Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 1246 tentang Shalat Asar adalah shalat tengah yang utama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa pada Perang Khandaq (Ahzab), di mana kaum Muslimin disibukkan oleh peperangan sehingga shalat Ashar terlewat dan baru bisa dilaksanakan setelah waktunya habis, yaitu antara Maghrib dan Isya. Nabi ﷺ sangat sedih dan marah karena kehilangan shalat Ashar, yang disebut sebagai ash-shalatul wustha (shalat tengah). Beliau mendoakan kecelakaan bagi orang-orang kafir yang menjadi penyebabnya. Hadits ini menunjukkan betapa agungnya kedudukan shalat Ashar di sisi Allah dan Rasul-Nya ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha (tengah), dan berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk."

(QS. Al-Baqarah [2]: 238)

Ayat ini adalah dalil utama tentang perintah menjaga shalat, dan mayoritas ulama menafsirkan ash-shalatul wustha sebagai shalat Ashar, berdasarkan hadits yang sedang kita bahas ini.

2. Hadits Terkait:

Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat Al-Bukhari, Nabi ﷺ bersabda:

شَغَلُونَا عَنْ صَلَاةِ الْوُسْطَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مَلَأَ اللَّهُ قُبُورَهُمْ وَبُيُوتَهُمْ نَارًا

"Mereka telah menyibukkan kita dari shalat wustha, yaitu shalat Ashar. Semoga Allah memenuhi kubur dan rumah-rumah mereka dengan api."

(HR. Al-Bukhari no. 2931, Muslim no. 627)

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat di kalangan sahabat dan tabi'in—seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, dan Sa'id bin al-Musayyib—adalah bahwa shalat wustha itu adalah shalat Ashar.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan panjang lebar tentang keutamaan shalat Ashar dan makna doa Nabi ﷺ tersebut.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Shutair bin Shakal al-'Absi dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-5 Hijriyah, saat Perang Khandaq (Ahzab). Kaum Muslimin dikepung oleh pasukan sekutu (Quraisy, Ghathafan, dan kabilah-kabilah lain) yang jumlahnya sangat besar. Mereka sibuk menggali parit dan berjaga-jaga sehingga waktu Ashar berlalu begitu saja.

Pertama: Makna "Shalat Wustha"

Para ulama berbeda pendapat tentang makna ash-shalatul wustha. Namun pendapat yang paling kuat—dan inilah yang dipilih oleh mayoritas ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in—adalah shalat Ashar. Di antara ulama yang berpendapat demikian:

  • Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (perawi hadits ini sendiri)
  • Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
  • Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
  • Sa'id bin al-Musayyib (imam tabi'in)
  • Atha' bin Abi Rabah
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya
  • Imam As-Sa'di dalam tafsirnya

Dinamakan wustha (tengah) karena ia berada di tengah-tengah antara shalat malam (Isya) dan shalat siang (Subuh), atau karena ia berada di antara dua shalat siang (Zhuhur dan Maghrib) dan dua shalat malam (Maghrib dan Isya).

Kedua: Mengapa Nabi ﷺ Marah dan Mendoakan Keburukan?

Doa Nabi ﷺ ini bukanlah doa kebencian pribadi, tetapi doa yang diilhamkan Allah ﷻ untuk menunjukkan betapa besarnya dosa orang-orang kafir yang menghalangi kaum Muslimin dari shalat. Ini juga menjadi pelajaran bahwa meninggalkan shalat karena kesibukan duniawi—apalagi karena permusuhan terhadap Islam—adalah perkara yang sangat besar di sisi Allah.

Ketiga: Pelajaran tentang Mengqadha Shalat

Para ulama menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa shalat yang terlewat karena udzur syar'i (seperti perang) wajib diqadha. Dalam riwayat ini, Ali dan para sahabat mengqadha shalat Ashar setelah keadaan memungkinkan, yaitu antara Maghrib dan Isya. Ini menunjukkan bahwa shalat tidak boleh ditinggalkan sama sekali, meskipun dalam keadaan perang.

Keempat: Keutamaan Menjaga Shalat Ashar

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits lain:

مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa yang mengerjakan shalat bardain (Subuh dan Ashar), maka ia akan masuk surga."

(HR. Al-Bukhari no. 574, Muslim no. 635)

Ini menunjukkan bahwa shalat Ashar adalah salah satu shalat yang paling utama dan paling dijaga oleh Nabi ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada Perang Khandaq, kaum Muslimin benar-benar dalam keadaan sulit. Mereka menggali parit selama berhari-hari dengan tenaga yang terbatas. Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu—yang memiliki pengalaman perang dari negeri Persia—memberikan usulan strategi menggali parit, yang belum pernah dikenal di tanah Arab.

Ketika waktu Ashar tiba, mereka masih sibuk menggali dan berjaga. Tidak ada satu pun yang sempat melaksanakan shalat Ashar. Barulah setelah matahari hampir terbenam, mereka sempat melaksanakannya. Nabi ﷺ sangat sedih dan bersabda dengan doa yang kita baca dalam hadits ini.

Hikmah dari kisah ini: Betapa pun sibuknya kita, shalat adalah perkara yang tidak boleh diabaikan. Bahkan dalam keadaan perang sekalipun, Allah ﷻ tetap memerintahkan shalat—walaupun dengan cara tertentu (shalat khauf). Maka bagaimana mungkin kita meninggalkan shalat karena alasan pekerjaan, sekolah, atau kesibukan dunia yang jauh lebih ringan dari perang?

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat Ashar sebagaimana kita menjaga shalat Subuh. Keduanya adalah shalat yang paling ditekankan oleh Nabi ﷺ.
  2. Jangan menunda shalat hingga keluar waktunya karena kesibukan apa pun. Kesibukan dunia tidak pernah menjadi udzur untuk meninggalkan shalat.
  3. Jika terlewat karena udzur syar'i (tidur, lupa, atau keadaan darurat), maka wajib mengqadhanya segera ketika ingat dan mampu.
  4. Jadikan shalat sebagai prioritas utama dalam hidup, bukan sekadar pelengkap di sela-sela kesibukan.
  5. Jauhi sifat malas dalam beribadah, karena setan selalu berusaha melalaikan kita dari shalat, terutama shalat Ashar dan Subuh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.