Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan kebiasaan Nabi ﷺ di sepuluh malam terakhir Ramadan: beliau mengencangkan sarungnya (yakni bersungguh-sungguh dalam ibadah dan menjauhi hubungan suami-istri), serta membangunkan istri-istrinya untuk beribadah. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam menghidupkan malam-malam tersebut, terutama mencari Lailatul Qadar. Umat Islam dianjurkan meneladani semangat ini di akhir Ramadan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 1105), dari jalur ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, melalui Hubairah bin Yarim. Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu ulama dalam daftar rujukan.
Hadits ini juga memiliki penguat dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi ﷺ jika masuk sepuluh malam terakhir, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan makna “mengencangkan sarung” sebagai kinayah dari kesungguhan beribadah dan menjauhi jima‘ (hubungan suami-istri) demi fokus beribadah.
Ayat yang mendorong semangat ini antara lain:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾
QS. Al-‘Ashr [103]: 1-2
Terjemahan: “Demi waktu. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
Juga firman Allah:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾
QS. Al-Qadr [97]: 1-3
Terjemahan: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan tiga hal utama:
Pertama: “Mengencangkan sarung” (شَدَّ الْمِئْزَرَ).
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Sebagian memahami secara hakiki: beliau mengencangkan sarung untuk bekerja dan beribadah lebih giat. Sebagian lain memahami sebagai kinayah (kiasan) dari:
- Menjauhi hubungan suami-istri untuk fokus ibadah,
- Atau bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam ibadah melebihi hari-hari biasa.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menguatkan bahwa maknanya adalah kesungguhan dalam ibadah dan menjauhi jima‘ pada malam-malam itu, karena beliau ingin sepenuhnya fokus beribadah dan mencari Lailatul Qadar.
Kedua: “Membangunkan istrinya” (وَأَيْقَظَ نِسَاءَهُ).
Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak keluarganya. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma‘arif menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab seorang kepala keluarga untuk mengajak keluarganya kepada kebaikan, terutama di waktu-waktu mulia. Beliau juga menyebutkan bahwa para salaf seperti ‘Ali bin Abi Thalib dan ‘Abdullah bin al-Mubarak sangat memperhatikan hal ini, bahkan membangunkan keluarga di malam-malam terakhir Ramadan.
Ketiga: Kaitan dengan Lailatul Qadar.
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar ada di sepuluh malam terakhir Ramadan, dan kemungkinan terbesarnya di malam-malam ganjil. Karena itu, Nabi ﷺ mengkhususkan kesungguhan lebih pada malam-malam ini. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri meriwayatkan banyak hadits tentang keutamaan menghidupkan malam-malam ini, dan beliau dikenal sangat bersungguh-sungguh dalam ibadah di akhir Ramadan.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama memahami “mengencangkan sarung” secara hakiki (bersiap untuk ibadah dan menjauhi tempat tidur), sebagian secara majazi (menjauhi jima‘). Namun keduanya tidak bertentangan: intinya adalah kesungguhan luar biasa dalam ibadah. Yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat yang menggabungkan keduanya: beliau menjauhi jima‘ dan bersungguh-sungguh dalam ibadah, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه — yang meriwayatkan hadits ini — sendiri sangat memperhatikan sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau membangunkan keluarganya, termasuk Fatimah رضي الله عنها, untuk shalat dan berdoa. Dalam sebuah riwayat yang disebutkan Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma‘arif, ‘Ali pernah berkata kepada keluarganya: “Bangunlah, karena malam-malam ini adalah malam yang penuh berkah.” Ini menunjukkan bahwa para salaf tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak keluarga, meneladani Nabi ﷺ.
Hikmahnya: seorang muslim hendaknya tidak egois dalam ibadah, tetapi mengajak keluarga dan orang terdekat kepada kebaikan, terutama di waktu-waktu mulia seperti akhir Ramadan.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama shalat malam, tilawah Al-Qur’an, doa, dan istighfar.
- Bangunkan keluarga untuk beribadah bersama, sebagaimana Nabi ﷺ membangunkan istrinya.
- Fokuskan diri pada ibadah dengan mengurangi hal-hal yang tidak perlu, termasuk menjauhi jima‘ di malam-malam tersebut jika memungkinkan.
- Cari Lailatul Qadar dengan bersungguh-sungguh, terutama di malam-malam ganjil.
- Teladani kesungguhan Nabi ﷺ dan para salaf seperti ‘Ali bin Abi Thalib dan ‘Abdullah bin al-Mubarak dalam menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.