyak doa agar Allah menganugerahkan sifat tawadhu' dan menjauhkan kita dari kesombongan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.