Penjelasan Hadits Ahmad No. 154 tentang Larangan memuji Nabi secara berlebihan seperti Nasrani

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah larangan tegas dari Nabi ﷺ agar umatnya tidak berlebihan dalam memujinya, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan memuji Nabi Isa عليه السلام hingga mengangkatnya menjadi anak Tuhan. Nabi ﷺ menegaskan kedudukan beliau yang sebenarnya, yaitu hamba Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah prinsip dasar dalam menjaga kemurnian tauhid dan menjauhi perbuatan syirik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Ahmad:

Teks Arab hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، قَالَ زَعَمَ الزُّهْرِيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Makna: Dari Umar bin Khattab رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji 'Isa bin Maryam secara berlebihan. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan utusan-Nya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3445) dari jalur yang sama, dan Imam Ahmad meriwayatkannya dalam Musnad-nya (no. 154) sebagaimana yang disebutkan.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

"Katakanlah (Muhammad): 'Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.'" (QS. Al-Kahf [18]: 110)

Juga firman Allah ﷻ:

مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

"Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang telah berlalu sebelumnya beberapa rasul." (QS. Al-Ma'idah [5]: 75)

Penjelasan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "la tuthruni" adalah janganlah kalian berlebihan dalam memujiku. Beliau menukil perkataan ulama bahwa al-ithra' adalah melampaui batas dalam pujian.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung larangan keras dari ghuluw (berlebihan) dalam memuji Nabi ﷺ, dan hendaknya seorang muslim memuji beliau sesuai kedudukannya sebagai hamba dan Rasulullah ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Larangan Ghuluw (Berlebihan) dalam Memuji Nabi ﷺ

Kata al-ithra' (الإطراء) artinya melampaui batas dalam pujian. Nabi ﷺ melarang umatnya melakukan hal ini terhadap beliau. Yang dimaksud adalah memuji dengan sifat-sifat yang hanya layak bagi Allah ﷻ, seperti memanggil beliau dengan sebutan yang mengandung makna ketuhanan, atau meyakini beliau memiliki sifat-sifat khusus yang mengeluarkannya dari tabiat manusia biasa.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa larangan ini berkaitan dengan firman Allah ﷻ yang memerintahkan untuk memanggil Nabi ﷺ dengan panggilan yang sopan, dan tidak menjadikan panggilan kepada beliau seperti panggilan sesama manusia.

2. Sebab Larangan Ini: Perbuatan Nasrani Terhadap Nabi Isa عليه السلام

Orang-orang Nasrani telah berlebihan terhadap Nabi Isa عليه السلام. Sebagian mereka menganggapnya sebagai anak Allah, sebagian lagi menganggapnya sebagai salah satu dari tiga tuhan (trinitas), dan sebagian lagi menganggapnya sebagai Allah itu sendiri. Ini adalah bentuk ghuluw yang paling parah.

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa ghuluw dalam memuji para nabi dan orang shalih adalah pintu masuk menuju kesyirikan. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa syirik pertama kali terjadi di kalangan umat Nabi Nuh disebabkan ghuluw mereka terhadap orang-orang shalih.

3. Kedudukan Nabi ﷺ yang Sebenarnya

Nabi ﷺ menegaskan: "Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan utusan-Nya." Ini adalah kalimat yang sangat agung. Beliau menyebut "hamba Allah" terlebih dahulu sebelum "utusan-Nya", karena kedudukan sebagai hamba lebih utama dan lebih dicintai Allah. Dalam Al-Qur'an, Allah menyebut Nabi Muhammad ﷺ dengan sebutan "hamba-Nya" dalam beberapa ayat, di antaranya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا

"Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam..." (QS. Al-Isra' [17]: 1)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan bahwa pujian yang benar kepada Nabi ﷺ adalah dengan menyebut sifat-sifat yang memang Allah tetapkan untuknya, yaitu sebagai hamba dan Rasul. Adapun pujian yang melampaui batas, maka itu dilarang.

4. Bolehnya Memuji Nabi ﷺ dengan Pujian yang Wajar

Hadits ini tidak melarang memuji Nabi ﷺ secara mutlak. Justru memuji beliau adalah perkara yang dianjurkan, karena beliau adalah manusia paling mulia. Yang dilarang hanyalah pujian yang berlebihan hingga menyerupai pujian orang Nasrani kepada Nabi Isa. Para sahabat sering memuji Nabi ﷺ dalam syair-syair mereka, seperti Hasan bin Tsabit, Ka'ab bin Zuhair, dan lainnya, dan Nabi ﷺ tidak melarangnya selama tidak melampaui batas.

Imam asy-Syafi'i berkata tentang bolehnya bersyair memuji Nabi ﷺ selama tidak mengandung ghuluw, dan beliau sendiri pernah memuji Nabi ﷺ dalam syairnya.

5. Peringatan dari Syirik dan Jalan Menuju Syirik

Hadits ini adalah salah satu dalil bahwa ghuluw terhadap orang shalih adalah wasilah (jalan) menuju kesyirikan. Oleh karena itu, para ulama Ahlus Sunnah sangat keras dalam menutup pintu-pintu yang dapat mengantarkan kepada syirik, meskipun niat pelakunya baik.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan panjang lebar dalam Majmu' Fatawa bahwa larangan ini mencakup larangan berdoa kepada Nabi ﷺ setelah wafatnya, meminta kepada beliau hal-hal yang hanya bisa diminta kepada Allah, dan meyakini beliau memiliki pengetahuan gaib atau kemampuan mengatur alam semesta. Semua ini adalah bentuk ghuluw yang dilarang.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab-kitabnya, seperti Kitab At-Tauhid, menjadikan hadits ini sebagai dalil utama dalam bab larangan ghuluw dan peringatan dari syirik. Beliau menjelaskan bahwa keselamatan agama seseorang terletak pada mengikuti sunnah dan menjauhi ghuluw.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika turun firman Allah ﷻ:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi..." (QS. Al-Ahzab [33]: 56)

Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, kami tahu bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu?"

Maka Nabi ﷺ mengajarkan mereka lafaz shalawat yang diajarkan dalam hadits Ka'ab bin 'Ujrah, yaitu:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Perhatikanlah, dalam shalawat yang diajarkan Nabi ﷺ ini, beliau menyerupakan dirinya dengan Nabi Ibrahim عليه السلام, bukan menyerupakan dirinya dengan Allah ﷻ. Ini menunjukkan adab yang diajarkan Nabi ﷺ kepada umatnya dalam memujinya, yaitu pujian yang wajar dan tidak berlebihan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ adalah bentuk pujian yang disyariatkan, dan lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ sendiri adalah lafaz yang paling sempurna karena tidak mengandung ghuluw.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi pujian berlebihan kepada Nabi ﷺ — seperti menyebut beliau dengan sifat-sifat ketuhanan, atau meyakini beliau mengetahui hal gaib, atau meminta kepada beliau setelah wafatnya.
  2. Cukupkan pujian kepada Nabi ﷺ sesuai yang diajarkan — seperti bershalawat dengan lafaz yang diajarkan, dan menyebut beliau sebagai hamba Allah dan Rasul-Nya.
  3. Jadikan hadits ini sebagai prinsip dalam mencintai Nabi ﷺ — cinta yang benar adalah dengan mengikuti sunnahnya, bukan dengan ghuluw.
  4. Waspadai wasilah-wasilah kesyirikan — karena ghuluw terhadap orang shalih adalah pintu masuk menuju syirik, sebagaimana terjadi pada umat-umat terdahulu.
  5. Amalkan shalawat dengan lafaz yang shahih — dan jangan menambah lafaz-lafaz yang mengandung ghuluw.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?