Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa pada Perang Khandaq, ketika Abdullah bin az-Zubair masih kecil berada di benteng bersama Umar bin Abi Salamah dan para istri Nabi ﷺ. Ia melihat ayahnya, az-Zubair bin al-Awwam, berangkat memerangi Banu Quraizhah. Yang paling penting dari hadits ini adalah keutamaan az-Zubair, karena Nabi ﷺ mendoakannya dengan menyebut kedua orang tuanya sebagai tebusan — sebuah penghormatan yang sangat tinggi dan jarang terjadi.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (Musnad az-Zubair bin al-Awwam, no. 1409), dari jalur Abu Usamah (Hammad bin Usamah) dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya (Urwah bin az-Zubair), dari Abdullah bin az-Zubair. Sanad ini shahih dan para perawinya tsiqah (terpercaya).
Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, dari jalur Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Abdullah bin az-Zubair. Imam al-Bukhari meriwayatkannya dalam Kitab al-Jihad wa as-Siyar, dan Imam Muslim dalam Kitab Fadha'il ash-Shahabah, bab keutamaan az-Zubair bin al-Awwam.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan para sahabat yang berjihad di jalan Allah:
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ
Terjemahan: "Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali 'Imran [3]: 169)
Ayat ini menunjukkan tingginya kedudukan orang yang berjihad di jalan Allah, dan az-Zubair adalah salah satu mujahid utama dalam Perang Khandaq.
Penjelasan Rinci
Konteks Peristiwa Perang Khandaq
Perang Khandaq (juga disebut Perang Ahzab) terjadi pada tahun ke-5 Hijriah. Kaum musyrikin Quraisy bersama sekutu-sekutu mereka mengepung Madinah. Atas usul Salman al-Farisi, kaum Muslimin menggali parit (khandaq) di sekeliling Madinah sebagai benteng pertahanan. Dalam situasi genting ini, Banu Quraizhah — yang sebelumnya terikat perjanjian dengan kaum Muslimin — berkhianat dan bersiap menyerang dari arah belakang.
Penjelasan Ibnu Hajar al-Asqalani
Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa faedah penting:
Pertama, keutamaan az-Zubair bin al-Awwam. Ucapan Nabi ﷺ "فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي" (semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan untukmu) adalah bentuk pujian dan doa yang sangat tinggi. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengucapkan ini kepada sembarang orang, dan ini menunjukkan kedudukan az-Zubair yang mulia di sisi Nabi ﷺ.
Kedua, hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengutus az-Zubair bersama pasukan untuk menghadapi Banu Quraizhah. Ini menunjukkan keberanian dan kepercayaan Nabi ﷺ kepadanya dalam tugas-tugas berat.
Ketiga, hadits ini menggambarkan suasana Perang Khandaq secara nyata — bahwa para istri Nabi ﷺ ditempatkan di benteng (uthum) milik Hassan bin Tsabit untuk keamanan, dan anak-anak kecil seperti Abdullah bin az-Zubair serta Umar bin Abi Salamah ikut berada di sana.
Penjelasan Imam an-Nawawi
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk bab manaqib (keutamaan) az-Zubair bin al-Awwam. Beliau menyebutkan bahwa az-Zubair adalah salah satu sahabat yang paling berani dan selalu berada di barisan terdepan dalam setiap peperangan bersama Nabi ﷺ. Ucapan Nabi ﷺ "fidaaka abi wa ummi" menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat mencintai az-Zubair dan menghargai pengorbanannya.
Penjelasan Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menyebutkan bahwa pada Perang Khandaq, az-Zubair bin al-Awwam termasuk di antara para sahabat yang ditugaskan Nabi ﷺ untuk memantau dan menghadapi gerakan Banu Quraizhah. Ibnu Katsir juga menukil bahwa az-Zubair adalah salah satu dari sedikit sahabat yang Nabi ﷺ sebutkan kedua orang tuanya sebagai tebusan, yang menunjukkan kedudukan istimewanya.
Penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali
Ibnu Rajab dalam Fath al-Bari (syarh Shahih al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ menghargai jasa para sahabatnya. Ucapan "fidaaka abi wa ummi" adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam budaya Arab, karena orang Arab sangat menjunjung tinggi kehormatan orang tua. Nabi ﷺ yang mulia rela menyebutkan kedua orang tuanya sebagai tebusan untuk az-Zubair, menunjukkan betapa besar jasa az-Zubair dalam membela Islam.
Pelajaran tentang Adab dan Akhlak
Hadits ini juga mengajarkan adab kepada anak-anak. Abdullah bin az-Zubair yang masih kecil sudah diajarkan untuk mengenal perjuangan ayahnya dan berbicara dengan penuh hormat. Ketika ia berkata "Wahai ayahku, demi Allah, aku mengenalmu ketika kamu pergi menuju Banu Quraizhah," ini menunjukkan kedekatan dan rasa hormat seorang anak kepada ayahnya.
Story Telling
Kisah Keberanian az-Zubair bin al-Awwam
Az-Zubair bin al-Awwam adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang paling berani. Beliau adalah orang keempat atau kelima yang masuk Islam, dan termasuk dalam sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Dalam berbagai peperangan, az-Zubair selalu berada di barisan terdepan.
Pada Perang Khandaq, ketika kaum Muslimin dikepung dari segala arah dan Banu Quraizhah berkhianat, Nabi ﷺ membutuhkan orang yang berani untuk memantau gerakan musuh. Az-Zubair pun berangkat menunaikan tugas berat itu. Anaknya, Abdullah, yang masih kecil, melihat ayahnya dari atas benteng dan mengenalinya.
Ketika az-Zubair kembali, Abdullah kecil berkata kepadanya dengan penuh kekaguman. Az-Zubair lalu menjawab dengan penuh syukur: "Wahai anakku, demi Allah, Rasulullah ﷺ menyebutkan kedua orang tuanya bersamaku ketika beliau berkata: 'Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan untukmu.'"
Ucapan ini bukan sekadar kebanggaan seorang ayah, tetapi pengakuan bahwa penghormatan dari Nabi ﷺ jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Az-Zubair mengajarkan kepada anaknya bahwa yang paling penting bukanlah pujian manusia, melainkan doa dan penghargaan dari Rasulullah ﷺ.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa pengorbanan di jalan Allah akan selalu dihargai, dan bahwa penghormatan dari Nabi ﷺ adalah kemuliaan tertinggi yang tidak tertandingi oleh apa pun.
Kesimpulan Praktis
- Keutamaan az-Zubair bin al-Awwam — Hadits ini menegaskan kedudukan mulia az-Zubair sebagai sahabat yang berani dan dicintai Nabi ﷺ, sehingga beliau mendoakannya dengan menyebut kedua orang tuanya sebagai tebusan.
- Pentingnya pengorbanan di jalan Allah — Perang Khandaq adalah ujian berat bagi kaum Muslimin, dan az-Zubair termasuk yang paling gigih berjuang. Ini mengajarkan kita untuk tidak ragu berkorban untuk agama Allah.
- Adab anak kepada orang tua — Abdullah bin az-Zubair mengajarkan kita bagaimana berbicara dengan hormat kepada orang tua, bahkan ketika masih kecil.
- Mengajarkan sejarah kepada anak-anak — Abdullah kecil sudah diajak mengenal perjuangan ayahnya. Ini menunjukkan pentingnya menanamkan kecintaan kepada para sahabat dan sejarah Islam sejak dini.
- Menghargai jasa orang lain — Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk menghargai jasa orang lain dengan ucapan yang baik dan doa, sebagaimana beliau menghargai az-Zubair.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.