Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan dua wanita mulia: Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنهما. Nabi ﷺ menyebut keduanya sebagai wanita terbaik di zamannya masing-masing. Ini adalah pujian agung yang menunjukkan kedudukan tinggi mereka dalam Islam, dan menjadi pelajaran bagi kita untuk memuliakan wanita-wanita shalihah serta meneladani kesabaran, keimanan, dan pengorbanan mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari jalur Hisyam bin Urwah, dari ayahnya (Urwah bin az-Zubair), dari Abdullah bin Ja'far, dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Teks hadits:
خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ
Terjemahan: "Wanita terbaik di zamannya adalah Maryam binti Imran, dan wanita terbaik di zamannya adalah Khadijah."
Hadits ini juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna, sehingga derajatnya shahih dan disepakuti keabsahannya oleh para ulama.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan Maryam:
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
QS. Ali 'Imran [3]: 42
Terjemahan: "(Ingatlah) ketika para malaikat berkata, 'Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di alam semesta.'"
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan Allah memilih Maryam di atas wanita-wanita zamannya karena keimanan, kesucian, dan ketaatannya yang luar biasa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama, tentang makna "خَيْرُ نِسَائِهَا" (wanita terbaik di zamannya). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kata "nisā'ihā" merujuk pada wanita-wanita di zaman masing-masing. Sebagian ulama memahami bahwa Maryam adalah wanita terbaik di zamannya, dan Khadijah adalah wanita terbaik di zaman Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi, bukan berarti menafikan keutamaan wanita-wanita mulia lainnya seperti Fatimah, Aisyah, dan lainnya.
Kedua, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan Maryam dan Khadijah secara bersamaan menunjukkan dua teladan utama bagi wanita: Maryam sebagai teladan kesucian dan ketaatan total kepada Allah, sedangkan Khadijah sebagai teladan pengorbanan, dukungan kepada suami, dan keimanan yang teguh di awal Islam.
Ketiga, Imam Ibn Katsir menyebutkan bahwa Khadijah رضي الله عنها adalah wanita pertama yang beriman kepada Nabi ﷺ, yang menenangkan beliau saat wahyu pertama turun, dan yang mengorbankan hartanya untuk perjuangan Islam. Sedangkan Maryam adalah wanita yang menjaga kehormatannya dan taat kepada Allah hingga Allah memilihnya di atas wanita-wanita lain di zamannya.
Keempat, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keutamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta atau kedudukan duniawi, melainkan dari keimanan, ketakwaan, dan amal shalih. Maryam dan Khadijah adalah bukti nyata bahwa wanita bisa mencapai derajat tertinggi di sisi Allah dengan kesabaran dan ketaatan.
Kelima, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menyebutkan bahwa hadits ini juga menunjukkan bolehnya memuji seseorang yang telah meninggal dunia sebagai bentuk penyebutan kebaikannya, selama tidak berlebihan dan tidak menjadikannya sebagai sesembahan.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa suatu ketika Nabi ﷺ menyebutkan tentang Khadijah di hadapan Aisyah رضي الله عنها. Aisyah berkata, "Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah." Maka Nabi ﷺ pun menyebutkan keutamaan-keutamaan Khadijah, di antaranya bahwa beliau beriman kepadanya saat orang lain mengingkarinya, membenarkannya saat orang lain mendustakannya, dan membantunya dengan hartanya saat orang lain menahan hartanya.
Aisyah رضي الله عنها kemudian berkata, "Maka tidaklah lama setelah itu, Allah menggantikan rasa cemburu itu dengan kecintaan kepada Khadijah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa besar kedudukan Khadijah di hati Nabi ﷺ, dan bagaimana Nabi ﷺ sendiri yang memuji keutamaannya secara langsung. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk menghormati dan memuliakan wanita-wanita shalihah, serta menjadikan mereka teladan dalam kesabaran, pengorbanan, dan keimanan.
Kesimpulan Praktis
- Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنهما adalah dua wanita terbaik di zaman masing-masing, dan keduanya menjadi teladan bagi seluruh wanita muslimah.
- Keutamaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari harta, kecantikan, atau kedudukan duniawi, melainkan dari keimanan, ketakwaan, dan amal shalih.
- Hendaknya kita memuliakan wanita-wanita shalihah, menghormati mereka, dan menjadikan mereka teladan dalam kehidupan sehari-hari.
- Bagi para wanita muslimah, jadikanlah Maryam sebagai teladan dalam menjaga kesucian dan ketaatan, serta Khadijah sebagai teladan dalam mendukung kebaikan, bersabar, dan berkorban untuk agama Allah.
- Hendaknya kita menghindari sikap merendahkan atau menyepelekan peran wanita dalam Islam, karena Islam sendiri telah memuliakan mereka dengan kedudukan yang tinggi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.