Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah doa yang diajarkan dan dibaca oleh Nabi ﷺ di akhir shalat Witir. Isinya adalah permohonan perlindungan kepada Allah dari kemurkaan dan siksa-Nya, serta pengakuan bahwa kita tidak mampu menghitung pujian kepada Allah. Doa ini mengajarkan kita adab yang sangat tinggi kepada Allah: berlindung kepada-Nya dari kemurkaan-Nya, dan mengakui keagungan-Nya dengan penuh kerendahan hati.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Ahmad:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah dengan redaksi yang serupa.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ النَّاجِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عَمْرٍو الْفَزَارِيِّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ:
"اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ"
Terjemahan: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu (maaf-Mu) dari siksa-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari (siksa)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Firman Allah Ta'ala:
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada penolong bagi-Nya dari kehinaan, dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.'" (QS. Al-Isra' [17]: 111)
Ayat ini menunjukkan bahwa pujian yang sempurna hanya milik Allah, dan kita diperintahkan untuk mengagungkan-Nya. Doa Nabi ﷺ di atas sejalan dengan makna ini, bahwa kita tidak akan pernah mampu memuji Allah secara sempurna.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu doa yang paling agung yang diajarkan Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari doa ini:
1. Makna "A'udzu bi ridhaka min sakhathika" (Aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu)
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa doa ini mengandung adab yang sangat tinggi. Seorang hamba berlindung kepada sifat Allah yang Maha Pengasih (ridha) dari sifat-Nya yang Maha Menghukum (murka). Ini menunjukkan bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada Allah sendiri. Tidak ada yang bisa menyelamatkan kita dari murka Allah kecuali rahmat dan keridhaan-Nya.
2. Makna "Wa mu'afatika min 'uqubatika" (Dan dengan keselamatan-Mu dari siksa-Mu)
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa "mu'afah" berarti perlindungan dari segala keburukan dan musibah. Hamba memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan dari siksa-Nya, karena hanya Allah yang mampu memberikan keselamatan tersebut.
3. Makna "Wa a'udzu bika minka" (Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu)
Ini adalah kalimat yang sangat dalam maknanya. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa ini adalah pengakuan bahwa tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada Allah sendiri. Jika Allah menghendaki keburukan bagi seseorang, maka tidak ada yang bisa menghalanginya. Karena itu, hamba berlindung kepada rahmat Allah dari adzab-Nya, kepada karunia-Nya dari murka-Nya.
4. Makna "La uhshi tsana'an 'alaika" (Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa manusia tidak akan pernah mampu memuji Allah secara sempurna, karena pujian yang sempurna membutuhkan pengetahuan yang sempurna tentang Allah, dan itu mustahil bagi manusia. Bahkan Nabi ﷺ sendiri mengakui keterbatasan ini.
5. Makna "Anta kama atsnaita 'ala nafsik" (Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri)
Imam As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah-lah yang paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri. Pujian Allah terhadap diri-Nya di dalam Al-Qur'an adalah pujian yang paling sempurna dan paling benar. Sedangkan pujian manusia kepada Allah, meskipun setinggi apa pun, tetap tidak akan mencapai hakikat pujian yang layak bagi-Nya.
Kedudukan Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 486) dari Ali bin Abi Thalib, dan juga oleh para penyusun kitab Sunan. Imam At-Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al-Albani rahimahullah juga menshahihkannya dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Sunan At-Tirmidzi.
Kapan Dibaca:
Para ulama menjelaskan bahwa doa ini dibaca di akhir shalat Witir, yaitu setelah salam atau sebelum salam. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ membacanya setelah salam dari shalat Witir. Ini menunjukkan bahwa doa ini adalah penutup yang agung dari ibadah malam.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling mencintai dan memahami doa-doa Nabi ﷺ. Beliau meriwayatkan banyak doa dari Rasulullah ﷺ dan sangat menjaga hafalannya.
Suatu ketika, Ali bin Abi Thalib ditanya tentang shalat Witir Rasulullah ﷺ, maka beliau menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca doa yang agung ini di akhir Witirnya. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ, termasuk doa-doa yang beliau baca, agar bisa meneladaninya dengan sempurna.
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, yang meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Beliau menghabiskan hidupnya untuk mengumpulkan dan memilah hadits-hadits Nabi ﷺ, dan Musnad-nya yang berisi lebih dari 27.000 hadits menjadi salah satu rujukan utama umat Islam.
Kesimpulan Praktis
- Rutinkan membaca doa ini di akhir shalat Witir, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang diajarkan kepada Ali bin Abi Thalib.
- Renungkan maknanya: Doa ini mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari murka dan siksa-Nya, serta mengakui kelemahan kita dalam memuji-Nya.
- Amalkan dengan penuh kesadaran bahwa kita sedang berdialog dengan Allah, bukan sekadar membaca rangkaian kata.
- Jadikan doa ini sebagai penutup ibadah malam, karena Witir adalah penutup shalat malam, dan doa di akhirnya adalah momen yang mustajab.
- Pelajari adab berdoa dari Nabi ﷺ: Doa ini mengajarkan kita untuk memulai dengan pengakuan kelemahan dan kebutuhan kepada Allah, bukan dengan meminta langsung tanpa adab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.