Penjelasan Hadits Ahmad No. 229 tentang Mencium Hajar Aswad mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil penting tentang mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan penuh keyakinan, meskipun akal tidak selalu mampu menangkap hikmah di baliknya. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu mengajarkan bahwa ibadah kita murni karena Allah dan mengikuti perintah Rasul-Nya, bukan karena takhayul atau menganggap benda keramat. Ini adalah pelajaran tauhid dan ittiba' (mengikuti) yang agung.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ahmad:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Abdullah bin Sarjis radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1597) dan Imam Muslim (no. 1270) dari jalur lain, dengan lafaz yang semakna.

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Firman Allah Ta'ala:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Kaitan dengan Ulama:

Perkataan Umar ini menjadi landasan bagi para ulama dalam menjelaskan kaidah ibadah: bahwa ibadah itu tauqifiyah (berdasarkan wahyu), bukan berdasarkan akal atau hawa nafsu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim menjelaskan bahwa sikap Umar ini adalah bantahan terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam mengagungkan tempat atau benda, dan sekaligus bantahan terhadap orang-orang yang meremehkan sunnah Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Makna Perkataan Umar radhiyallahu 'anhu

Umar berkata: "Aku mencium kamu dan aku tahu bahwa kamu hanyalah batu dan tidak dapat memberikan manfaat atau menolak bahaya." Ini adalah pernyataan tauhid yang sangat tegas. Umar ingin menegaskan bahwa Hajar Aswad hanyalah batu biasa. Ia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk mendatangkan manfaat atau menolak mudharat. Kekuatan itu hanyalah milik Allah semata.

2. Alasan Satu-satunya: Mengikuti Rasulullah ﷺ

Kemudian Umar berkata: "Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu." Ini menunjukkan bahwa motivasi Umar dalam mencium Hajar Aswad hanyalah mengikuti perbuatan Nabi ﷺ, bukan karena menganggap batu itu keramat atau memiliki kekuatan gaib.

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan: "Ucapan Umar ini adalah bantahan terhadap orang-orang jahiliyah yang mengagungkan batu karena menganggapnya memiliki kekuatan. Umar ingin mengajarkan kepada umat bahwa pengagungan ini hanyalah karena mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya, bukan karena batu itu sendiri memiliki keistimewaan."

3. Pelajaran Tauhid dan Ittiba'

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua prinsip besar:

  • Tauhid: Tidak ada makhluk yang bisa memberi manfaat atau mudharat kecuali dengan izin Allah.
  • Ittiba': Setiap ibadah harus dilandasi oleh dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar adat, tradisi, atau perasaan.

4. Bantahan terhadap Dua Kelompok

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini membantah dua kelompok:

  • Kelompok yang berlebihan (ghuluw): Yaitu orang-orang yang mengagungkan Hajar Aswad secara berlebihan, menganggapnya memiliki kekuatan magis, atau meminta berkah darinya dengan cara yang tidak diajarkan syariat.
  • Kelompok yang meremehkan sunnah: Yaitu orang-orang yang menganggap remeh amalan yang dilakukan Nabi ﷺ, seperti mencium Hajar Aswad, dengan alasan "itu hanya batu."

Umar radhiyallahu 'anhu berdiri di tengah: ia menciumnya karena mengikuti Nabi ﷺ, tetapi ia juga menegaskan bahwa batu itu tidak memiliki kekuatan apa pun.

5. Hikmah di Balik Perintah

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beribadah, baik yang akal mampu memahami hikmahnya maupun yang tidak. Ini adalah ujian ketaatan: apakah seorang hamba tunduk kepada syariat atau hanya tunduk kepada akalnya sendiri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu sampai di Hajar Aswad, beliau berkata dengan suara yang didengar orang-orang di sekitarnya: "Sungguh, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa menolak bahaya. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu."

Lalu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya batu ini bisa memberi manfaat dan menolak bahaya." Umar bertanya, "Bagaimana bisa?" Ali menjawab, "Karena Allah berfirman dalam Al-Qur'an, dan Allah menjadikan batu ini memiliki dua manfaat: pahala bagi yang menciumnya dengan ikhlas karena mengikuti sunnah, dan dosa bagi yang melecehkannya. Maka ia memberi manfaat bagi yang menaati dan menolak bahaya dari yang bermaksiat." (Kisah ini disebutkan oleh sebagian ulama dalam kitab-kitab fadhail, namun perlu dicatat bahwa sanadnya tidak shahih menurut para ulama hadits. Yang shahih hanyalah perkataan Umar yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim).

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa seorang mukmin sejati tidak menjadikan akalnya sebagai hakim atas wahyu. Ia menerima perintah Allah dan Rasul-Nya dengan penuh ketundukan, meskipun hikmahnya belum sepenuhnya ia pahami.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas dalam beribadah — lakukan semua ibadah semata-mata karena Allah dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
  2. Jauhi sikap ghuluw (berlebihan) — jangan mengagungkan tempat, benda, atau orang melebihi batas syariat.
  3. Jauhi sikap meremehkan sunnah — jangan meremehkan amalan yang diajarkan Nabi ﷺ hanya karena akal tidak memahami hikmahnya.
  4. Teladani Umar — beliau adalah contoh sempurna dalam menggabungkan antara ketegasan tauhid dan ketundukan kepada sunnah.
  5. Jadikan niat kita dalam beribadah adalah ittiba' (mengikuti) bukan ibtida' (mengada-ada).

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?