Penjelasan Hadits Ahmad No. 28 tentang Doa memohon ampunan dalam shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan sebuah doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه untuk dibaca di dalam shalat. Isinya adalah pengakuan seorang hamba atas banyaknya dosa dan kezaliman terhadap dirinya sendiri, disertai permohonan ampun dan rahmat hanya kepada Allah. Doa ini menanamkan sikap tawadhu, merendahkan diri, dan menyadari bahwa tidak ada yang mampu mengampuni dosa selain Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad (no. 28), dari jalur Hajjaj bin Muhammad, dari al-Laits bin Sa'd, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu al-Khair (Martsad bin Abdullah al-Yazani), dari Abdullah bin Amr bin al-Abbas, dari Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Hadits ini juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari (no. 834) dan Shahih Muslim (no. 2705) dengan lafaz yang semakna, sehingga derajatnya shahih dan disepakati.

Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan makna doa ini:

QS. Ali 'Imran [3]: 135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Terjemahan: "Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui."

QS. Al-A'raf [7]: 23

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Terjemahan: "Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: 'Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.'"

QS. Al-Baqarah [2]: 286 (potongan)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Terjemahan: "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah."

Penjelasan Rinci

1. Kedudukan doa ini dalam shalat

Nabi ﷺ mengajarkan doa ini ketika Abu Bakar meminta diajarkan doa yang dibaca di dalam shalat. Para ulama menjelaskan bahwa doa ini boleh dibaca pada saat tasyahud sebelum salam, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim bahwa doa-doa seperti ini dibaca setelah tasyahud dan sebelum salam. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa doa ini termasuk doa yang dianjurkan dibaca di akhir shalat.

2. Makna "aku telah menzalimi diriku dengan aniaya yang banyak"

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "zhulm" di sini bukan berarti kezaliman kepada orang lain semata, tetapi mencakup segala bentuk kelalaian, dosa, dan kekurangan dalam menunaikan hak Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq, yang dikenal sebagai sahabat paling utama, tetap mengakui bahwa dirinya banyak berbuat dosa. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari kekurangannya di hadapan Allah.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa pengakuan dosa adalah pintu taubat. Seorang hamba yang mengakui kelemahannya akan lebih mudah kembali kepada Allah daripada yang merasa dirinya suci.

3. "Tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau"

Ini adalah tauhid dalam bentuk pengakuan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mengampuni. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat "وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ" adalah pertanyaan retoris yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mampu menghapus dosa, baik itu nabi, malaikat, maupun wali. Maka meminta ampun kepada selain Allah adalah kesalahan besar.

4. "Ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku"

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa seorang hamba membutuhkan dua hal: maghfirah (ampunan) untuk menghapus dosa, dan rahmah (rahmat) untuk mendapatkan kebaikan setelahnya. Ampunan menghilangkan keburukan, sedangkan rahmat mendatangkan kebaikan. Keduanya hanya bisa diperoleh dari Allah.

5. "Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa menutup doa dengan menyebut nama Allah al-Ghafur (Maha Pengampun) dan ar-Rahim (Maha Penyayang) adalah adab dalam berdoa, yaitu bertawassul dengan nama-nama Allah yang sesuai dengan kebutuhan doa tersebut. Karena meminta ampunan, maka disebutkan nama al-Ghafur; karena meminta rahmat, maka disebutkan ar-Rahim.

6. Perbedaan pendapat ulama tentang tempat membacanya

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat doa ini dibaca setelah tasyahud sebelum salam. Imam asy-Syafi'i juga membolehkan membaca doa ini di akhir shalat. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca dalam shalat umumnya dibaca setelah tasyahud dan sebelum salam, karena itu adalah tempat yang paling utama untuk berdoa. Pendapat ini yang paling kuat berdasarkan dalil.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه, meskipun beliau adalah orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling utama setelah para nabi, tetap merasa dirinya penuh kekurangan. Beliau datang kepada Nabi ﷺ bukan untuk meminta kedudukan atau keistimewaan, tetapi meminta diajarkan doa yang bisa beliau baca dalam shalat. Ini menunjukkan kerendahan hati beliau.

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa seorang mukmin itu selalu merasa dirinya kurang dan terus memperbaiki diri, sedangkan orang munafik selalu merasa dirinya sudah baik. Abu Bakar mengajarkan kepada kita bahwa semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia menyadari betapa banyak dosa dan kelalaiannya.

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling lembut hatinya dan paling banyak menangis ketika membaca Al-Qur'an. Doa ini menjadi bukti betapa hatinya selalu terhubung dengan Allah, selalu merasa butuh ampunan, dan tidak pernah merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa ini di akhir shalat, setelah tasyahud sebelum salam, karena ini adalah tempat yang diajarkan Nabi ﷺ.
  2. Sadarilah bahwa kita banyak berbuat dosa, sekecil apa pun, dan jangan merasa diri sudah suci.
  3. Hanya Allah yang mengampuni dosa, maka jangan pernah meminta ampun kepada selain-Nya.
  4. Mintalah dua hal sekaligus: ampunan (agar dosa dihapus) dan rahmat (agar mendapat kebaikan setelahnya).
  5. Bertawassullah dengan nama Allah yang sesuai, seperti al-Ghafur dan ar-Rahim ketika meminta ampunan dan rahmat.
  6. Jadilah hamba yang tawadhu, seperti Abu Bakar yang selalu merasa butuh ampunan meskipun amalnya banyak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?