Penjelasan Hadits Ahmad No. 1115 tentang Anjuran membangunkan keluarga pada sepuluh malam terakhir Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan untuk beribadah, khususnya qiyamul lail. Ini adalah anjuran agar setiap muslim menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah dan mengajak keluarganya serta. Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat mulia karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil Al-Qur'an:

QS. Al-Qadr [97]: 1-3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."

QS. Ad-Dukhan [44]: 3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Terjemahan: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang penuh berkah. Sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan."

Hadits terkait:

Hadits dari 'Aisyah (رضي الله عنها), beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

"Apabila masuk sepuluh malam terakhir (Ramadan), Nabi ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah)." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kaitan dengan ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya membangunkan keluarga pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk beribadah. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini adalah dalil anjuran menghidupkan malam-malam tersebut dan mengajak keluarga serta anak-anak yang sudah mampu beribadah.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits riwayat Musnad Ahmad nomor 1115 ini diriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib (رضي الله عنه), melalui jalur Hubairah bin Yarim. Maknanya adalah bahwa Nabi ﷺ secara khusus membangunkan anggota keluarganya pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Ini bukan berarti beliau tidak membangunkan mereka di malam-malam lain, tetapi penekanan pada sepuluh malam terakhir menunjukkan keutamaan dan kesungguhan beliau pada waktu tersebut.

Pemahaman para ulama:

  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fathul Bari menyatakan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa seseorang hendaknya membangunkan keluarganya — istri, anak-anak, dan siapa pun yang ada di rumahnya — untuk shalat malam, dzikir, dan doa pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bentuk kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan.
  2. Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membangunkan keluarganya termasuk istrinya untuk shalat malam. Ini menunjukkan bahwa seorang kepala keluarga hendaknya tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak dan mendorong keluarganya untuk beribadah.
  3. Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki keistimewaan karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, dan Nabi ﷺ mengkhususkan waktu ini dengan ibadah yang tidak beliau lakukan pada waktu lain. Beliau juga mengajak keluarganya agar tidak kehilangan keberkahan malam-malam tersebut.
  4. Ibn Qayyim al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan antara beribadah sendiri dan mengajak keluarganya. Ini menunjukkan bahwa perhatian beliau terhadap keluarga tidak hanya dalam urusan dunia, tetapi juga dalam urusan akhirat.
  5. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (wafat 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan mengajak keluarga serta adalah bagian dari tanggung jawab seorang pemimpin keluarga.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat apakah "membangunkan keluarga" berarti membangunkan mereka setiap malam dari sepuluh malam terakhir atau hanya pada malam-malam tertentu saja. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar — adalah bahwa Nabi ﷺ membangunkan mereka pada seluruh sepuluh malam terakhir, karena beliau menghidupkan seluruh malam tersebut.

Hikmah:

  • Menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah adalah sunnah Nabi ﷺ.
  • Seorang kepala keluarga hendaknya mengajak keluarganya untuk beribadah, bukan hanya beribadah sendiri.
  • Sepuluh malam terakhir adalah waktu terbaik untuk mencari Lailatul Qadar.
  • Kerja sama keluarga dalam ibadah akan membawa keberkahan bagi rumah tangga.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah (رضي الله عنها) pernah ditanya tentang amalan Nabi ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau menjawab bahwa Nabi ﷺ tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan keluarganya. 'Aisyah sendiri meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ apabila masuk sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan sarungnya — kiasan dari kesungguhan dan keseriusan dalam beribadah — menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

"Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan." (HR. Al-Bukhari)

Hikmahnya adalah bahwa Nabi ﷺ tidak hanya menganjurkan secara lisan, tetapi beliau sendiri mempraktikkannya dan mengajak keluarganya. Ini menunjukkan bahwa dakwah dan pendidikan keluarga dimulai dari rumah.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan shalat malam, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan doa.
  2. Bangunkan keluarga — istri, anak-anak, dan anggota rumah tangga lainnya — untuk ikut beribadah.
  3. Bersungguh-sungguhlah (mengencangkan sarung) dalam beribadah pada malam-malam tersebut, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
  4. Perbanyak doa, terutama doa yang diajarkan Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai ampunan, maka ampunilah aku." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

  1. Jadikan keluarga sebagai prioritas dalam kebaikan, karena mereka adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?