Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa wafatnya Nabi ﷺ, kedatangan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu yang mencium wajah beliau, lalu bagaimana Abu Bakar menenangkan kaum Anshar dengan menyebut keutamaan mereka dan menegaskan bahwa kepemimpinan (khilafah) berada di tangan Quraisy. Hadits ini menunjukkan adab cinta kepada Nabi ﷺ, keutamaan Abu Bakar, keutamaan Anshar, serta prinsip syura dan kepemimpinan dalam Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. At-Taubah [9]: 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Terjemahan: "Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (Musnad Abu Bakr ash-Shiddiq, no. 18), dari jalur Humaid bin Abdurrahman. Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan hadits ini dalam musnad Abu Bakr, menunjukkan perhatian beliau terhadap keutamaan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu.
Hadits lain yang semakna diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim tentang kecintaan Nabi ﷺ kepada Anshar, dan tentang kepemimpinan Quraisy. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bab-bab terkait keutamaan Anshar dan kepemimpinan Quraisy.
Penjelasan Rinci
1. Peristiwa wafatnya Nabi ﷺ dan sikap Abu Bakar
Humaid bin Abdurrahman (seorang tabi'in, termasuk ulama yang diakui) menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar sedang berada di daerah lain di Madinah (yaitu di Sunh, tempat tinggalnya). Ketika Abu Bakar datang, ia membuka penutup wajah Nabi ﷺ dan menciumnya sambil berkata, "Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu; betapa baiknya engkau dalam hidup dan mati."
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa mencium mayit yang mulia dan mencintainya adalah bagian dari adab yang dibolehkan, dan ini menunjukkan kecintaan Abu Bakar yang sangat mendalam kepada Nabi ﷺ. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbuatan Abu Bakar ini menjadi dalil bolehnya mencium wajah mayit, khususnya bagi orang yang memiliki kedudukan mulia.
2. Ucapan Abu Bakar "Muhammad telah meninggal, demi Tuhan Ka'bah"
Ucapan ini menunjukkan keteguhan Abu Bakar dalam menerima kenyataan, berbeda dengan Umar yang awalnya sangat terpukul. Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa Umar bin Khattab awalnya tidak percaya dan berkata siapa yang mengatakan Nabi wafat akan dipotong tangannya. Kemudian Abu Bakar membacakan ayat:
QS. Ali 'Imran [3]: 144
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Terjemahan: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
3. Abu Bakar menenangkan Anshar
Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Abu Bakar menyebutkan semua keutamaan Anshar yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits untuk menenangkan mereka, karena Anshar merasa berhak atas kepemimpinan setelah Nabi ﷺ wafat. Namun Abu Bakar menegaskan bahwa kepemimpinan harus di tangan Quraisy berdasarkan sabda Nabi ﷺ.
4. Sabda Nabi ﷺ tentang Anshar
Nabi ﷺ bersabda: "Jika orang-orang berjalan di satu lembah dan Anshar berjalan di lembah lain, aku akan berjalan di lembah Anshar." Ini menunjukkan kecintaan Nabi ﷺ yang sangat besar kepada Anshar. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk pujian dan keutamaan yang agung bagi Anshar.
5. Sabda Nabi ﷺ tentang kepemimpinan Quraisy
Nabi ﷺ bersabda: "Quraisy adalah pemimpin dalam urusan ini (khilafah). Orang-orang baik mengikuti kebaikan mereka, dan orang-orang jahat mengikuti kejahatan mereka." Ibnu Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah menjelaskan bahwa kepemimpinan Quraisy adalah ketetapan syar'i selama mereka menegakkan agama, dan ini bukan berarti mengangkat derajat seseorang karena nasab semata, tetapi karena hikmah dan kesesuaian dengan syariat.
6. Jawaban Sa'd bin Ubadah
Sa'd bin Ubadah radhiyallahu 'anhu berkata: "Kamu benar, kami adalah wazir (penasihat) dan kalian adalah umara (pemimpin)." Ini menunjukkan sikap tunduk dan patuh kepada kebenaran, serta menerima keputusan dengan lapang dada. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa ini adalah contoh adab salaf dalam bermusyawarah dan menerima keputusan yang berdasarkan dalil.
Story Telling
Diceritakan dalam kitab-kitab sirah bahwa ketika Nabi ﷺ wafat, kota Madinah diliputi kesedihan yang mendalam. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berdiri di depan orang banyak dan berkata dengan penuh emosi, "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak wafat! Beliau akan kembali dan memotong tangan dan kaki orang-orang munafik!"
Namun Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dengan tenang masuk ke rumah Aisyah, menyingkap wajah Nabi ﷺ, menciumnya, dan berkata dengan penuh cinta, "Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, engkau baik dalam hidup maupun mati." Kemudian beliau keluar dan berkata kepada Umar, "Duduklah, wahai Umar." Lalu Abu Bakar membacakan ayat Ali 'Imran 144, dan Umar pun tersadar.
Kemudian Abu Bakar dan Umar pergi menemui kaum Anshar yang sedang berkumpul di Saqifah Bani Sa'idah. Di sana, Abu Bakar menyampaikan keutamaan Anshar dan menegaskan bahwa kepemimpinan ada di tangan Quraisy. Sa'd bin Ubadah yang awalnya menginginkan kepemimpinan akhirnya menerima dengan lapang dada, dan berkata, "Kami adalah wazir, kalian adalah umara."
Hikmah dari kisah ini: keteguhan iman, kecintaan kepada Nabi ﷺ, adab dalam bermusyawarah, dan menerima kebenaran dengan lapang dada.
Kesimpulan Praktis
- Cinta kepada Nabi ﷺ harus melebihi cinta kepada diri sendiri, keluarga, dan harta. Abu Bakar mencontohkan dengan ucapan dan perbuatannya.
- Keteguhan dalam menghadapi musibah — Abu Bakar menunjukkan bagaimana seorang mukmin harus tegar dan mengembalikan segala sesuatu kepada Allah dan Rasul-Nya.
- Keutamaan Anshar — kita harus menghormati dan mencintai para sahabat Nabi ﷺ, khususnya Anshar, sebagaimana Nabi ﷺ mencintai mereka.
- Kepemimpinan dan syura — urusan kepemimpinan harus diselesaikan dengan musyawarah dan berdasarkan dalil, bukan berdasarkan ambisi pribadi.
- Menerima kebenaran — Sa'd bin Ubadah memberikan contoh bagaimana seorang mukmin harus tunduk kepada kebenaran meskipun bertentangan dengan keinginannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.