Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang munculnya kelompok Khawarij di akhir zaman. Mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah dan membaca Al-Qur'an, namun pemahaman mereka sangat dangkal sehingga Al-Qur'an tidak masuk melewati tenggorokan mereka (tidak meresap ke dalam hati). Akibatnya, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari sasaran. Hadits ini memerintahkan kaum Muslimin untuk memerangi mereka, dan ini telah terbukti terjadi pada masa sahabat ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu memerangi kelompok Khawarij di Nahrawan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang ciri orang munafik yang tidak memahami Al-Qur'an:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّىٰ إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad), sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu, 'Apa yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hatinya oleh Allah dan mengikuti keinginannya." (QS. Muhammad [47]: 16)
Hadits Terkait:
Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang lebih lengkap. Dalam Shahih al-Bukhari, dari Ali radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ النَّاسِ، يَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
"Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang masih muda usianya dan dangkal pemikirannya. Mereka mengatakan sebaik-baik perkataan manusia (yaitu Al-Qur'an), mereka membaca Al-Qur'an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari sasaran." (HR. Al-Bukhari no. 3611 dan Muslim no. 1066)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa makna "tidak melewati tenggorokan" adalah Al-Qur'an tidak sampai ke hati mereka. Mereka membaca dengan lisan, namun hati mereka tidak memahami dan tidak merenungkan maknanya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mereka membaca Al-Qur'an namun tidak mengamalkannya dan tidak memahami maksudnya dengan benar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Ciri-ciri Kelompok yang Disebut dalam Hadits
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kelompok yang dimaksud adalah Khawarij. Ciri-ciri mereka disebutkan dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya:
- Membaca Al-Qur'an dengan tekun — bahkan disebutkan dalam riwayat lain bahwa bacaan mereka sangat bagus dan ibadah mereka sangat banyak, sampai-sampai para sahabat merasa ibadah mereka kalah dibandingkan kelompok ini.
- Namun Al-Qur'an tidak melewati tenggorokan mereka — maksudnya, pemahaman mereka sangat dangkal. Mereka hanya membaca di lisan, tidak merenungkan maknanya, dan tidak mengamalkannya dengan benar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa mereka memahami Al-Qur'an hanya dari zhahir (teks) tanpa memperhatikan kaidah-kaidah pemahaman yang benar, sehingga mereka salah dalam menafsirkan dan menerapkannya.
- Keluar dari Islam — karena kesalahan pemahaman mereka yang parah, mereka mengkafirkan kaum Muslimin yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan menghalalkan darah dan harta kaum Muslimin. Ini adalah bentuk kekufuran yang mengeluarkan mereka dari Islam.
2. Perintah Memerangi Mereka
Sabda Nabi ﷺ: "Memerangi mereka adalah hak (kewajiban) bagi setiap Muslim" — menunjukkan bahwa kelompok ini wajib diperangi karena kerusakan mereka sangat besar. Mereka menumpahkan darah kaum Muslimin, menakuti orang-orang yang aman, dan merusak agama.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa perintah ini bersifat sesuai konteksnya — yaitu ketika mereka memberontak dan memerangi kaum Muslimin. Adapun jika mereka tidak memerangi, maka tidak boleh memulai memerangi mereka, namun tetap wajib mengingkari kesesatan mereka.
3. Terbukti pada Masa Ali bin Abi Thalib
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini terbukti ketika muncul kelompok Khawarij pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Mereka awalnya adalah orang-orang yang ikut berperang bersama Ali di Shiffin, namun ketika Ali menerima tahkim (arbitrase), mereka menolak dan berkata: "Tidak ada hukum kecuali milik Allah" (لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ). Mereka keluar dari barisan Ali dan mengkafirkan beliau.
Ali bin Abi Thalib kemudian memerangi mereka di Nahrawan dan mengalahkan mereka. Ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa ciri pemimpin mereka adalah seorang pria yang cacat tangannya, dan memang ditemukan pada diri Abdullah bin Dzil Khuwaishirah at-Tamimi.
4. Pelajaran Penting
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa bahaya terbesar kelompok ini adalah ghuluw (berlebihan) dalam agama. Mereka rajin beribadah, namun karena pemahaman yang salah, ibadah mereka justru menyeret mereka pada kesesatan. Ini menunjukkan bahwa ibadah tanpa ilmu yang benar bisa menjadi bencana.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu selesai memerangi kelompok Khawarij di Nahrawan, para sahabat bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, apakah mereka orang-orang kafir?" Ali menjawab: "Mereka telah lari dari kekufuran." Mereka bertanya lagi: "Apakah mereka orang-orang munafik?" Ali menjawab: "Orang-orang munafik tidak mengingat Allah kecuali sedikit. Mereka ini telah disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya." Kemudian Ali berkata: "Mereka adalah saudara-saudara kita yang berbuat zhalim kepada kita. Allah telah memerintahkan kita untuk memerangi mereka karena kezhaliman mereka." (Disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan)
Kisah ini menunjukkan betapa bijaksananya Ali dalam menyikapi kelompok sesat ini. Beliau tidak mengkafirkan mereka secara mutlak, namun beliau memerangi mereka karena kezhaliman dan kerusakan yang mereka timbulkan. Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana kita menyikapi kelompok-kelompok sesat — kita tidak boleh berlebihan dalam menghukumi mereka, namun kita juga tidak boleh diam terhadap kerusakan mereka.
Kesimpulan Praktis
- Berhati-hatilah dari pemahaman yang dangkal — membaca Al-Qur'an dan hadits harus disertai dengan belajar kepada ulama yang benar, karena pemahaman yang salah bisa menyeret seseorang keluar dari Islam.
- Jauhi sikap ghuluw (berlebihan) dalam beragama — termasuk mengkafirkan kaum Muslimin yang berbeda pendapat dalam masalah ijtihadiyah.
- Pelajarilah agama dengan bimbingan ulama — karena Al-Qur'an dan Sunnah harus dipahami sesuai pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, bukan dipahami dengan akal dan hawa nafsu semata.
- Waspadai kelompok-kelompok yang mengaku Islam namun mengkafirkan kaum Muslimin — karena ini adalah ciri khas Khawarij yang disebutkan dalam hadits.
- Perbanyak doa meminta keistiqamahan — karena hati manusia bisa berbolak-balik, dan seseorang bisa beribadah bertahun-tahun namun akhirnya tersesat karena kesombongan dan kebodohan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.