Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tentang shalat sunnah rawatib (shalat sunnah yang mengiringi shalat wajib) yang biasa dilakukan oleh Nabi ﷺ di siang hari, khususnya sebelum dan sesudah shalat Zhuhur serta sebelum shalat Ashar. Hadits ini juga mengajarkan bahwa Nabi ﷺ memisahkan setiap dua rakaat dengan salam, dan ini menunjukkan bahwa shalat sunnah rawatib itu dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, tidak digabung menjadi empat rakaat sekaligus dengan satu salam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sahabat mulia Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Muhammad bin Ja'far, dari Syu'bah, dari Abu Ishaq, dari 'Ashim bin Dhumrah.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 598) dan Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, dengan lafaz yang serupa.
Ayat Al-Qur'an yang relevan tentang perintah menjaga shalat:
QS. Al-Baqarah [2]: 238
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
"Peliharalah semua shalat (fardhu) dan shalat wustha (shalat Ashar). Berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk."
Hadits terkait dari shahih:
Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ"
"Barangsiapa shalat dua belas rakaat dalam sehari semalam, maka dibangunkan baginya sebuah rumah di surga." (HR. Muslim no. 728)
Kaitan dengan ulama:
Imam At-Tirmidzi ketika membawakan hadits ini dalam Sunan-nya, beliau berkomentar bahwa para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in menganjurkan shalat empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sebelum Ashar. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal juga menyebutkan keutamaan shalat sunnah sebelum Ashar berdasarkan hadits-hadits yang shahih.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Shalat sunnah rawatib sebelum Zhuhur
Dalam hadits ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa Nabi ﷺ shalat empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya. Ini sesuai dengan hadits Ummu Habibah yang menyebutkan bahwa di antara dua belas rakaat yang dijanjikan rumah di surga adalah empat rakaat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya.
Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ kadang shalat empat rakaat sebelum Zhuhur dan kadang dua rakaat, namun yang paling sering adalah empat rakaat. Beliau juga menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memisahkan antara dua rakaat dengan salam.
Kedua: Shalat sunnah sebelum Ashar
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ shalat empat rakaat sebelum Ashar. Imam At-Tirmidzi menyebutkan bahwa sebagian ulama menganjurkan hal ini, dan ini juga pendapat Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa shalat sunnah sebelum Ashar termasuk shalat sunnah ghairu mu'akkadah (tidak terlalu ditekankan), namun tetap memiliki keutamaan yang besar berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.
Ketiga: Pemisahan setiap dua rakaat dengan salam
Ini adalah pelajaran penting dari hadits ini. Nabi ﷺ memisahkan setiap dua rakaat dengan salam. Ini menunjukkan bahwa shalat sunnah rawatib itu dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, tidak digabung menjadi empat rakaat dengan satu salam.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa shalat sunnah itu dikerjakan dua rakaat-dua rakaat berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)
Keempat: Lafaz salam dalam shalat sunnah
Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan salam kepada para malaikat, para nabi, dan orang-orang yang mengikuti mereka. Ini menunjukkan bahwa dalam shalat, seorang muslim mengucapkan salam kepada makhluk Allah yang mulia di sisi-Nya.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa lafaz salam dalam shalat adalah "Assalamu'alaikum warahmatullah" di kedua sisi, dan ini yang paling utama. Adapun tambahan lafaz seperti dalam hadits ini, para ulama menjelaskan bahwa itu adalah doa yang diucapkan dalam hati, bukan lafaz salam yang diucapkan saat menoleh ke kanan dan kiri.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa 'Ashim bin Dhamrah - seorang tabi'in yang mulia dan perawi hadits ini - sangat bersemangat untuk mengetahui amalan Nabi ﷺ. Beliau bertanya kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tentang shalat sunnah Nabi ﷺ di siang hari.
Ketika Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Kalian tidak mampu melakukannya," ini menunjukkan betapa banyaknya ibadah Nabi ﷺ. Namun para sahabat dan tabi'in tetap bersemangat untuk meniru, walaupun tidak bisa sempurna seperti Nabi ﷺ.
Ini mengajarkan kita adab dalam menuntut ilmu: bertanya kepada ahlinya, bersemangat untuk beramal, dan tidak merasa cukup dengan amalan yang sedikit jika masih mampu menambah kebaikan.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menceritakan bahwa para salaf sangat menjaga shalat sunnah rawatib, karena mereka memahami bahwa shalat sunnah itu menutup kekurangan dalam shalat wajib. Beliau menukil perkataan sebagian ulama: "Sesungguhnya shalat sunnah itu seperti shalat wajib dalam hal pahala, dan ia menutup kekurangan yang ada dalam shalat wajib."
Kesimpulan Praktis
- Menjaga shalat sunnah rawatib - Khususnya empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudahnya, dan empat rakaat sebelum Ashar, karena ini adalah amalan Nabi ﷺ yang dicontohkan.
- Mengerjakan shalat sunnah dua rakaat-dua rakaat - Setiap dua rakaat diakhiri dengan salam, tidak digabung menjadi empat rakaat dengan satu salam.
- Bersemangat dalam ibadah - Walaupun kita tidak mampu seperti Nabi ﷺ, kita tetap berusaha semaksimal mungkin, karena Allah melihat usaha dan keikhlasan kita.
- Menuntut ilmu dengan adab - Seperti 'Ashim bin Dhamrah yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, kita juga harus bertanya kepada ulama yang terpercaya tentang tata cara ibadah yang benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.