Penjelasan Hadits Ahmad No. 1107 tentang Urutan kedatangan Nabi, Abu Bakr, dan Umar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dan menjelaskan urutan keutamaan para khalifah: Rasulullah ﷺ yang paling utama, lalu Abu Bakr, lalu Umar. Setelah masa mereka, muncul berbagai fitnah (kekacauan) yang keputusannya diserahkan kepada Allah. Hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Bakr dan Umar serta sikap tawakal terhadap musibah yang terjadi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, dari jalur Waki' bin al-Jarrah, dari Sufyan (ats-Tsauri), dari Abu Hasyim bin Katsir, dari Qais al-Kharifi, dari Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.

Teks hadits:

سَبَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ وَثَلَّثَ عُمَرُ ثُمَّ خَبَطَتْنَا فِتْنَةٌ فَهُوَ مَا شَاءَ اللَّهُ

Terjemahan: "Rasulullah ﷺ mendahului (dalam keutamaan), kemudian Abu Bakr shalat (menjadi imam), kemudian Umar menjadi yang ketiga. Kemudian kami dilanda fitnah, dan itu terserah kepada apa yang Allah kehendaki."

Hadits ini memiliki makna yang sejalan dengan hadits-hadits shahih lain tentang keutamaan Abu Bakr dan Umar, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa keutamaan Abu Bakr dan Umar telah disepakati oleh Ahlus Sunnah berdasarkan dalil-dalil yang banyak.

Penjelasan Rinci

Makna "سَبَقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ" — Rasulullah ﷺ adalah yang paling dahulu dan paling utama dalam segala hal: dalam kenabian, dalam hijrah, dalam keimanan, dan dalam keutamaan secara mutlak. Ini adalah perkara yang disepakati.

Makna "وَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ" — Abu Bakr ash-Shiddiq رضي الله عنه adalah orang yang menggantikan Rasulullah ﷺ memimpin shalat ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Ini adalah isyarat kuat dari Nabi ﷺ tentang keutamaan Abu Bakr dan kesiapannya memimpin umat. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa penunjukan Abu Bakr sebagai imam shalat merupakan dalil terkuat atas keutamaan beliau dan kelayakannya menjadi khalifah.

Makna "وَثَلَّثَ عُمَرُ" — Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه adalah yang ketiga dalam keutamaan setelah Rasulullah ﷺ dan Abu Bakr. Ini juga sejalan dengan hadits lain di mana Nabi ﷺ bersabda tentang urutan keutamaan ini.

Makna "ثُمَّ خَبَطَتْنَا فِتْنَةٌ" — Setelah masa Abu Bakr dan Umar, muncul berbagai fitnah dan kekacauan di tengah umat Islam, seperti fitnah pada masa Utsman bin Affan dan setelahnya. Kata "خَبَطَتْنَا" berasal dari "خَبَطَ" yang berarti menimpa atau memukul dengan keras, menggambarkan betapa dahsyatnya fitnah tersebut.

Makna "فَهُوَ مَا شَاءَ اللَّهُ" — Ali رضي الله عنه menyerahkan segala urusan fitnah tersebut kepada kehendak Allah. Ini menunjukkan sikap tawakal dan penerimaan terhadap takdir Allah, serta tidak memutarbalikkan fakta tentang keutamaan para khalifah sebelumnya.

Ibnu Katsir dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan penetapan keutamaan Abu Bakr dan Umar, dan bahwa Ali sendiri mengakui hal tersebut. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Ahlus Sunnah mencintai dan menghormati keempat khalifah sesuai urutan keutamaan mereka.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah ditanya tentang keutamaan para khalifah. Beliau menjawab dengan jawaban yang tegas dan jelas, tidak ragu, bahwa Rasulullah ﷺ adalah yang paling utama, kemudian Abu Bakr, kemudian Umar. Ketika beliau menyebutkan tentang fitnah yang menimpa umat setelahnya, beliau tidak menyalahkan siapa pun secara pribadi, melainkan menyerahkan semuanya kepada Allah. Ini menunjukkan ketinggian ilmu, adab, dan ketakwaan Ali رضي الله عنه.

Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, dan beliau sendiri dikenal sangat teguh dalam menetapkan keutamaan para sahabat sesuai urutan yang benar. Imam Ahmad pernah berkata bahwa tidak ada seorang pun yang boleh mencela para sahabat Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Tetapkan keutamaan para khalifah — Rasulullah ﷺ paling utama, lalu Abu Bakr, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali رضي الله عنهم. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
  2. Hormati dan cintai para sahabat — Mereka adalah generasi terbaik yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya.
  3. Bersikap tawakal dalam menghadapi fitnah — Ketika terjadi kekacauan atau perbedaan, serahkan keputusan kepada Allah dan jangan memperkeruh keadaan.
  4. Jauhi perdebatan yang memecah belah — Fokuslah pada ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, bukan pada pertengkaran yang tidak berujung.
  5. Teladani adab Ali رضي الله عنه — Beliau mengakui keutamaan orang yang lebih dahulu dalam kebaikan tanpa mengurangi rasa hormat dan kecintaan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?