Penjelasan Hadits Ahmad No. 12 tentang Kemunculan Dajjal dari Khurasan diikuti pengikut berwajah perisai

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Dajjal akan keluar dari arah timur, dari sebuah negeri yang disebut Khurasan, dan akan diikuti oleh banyak manusia yang wajah mereka tebal dan keras seperti perisai yang dilapisi kulit (al-majan al-muthraqah). Hadits ini mengajarkan kita untuk mengenali tanda-tanda akhir zaman dan berpegang teguh pada iman serta sunnah Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, dari jalur Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Imam Ahmad termasuk ulama yang tercantum dalam rujukan, dan Musnad Ahmad adalah kitab beliau yang masyhur.

Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari jalur lain, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam Muslim bin al-Hajjaj tentang keluarnya Dajjal dari arah timur. Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Nabi ﷺ menyebutkan arah timur ketika menyebut keluarnya Dajjal.

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tanda-tanda hari kiamat dan fitnah besar, di antaranya:

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

QS. Al-Isra' [17]: 59

"Dan tidaklah Kami mengirim tanda-tanda (kebesaran Kami) melainkan untuk menakut-nakuti."

Ayat ini menunjukkan bahwa tanda-tanda besar kiamat, termasuk munculnya Dajjal, adalah peringatan agar manusia kembali kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyebutkan beberapa poin penting:

Pertama: Tempat keluarnya Dajjal. Nabi ﷺ menyebutkan bahwa Dajjal keluar dari arah timur, dari negeri bernama Khurasan. Para ulama seperti Ibn Katsir dalam kitabnya An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsah al-Lahfan menjelaskan bahwa Khurasan adalah wilayah di timur yang dikenal pada masa itu, dan hadits ini menunjukkan arah keluarnya Dajjal, bukan membatasi bahwa hanya dari sana secara mutlak. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga menyebutkan riwayat-riwayat tentang arah timur ini dan menguatkan bahwa Dajjal muncul dari arah timur.

Kedua: Sifat pengikut Dajjal. "Wajah mereka seperti al-majan al-muthraqah" — al-majan adalah bentuk jamak dari mijan, yaitu perisai. Al-muthraqah berarti yang dilapisi kulit di atasnya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah wajah mereka tebal, keras, dan tidak memiliki kelembutan, seperti perisai yang dilapisi. Ini menggambarkan kekerasan hati dan watak mereka, serta ketebalan wajah yang menunjukkan tidak adanya rasa malu dan kelembutan iman.

Ketiga: Pelajaran aqidah. Imam Ahmad bin Hanbal, ketika ditanya tentang hadits-hadits fitan (tanda-tanda kiamat), beliau menerimanya sebagai bagian dari aqidah dan tidak menolaknya. Ini menunjukkan bahwa beriman kepada tanda-tanda kiamat, termasuk Dajjal, adalah bagian dari iman kepada yang ghaib.

Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa hadits tentang Dajjal mutawatir secara makna, meskipun lafazhnya berbeda-beda. Tidak ada perbedaan di antara ulama daftar bahwa Dajjal adalah makhluk nyata yang akan muncul, bukan simbol atau kiasan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menetapkan bahwa Dajjal adalah sosok nyata, berdasarkan zahir hadits-hadits shahih.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ berkhutbah dan menyebutkan tentang Dajjal, lalu para sahabat bertanya dengan penuh kekhawatiran. Nabi ﷺ menenangkan mereka dan mengajarkan doa berlindung dari fitnah Dajjal. Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, yang meriwayatkan hadits ini, adalah orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling memahami urusan ini. Beliau menyampaikan hadits ini kepada umat agar mereka waspada dan tidak tertipu.

Imam Ahmad bin Hanbal, ketika menyusun Musnad-nya, menempatkan hadits ini di awal musnad Abu Bakr, menunjukkan betapa pentingnya peringatan tentang fitnah besar ini. Imam Ahmad sendiri pernah menghadapi fitnah besar pada zamannya, dan beliau tetap teguh di atas sunnah, sebagaimana umat ini diperintahkan untuk teguh menghadapi fitnah Dajjal.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman kepada yang ghaib: Kita wajib mengimani bahwa Dajjal adalah makhluk nyata yang akan muncul, sebagai bagian dari iman kepada hari kiamat.
  2. Waspada terhadap fitnah: Hendaknya kita memperbanyak doa berlindung dari fitnah Dajjal, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ, terutama dalam shalat setelah tasyahud akhir.
  3. Berpegang pada sunnah: Fitnah Dajjal adalah fitnah terbesar, dan satu-satunya benteng adalah iman yang benar dan ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an dan sunnah dengan pemahaman salaf.
  4. Menjauhi kekerasan hati: Sifat pengikut Dajjal yang keras seperti perisai mengingatkan kita untuk melembutkan hati dengan dzikir dan Al-Qur'an.
  5. Tidak sibuk dengan ramalan: Cukup bagi kita mengetahui tanda-tandanya secara global dan bersiap dengan amal shalih, tanpa sibuk menentukan waktu atau tempat secara spekulatif.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?