Penjelasan Hadits Ahmad No. 1114 tentang Anjuran menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir Ramadan untuk beribadah, dan "mengangkat/mengikat izarnya" yang dipahami para ulama sebagai kesungguhan beliau menjauhi hubungan suami-istri demi fokus beribadah, atau sebagai kiasan kesungguhan total dalam beribadah. Ini menunjukkan anjuran menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya bagi keluarga, dan meneladani kesungguhan Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ahzab [33]: 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Terjemahan: "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah."

Hadits terkait:

Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

"Apabila masuk sepuluh malam terakhir, Nabi ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan izarnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibn Majah dengan lafaz serupa, dan dishahihkan oleh para ulama hadits seperti Al-Bukhari, Muslim, serta dikuatkan oleh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "شَدَّ الْمِئْزَرَ" (mengencangkan izar) adalah kiasan dari kesungguhan beribadah dan menjauhi hubungan intim, karena biasanya orang mengendurkan izarnya saat tidur bersama istri.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya membangunkan keluarga pada malam-malam sepuluh terakhir dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menukil bahwa para salaf sangat bersemangat menghidupkan sepuluh malam terakhir dan membangunkan keluarga mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه melalui jalur Hubairah bin Yarim ini memiliki dua bagian penting:

Pertama: يُوقِظُ أَهْلَهُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ (membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir)

Nabi ﷺ tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga membangunkan istri-istri dan keluarganya untuk ikut beribadah. Ini menunjukkan bahwa kepala keluarga hendaknya mengajak keluarganya kepada kebaikan, terutama pada waktu-waktu istimewa seperti sepuluh malam terakhir Ramadan. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab seorang pemimpin keluarga terhadap ahli rumahnya.

Kedua: وَيَرْفَعُ الْمِئْزَرَ (dan mengangkat/mengencangkan izarnya)

Para ulama berbeda dalam memahami ungkapan ini:

  1. Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa maknanya adalah menjauhi hubungan suami-istri pada malam-malam tersebut untuk fokus beribadah, karena "izar" adalah kain yang menutup aurat dan biasanya dikencangkan saat seseorang bersiap untuk sesuatu yang serius.
  2. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ini adalah kiasan dari kesungguhan dan keseriusan dalam beribadah, sebagaimana orang yang mengencangkan ikat pinggangnya ketika hendak bekerja keras.
  3. Ibn Rajab al-Hanbali menambahkan bahwa maknanya mencakup kesungguhan total, tidak bermalas-malasan, dan memfokuskan seluruh tenaga untuk ibadah.

Perbedaan riwayat: Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah رضي الله عنها digunakan lafaz "شَدَّ الْمِئْزَرَ" (mengencangkan), sedangkan dalam Musnad Ahmad dari Ali digunakan "يَرْفَعُ الْمِئْزَرَ" (mengangkat). Para ulama seperti Ibn Hajar menyatakan keduanya memiliki makna yang berdekatan, yaitu kesungguhan dalam ibadah dan menjauhi hal-hal yang mengurangi kekhusyukan.

Pendapat yang paling kuat: Pendapat Ibn Hajar dan an-Nawawi bahwa maknanya adalah kesungguhan beribadah dan menjauhi hubungan intim pada malam-malam tersebut, karena didukung oleh konteks hadits dan riwayat-riwayat lain yang semakna.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah رضي الله عنها pernah ditanya tentang amalan Nabi ﷺ pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau menjawab bahwa Nabi ﷺ tidak pernah tidur pada malam-malam itu, beliau menghidupkan malam dengan shalat, membaca Al-Qur'an, dan berdoa, serta membangunkan keluarganya. Aisyah juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sangat bersungguh-sungguh pada malam-malam tersebut melebihi malam-malam lainnya, hingga beliau mengencangkan ikat pinggangnya sebagai tanda keseriusan total. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, sebagaimana disebutkan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim)

Hikmahnya: Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam beribadah, dan beliau tidak hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga mengajak keluarga untuk meraih kemuliaan malam-malam tersebut.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan shalat malam, membaca Al-Qur'an, dzikir, dan doa, terutama mencari Lailatul Qadar.
  2. Bangunkan keluarga untuk ikut beribadah, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ dan bentuk tanggung jawab kepala keluarga.
  3. Bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam-malam tersebut, sebagaimana Nabi ﷺ mengencangkan izarnya sebagai tanda keseriusan.
  4. Jauhi hal-hal yang mengurangi kekhusyukan ibadah pada malam-malam istimewa ini, termasuk mengurangi kesenangan duniawi yang tidak perlu.
  5. Teladani Nabi ﷺ dalam kesungguhan beribadah dan mengajak keluarga kepada kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?