Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ wafat, sebagian sahabat sangat bersedih hingga hampir kehilangan kesadaran (hampir waswas/guncang jiwanya). Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu termasuk yang merasakan duka mendalam itu. Hadits ini menunjukkan besarnya kecintaan para sahabat kepada Nabi ﷺ, dan bahwa kesedihan karena kehilangan beliau adalah sesuatu yang manusiawi, namun seorang mukmin tetap dituntun untuk bersabar dan menerima takdir Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad, dari jalur Ya'qub (bin Ibrahim) dari ayahnya (Ibrahim bin Sa'd) dari Shalih (bin Kaisan), dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari seorang Anshar yang tidak diragukan kejujurannya, dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.
Terkait kesedihan dan musibah, Allah berfirman:
QS. Al-Baqarah [2]: 155-156
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ﴿١٥٥﴾ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ﴿١٥٦﴾
Terjemahan: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali)."
QS. Ali 'Imran [3]: 144
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Terjemahan: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penghiburan dari Allah bagi kaum mukminin ketika Rasulullah ﷺ wafat, agar mereka tidak goyah dan tetap teguh di atas agama.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Hadits ini menggambarkan kondisi psikologis sebagian sahabat ketika Rasulullah ﷺ wafat. Ibnu Syihab az-Zuhri (wafat 124 H), seorang tabi'in yang masyhur dan termasuk ulama besar dalam daftar rujukan, menerima riwayat ini dari seorang Anshar yang terpercaya, lalu menyampaikannya dari Utsman bin Affan.
Ungkapan "حَتَّى كَادَ بَعْضُهُمْ أَنْ يُوَسْوِسَ" (hingga hampir sebagian mereka waswas) menunjukkan betapa beratnya musibah itu. Para ulama menjelaskan makna "waswas" di sini sebagai hampir hilang akal, guncang jiwa, atau kebingungan yang sangat hebat karena duka yang mendalam.
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari ketika membahas peristiwa wafatnya Nabi ﷺ menjelaskan bahwa sebagian sahabat memang mengalami keguncangan hebat, sebagaimana disebutkan dalam riwayat bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu sempat menolak menerima kabar wafatnya Nabi ﷺ hingga Abu Bakar membacakan ayat Ali 'Imran 144. Ini menunjukkan bahwa kesedihan itu nyata dan manusiawi, namun Abu Bakar dengan ilmu dan keteguhannya menenangkan mereka.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kesedihan karena kehilangan orang yang dicintai — terlebih Rasulullah ﷺ — adalah hal yang wajar, dan Nabi ﷺ sendiri pernah menangis ketika putranya Ibrahim wafat, seraya bersabda bahwa itu adalah rahmat (kasih sayang) yang Allah letakkan dalam hati.
Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zadul Ma'ad menggambarkan peristiwa wafatnya Nabi ﷺ sebagai musibah terbesar bagi umat Islam, dan beliau menyebutkan bahwa para sahabat merasakan duka yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun mereka tidak berlarut-larut hingga meninggalkan kewajiban, melainkan segera menata urusan kaum muslimin dengan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah.
Pelajaran penting:
- Kecintaan sahabat kepada Nabi ﷺ sangat luar biasa. Mereka tidak hanya mencintai beliau sebagai pemimpin, tetapi sebagai sosok yang paling mereka cintai melebihi diri sendiri.
- Kesedihan bukanlah kelemahan iman. Bahkan sahabat terbaik pun bisa sangat bersedih. Yang menjadi ukuran adalah bagaimana seseorang bersikap setelahnya — apakah tetap sabar, ridha, dan melanjutkan ketaatan.
- Hadits ini juga menunjukkan keutamaan Utsman bin Affan yang berani menceritakan kondisinya sendiri, menunjukkan kejujuran dan ketawadhuan beliau.
Catatan tentang sanad:
Hadits ini memiliki perawi Anshar yang tidak disebutkan namanya ("رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ غَيْرُ مُتَّهَمٍ" — seorang Anshar yang tidak diragukan). Para ulama hadits seperti Ali bin al-Madini dan Yahya bin Ma'in menerima riwayat semacam ini karena perawinya dinyatakan terpercaya. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri memasukkan hadits ini dalam Musnadnya, menunjukkan bahwa beliau menilai riwayat ini dapat diterima.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ wafat, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berdiri di hadapan manusia dan berkata dengan penuh emosi bahwa Rasulullah tidak wafat. Ia hampir tidak mampu menerima kenyataan itu. Kemudian Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu datang, masuk ke tempat Rasulullah ﷺ, menyingkap kain penutup wajah beliau, mencium beliau, dan berkata dengan air mata berlinang: "Demi ayah dan ibuku, engkau tidak akan merasakan kematian dua kali."
Lalu Abu Bakar keluar menemui manusia dan membacakan ayat:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ
Mendengar itu, Umar berkata — sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari dari Aisyah radhiyallahu 'anha — seakan-akan ia baru pertama kali mendengar ayat itu, dan kakinya tidak mampu menopang tubuhnya hingga ia jatuh terduduk. Ia baru menyadari bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar telah wafat.
Inilah gambaran duka yang disebutkan Utsman dalam hadits ini — duka yang hampir mengguncang akal, namun akhirnya mereka teguhkan kembali dengan iman dan ilmu. (Kisah ini disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah.)
Kesimpulan Praktis
- Cintailah Nabi ﷺ melebihi cinta kepada diri sendiri, keluarga, dan harta — namun cinta yang benar diwujudkan dengan mengikuti sunnah beliau, bukan hanya dengan perasaan.
- Saat menghadapi musibah besar, kembalikan kepada Allah dengan mengucapkan "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" dan bersabar, sebagaimana dituntun dalam Al-Qur'an.
- Jangan mencela orang yang bersedih karena kehilangan orang yang dicintai; berikanlah penghiburan dan ingatkan dengan sabar.
- Teladani keteguhan Abu Bakar yang dengan ilmu mampu menenangkan umat di saat paling kritis.
- Jaga persatuan umat — sebagaimana para sahabat segera menata urusan setelah duka, jangan biarkan kesedihan melumpuhkan amal dan ketaatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.