Penjelasan Hadits Ahmad No. 1379 tentang Kemunculan kelompok Khawarij dari arah timur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, berisi kabar Nabi ﷺ tentang munculnya sekelompok orang dari arah timur yang rajin membaca Al-Qur'an tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan mereka — artinya tidak masuk ke hati dan tidak diamalkan. Mereka keluar dari agama seperti anak panah menembus hewan buruan, dan di antara mereka ada seorang lelaki bertangan cacat. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai isyarat tentang kelompok Khawarij dan tanda-tanda mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini memiliki makna yang sangat erat dengan ayat tentang orang-orang yang memisahkan diri dari jamaah dan berlebih-lebihan. Di antara dalil yang paling dekat:

QS. Ali 'Imran [3]: 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Terjemahan: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."

QS. Al-Mu'minun [23]: 52–53 menunjukkan celaan terhadap orang yang memecah belah agama mereka menjadi golongan-golongan.

Adapun hadits-hadits terkait yang shahih dan menjadi rujukan utama dalam memahami hadits ini:

  1. Hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi ﷺ menyebut akan keluar kelompok yang "يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ" (keluar dari agama) dan menyebut tanda mereka adalah seorang lelaki bertangan cacat.
  2. Hadits dari 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه sendiri dalam Shahih Muslim, ketika beliau mengutus pasukan menghadapi Khawarij dan menemukan lelaki bertangan cacat itu, lalu beliau berkata: "Kalau bukan karena aku takut kalian akan mengatakan aku berlebihan, sungguh aku akan ceritakan apa yang Allah janjikan melalui lisan Nabi-Nya tentang orang-orang yang membunuh mereka."

Kaitan dengan ulama daftar:

  • Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, dan beliau sendiri terkenal tegas dalam masalah aqidah serta memperingatkan dari kelompok yang menyimpang.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar hadits-hadits Khawarij dan tanda-tandanya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna "لا يجاوز تراقيهم" dan sifat-sifat Khawarij.
  • Ibn Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah dan Ibn Qayyim dalam Madarij as-Salikin membahas sifat Khawarij dan bahaya ghuluw.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menjelaskan ayat-ayat tentang orang munafik dan pemecah belah agama.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Makna "يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ"

Secara bahasa, "تَرَاقِي" adalah tulang-tulang di pangkal leher (tenggorokan). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah bacaan Al-Qur'an itu hanya sampai di lisan dan tenggorokan, tidak turun ke hati dan tidak membuahkan amal. Jadi mereka membaca dengan lisan, tetapi hati mereka kosong dari keimanan yang benar dan amal yang sesuai tuntunan.

Kedua: Makna "يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ"

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini adalah perumpamaan yang sangat tepat: anak panah yang menembus hewan buruan dengan sangat cepat sehingga tidak ada bekas darah atau daging yang menempel padanya. Demikian pula Khawarij — mereka keluar dari agama dengan sangat cepat, tidak ada sedikit pun dari agama yang tersisa pada mereka.

Ketiga: Siapa yang dimaksud?

Jumhur ulama Ahlus Sunnah — termasuk Imam Ahmad, Ibnu Hajar, an-Nawawi, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim — memahami bahwa yang dimaksud dalam hadits ini adalah Khawarij, yaitu kelompok yang keluar memberontak terhadap 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, mengkafirkan pelaku dosa besar, dan menghalalkan darah kaum muslimin. Mereka muncul dari arah timur (Irak/Persia), dan ciri khas mereka adalah berlebih-lebihan dalam ibadah tetapi keliru dalam pemahaman dan sikap.

Keempat: Tanda tangan cacat

"مُخْدَجُ الْيَدِ" berarti tangan yang tidak sempurna, seperti payudara wanita Habasyah (yakni menggantung dan tidak berfungsi normal). Ini adalah tanda spesifik yang disebutkan Nabi ﷺ dan terbukti terjadi pada pemimpin Khawarij yang dibunuh di masa 'Ali رضي الله عنه, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim.

Kelima: Perbedaan pendapat

Sebagian ulama daftar seperti Ibn Taymiyyah dalam Minhaj as-Sunnah menegaskan bahwa sifat-sifat Khawarij bisa muncul pada siapa saja yang memiliki ciri-ciri serupa: mengkafirkan muslim lain karena dosa, memberontak terhadap penguasa muslim tanpa syarat syar'i, dan berlebih-lebihan dalam ibadah tanpa ilmu. Jadi hadits ini bukan hanya tentang kelompok historis tertentu, tetapi juga peringatan bagi umat Islam secara umum.

Keenam: Adab dalam menyikapi

Para ulama Ahlus Sunnah mengajarkan kita untuk tidak mudah menuduh orang lain sebagai Khawarij tanpa bukti. Namun kita juga diperintahkan berhati-hati dari sifat-sifat mereka: ghuluw (berlebihan), takfir (mudah mengkafirkan), dan memberontak tanpa dasar syar'i.

Story Telling

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri رضي الله عنه, bahwa ketika Nabi ﷺ membagi harta, datang seorang lelaki bernama Dzul Khuwaishirah (dari Bani Tamim) dan berkata dengan kasar: "Berlaku adillah, wahai Rasulullah!" Nabi ﷺ menjawab: "Celaka kamu, siapa yang akan berlaku adil kalau aku tidak adil?" Lalu Nabi ﷺ bersabda tentang orang ini dan pengikutnya: "Akan keluar dari keturunan orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur'an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah menembus sasaran."

Kisah ini menunjukkan bahwa akar Khawarij adalah sikap kasar, merasa paling benar, dan berani menentang pemimpin dengan cara yang tidak syar'i. 'Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه kemudian memerangi mereka berdasarkan hadits ini, dan menemukan lelaki bertangan cacat persis seperti yang disifatkan Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Rajin membaca Al-Qur'an harus disertai pemahaman dan amal, bukan hanya bacaan lisan tanpa bekas di hati.
  2. Hindari ghuluw (berlebihan) dalam beragama dan mudah mengkafirkan atau menyesatkan orang lain tanpa ilmu.
  3. Berpegang pada jamaah muslimin dan ulama Ahlus Sunnah, serta tidak memberontak terhadap penguasa muslim tanpa syarat syar'i yang jelas.
  4. Pelajari aqidah dan manhaj salaf dari ulama yang terpercaya agar tidak terjatuh pada penyimpangan.
  5. Beradab dalam berdakwah dan berbeda pendapat, meneladani Nabi ﷺ dan para sahabat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?