Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 1303 tentang Ciri-ciri dan perintah memerangi kelompok khawarij

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits shahih yang sangat agung dan penting, yang memberitakan tentang munculnya kelompok Khawarij di tengah umat Islam. Rasulullah ﷺ menggambarkan mereka dengan tiga ciri utama: (1) mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah yang menembus buruan, (2) mereka membaca Al-Qur'an namun tidak melewati tenggorokan mereka (artinya tidak meresap ke dalam hati), dan (3) tanda pemimpin mereka adalah seorang laki-laki yang cacat tangannya. Hadits ini mengajarkan kita untuk waspada terhadap sikap ekstrem dalam beragama dan pentingnya mengikuti pemahaman para sahabat, bukan sekadar membaca teks tanpa pemahaman yang benar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 1303) dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 1066) dengan lafaz yang serupa, serta oleh para ulama hadits lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ"

Artinya: "Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari sasaran (buruan)."

Allah Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian." (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam harus dijalani secara utuh dan seimbang, tidak dengan sikap ekstrem yang justru membuat seseorang keluar dari agama.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat rinci. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "keluar dari Islam" dalam hadits ini adalah mereka keluar dari ketaatan dan sunnah, bukan keluar dari keislaman secara mutlak di mata sebagian ulama. Namun, sebagian ulama lain seperti Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keadaan mereka yang memerangi kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka menjadikan mereka keluar dari Islam yang hakiki, karena perbuatan mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang jelas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang munculnya kelompok Khawarij yang mengangkat Al-Qur'an namun tidak memahaminya dengan pemahaman yang benar. Mereka membaca Al-Qur'an dengan lisan mereka, tetapi tidak sampai ke hati mereka. Ini adalah peringatan bahwa sekadar membaca dan menghafal Al-Qur'an tidak cukup; yang terpenting adalah memahami dan mengamalkannya sesuai dengan pemahaman para sahabat dan tabi'in.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa ciri "tidak melewati tenggorokan" bermakna Al-Qur'an tidak meresap ke dalam hati mereka, sehingga tidak membuahkan amal yang benar. Mereka hanya mengambil ayat-ayat yang sesuai dengan hawa nafsu mereka dan meninggalkan yang lainnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa bahayanya sikap ekstrem dalam beragama. Orang yang ekstrem sering kali merasa dirinya paling benar dan mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat dengannya, padahal justru mereka yang menyimpang.

Adapun tentang tanda "tangan yang cacat" (mukhdat al-yad), para ulama menjelaskan bahwa ini adalah tanda fisik yang nyata pada pemimpin Khawarij yang bernama Dzul Khuwaishirah at-Tamimi, yang pernah muncul di hadapan Rasulullah ﷺ dan berkata dengan kurang ajar: "Berlaku adillah wahai Muhammad!" Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Celaka engkau, siapa yang berlaku adil jika aku tidak berlaku adil?" Kemudian beliau bersabda bahwa akan muncul dari keturunan orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melewati tenggorokan mereka.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ketika menghadapi kelompok Khawarij. Ketika beliau memerangi mereka di Nahrawan, beliau memerintahkan pasukannya untuk mencari tanda yang disebutkan Rasulullah ﷺ, yaitu seorang laki-laki dengan tangan yang cacat. Setelah dicari, mereka menemukan laki-laki tersebut di antara korban perang. Maka Ali bin Abi Thalib bertakbir dan bersujud syukur, karena terbukti bahwa apa yang disabdakan Rasulullah ﷺ adalah benar. Beliau berkata: "Demi Allah, aku tidak berbohong dan tidak dibohongi." Kisah ini menunjukkan bahwa hadits ini benar-benar terjadi dan menjadi bukti kenabian Rasulullah ﷺ.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita harus berpegang teguh pada sunnah dan pemahaman para sahabat, serta menjauhi sikap ekstrem yang justru merusak agama.

Kesimpulan Praktis

  1. Waspada terhadap sikap ekstrem dalam beragama, karena dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
  2. Membaca Al-Qur'an saja tidak cukup; kita harus memahami dan mengamalkannya sesuai dengan pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah.
  3. Jangan mudah mengkafirkan sesama muslim yang berbeda pendapat dalam masalah furu'iyyah (cabang).
  4. Berpegang teguh pada sunnah dan menjauhi perpecahan, karena persatuan umat adalah perintah Allah.
  5. Meneladani para sahabat dalam menghadapi perbedaan, dengan hikmah dan keadilan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.