Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 19 tentang Takdir dan pentingnya berusaha

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah sejak azali, termasuk takdir setiap manusia. Meskipun demikian, kita tetap diperintahkan untuk beramal dan berusaha, karena Allah akan memudahkan setiap hamba untuk melakukan apa yang telah ditakdirkan baginya. Ini adalah jawaban Nabi ﷺ yang menyeimbangkan antara keyakinan kepada takdir dan kewajiban beramal.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Insan [76]: 3

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan (yang lurus); ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir."

QS. Al-Layl [92]: 4-7

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّىٰ . فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ . وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ . فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

Terjemahan: "Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 19) dari jalur Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, seperti dalam Shahih Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (w. 241 H) mencantumkan hadits ini dalam Musnad-nya sebagai bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah tentang takdir. Beliau termasuk ulama yang sangat tegas dalam menetapkan takdir Allah namun tetap mewajibkan amal.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah (w. 751 H) dalam kitabnya Syifa' al-'Alil menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa takdir tidak menghalangi amal, karena amal itu sendiri sudah termasuk dalam takdir.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, sahabat yang paling utama dan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan lelaki dewasa. Beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang hubungan antara takdir dan amal perbuatan manusia.

Pertanyaan Abu Bakr ini sangat mendalam: "Apakah amal itu berdasarkan apa yang telah selesai ditakdirkan (furugha minhu) atau berdasarkan perkara yang baru terjadi (mu'tanaf)?" Maksudnya, apakah kita beramal karena kita sudah ditakdirkan, atau amal kita yang menentukan takdir kita?

Rasulullah ﷺ menjawab dengan tegas: "Bahkan berdasarkan perkara yang telah selesai ditakdirkan." Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu telah ditulis di Lauh Mahfuzh lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih riwayat Muslim.

Kemudian Abu Bakr bertanya lagi: "Lalu untuk apa kita beramal?" Ini pertanyaan yang sangat logis. Jika semuanya sudah ditentukan, apa gunanya usaha?

Rasulullah ﷺ menjawab: "Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang diciptakan untuknya." Jawaban ini sangat indah. Artinya, takdir tidak menghilangkan usaha, tetapi justru usaha itu sendiri adalah bagian dari takdir. Orang yang ditakdirkan bahagia akan dimudahkan untuk melakukan amal kebaikan, dan orang yang ditakdirkan sengsara akan dimudahkan untuk melakukan amal keburukan.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah (w. 795 H) dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa amal perbuatan manusia adalah sebab untuk mencapai apa yang telah ditakdirkan. Allah menciptakan surga dan neraka, lalu menciptakan penghuninya, dan memudahkan masing-masing untuk melakukan amal yang sesuai dengan tempat kembalinya.

Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa hadits ini mengandung bantahan terhadap golongan Qadariyah yang mengingkari takdir, dan juga terhadap golongan Jabariyah yang mengatakan manusia dipaksa tanpa kehendak. Ahlus Sunnah mengambil jalan tengah: manusia memiliki kehendak dan usaha, namun semuanya berada dalam takdir Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika para sahabat sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ. Lalu beliau bersabda: "Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah ditulis tempat duduknya di surga dan tempat duduknya di neraka." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita tidak boleh berserah diri saja?" Beliau menjawab: "Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan. Adapun golongan yang bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amal kebahagiaan. Adapun golongan yang celaka, maka ia akan dimudahkan untuk melakukan amal kecelakaan." Kemudian beliau membaca ayat: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa..." (QS. Al-Layl: 5-7). (HR. Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib)

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memahami pertanyaan Abu Bakr. Mereka tidak ingin menjadi orang yang malas dengan alasan takdir, tetapi juga tidak ingin sombong dengan amal mereka. Mereka ingin beramal dengan penuh kesadaran bahwa Allah yang memberi taufik.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam. Kita wajib meyakini bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu sejak azali.
  2. Takdir tidak menghalangi amal. Justru amal adalah bagian dari takdir. Kita diperintahkan untuk berusaha dan berdoa.
  3. Setiap orang dimudahkan untuk melakukan apa yang telah ditakdirkan baginya. Maka perbanyaklah doa agar Allah memudahkan kita kepada kebaikan.
  4. Jangan bermalas-malasan dengan alasan takdir. Sebaliknya, jangan pula sombong dengan amal, karena semua adalah karunia Allah.
  5. Seimbangkan antara takdir dan usaha. Berusahalah semaksimal mungkin, lalu bertawakallah kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.