Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya bersungguh-sungguh beribadah sendiri di sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga membangunkan keluarganya agar ikut menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah. Ini menjadi dalil disyariatkannya mengajak dan membangunkan keluarga untuk qiyamul lail, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadan, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. At-Tahrim [66]: 6
وَيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib (رضي الله عنه) dalam Musnad Ahmad no. 1104, melalui jalur Abu Ishaq dari Hubairah dari Ali. Sanad ini dinilai hasan oleh sebagian ulama; sebagian menilai ada kelemahan pada Hubairah, namun hadits ini memiliki penguat (syawahid) dari riwayat lain, seperti riwayat Aisyah (رضي الله عنها) dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari bahwa Nabi ﷺ "jika masuk sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya."
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnadnya, menunjukkan perhatian beliau terhadap hadits-hadits tentang qiyamul lail dan i'tikaf.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa membangunkan keluarga di sepuluh malam terakhir adalah sunnah yang dianjurkan, karena besarnya keutamaan malam-malam tersebut.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits-hadits ini menjadi dalil disunnahkannya membangunkan keluarga untuk shalat malam, terutama di waktu-waktu yang penuh keutamaan.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah dan mengajak keluarga serta anak-anak untuk beribadah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengajarkan beberapa hal penting:
Pertama, Nabi ﷺ memberi contoh kepemimpinan dalam keluarga. Beliau tidak hanya menyuruh, tetapi beliau sendiri beribadah dan kemudian membangunkan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa seorang kepala keluarga hendaknya menjadi teladan terlebih dahulu sebelum mengajak orang lain.
Kedua, sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki keutamaan khusus. Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, Nabi ﷺ mengkhususkan waktu ini dengan ibadah yang lebih intens, termasuk membangunkan keluarganya.
Ketiga, hadits ini menjadi dalil bahwa membangunkan keluarga untuk shalat malam — baik istri, anak-anak yang sudah mampu, maupun anggota keluarga lain — adalah sunnah yang dianjurkan. Ini bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama dalam keluarga.
Keempat, para ulama berbeda pendapat tentang apakah membangunkan keluarga dilakukan setiap malam di sepuluh terakhir atau pada malam-malam tertentu saja. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi — adalah bahwa Nabi ﷺ membangunkan keluarga pada seluruh sepuluh malam terakhir, karena beliau menghidupkan seluruh malam-malam tersebut.
Kelima, hadits ini juga menunjukkan bahwa wanita dan anak-anak dianjurkan untuk ikut serta dalam qiyamul lail, meskipun dengan kadar kemampuan masing-masing. Ini sejalan dengan perintah Allah dalam QS. At-Tahrim [66]: 6 untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka, yang salah satu caranya adalah dengan mengajak mereka beribadah.
Keenam, Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan hadits ini dalam bab tentang Ali bin Abi Thalib, menunjukkan bahwa beliau memandang hadits ini sebagai bagian dari keutamaan amal di bulan Ramadan. Sufyan ats-Tsauri, Syu'bah, dan Israil — tiga perawi dalam sanad ini — adalah ulama besar yang dikenal ketelitiannya dalam meriwayatkan hadits, sehingga hadits ini memiliki kekuatan meskipun ada perbincangan tentang Hubairah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib (رضي الله عنه) — yang meriwayatkan hadits ini — adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau menyaksikan langsung bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan keluarganya di bulan Ramadan. Ali kemudian menyampaikan hal ini kepada umat, agar mereka meneladani Nabi ﷺ.
Dalam riwayat lain, Aisyah (رضي الله عنها) menceritakan bahwa ketika masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Nabi ﷺ "mengencangkan sarungnya" — yaitu bersungguh-sungguh dalam ibadah — "menghidupkan malamnya" — yaitu tidak tidur untuk beribadah — "dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salafus shalih sangat memperhatikan sepuluh malam terakhir Ramadan. Mereka tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak keluarga dan anak-anak mereka untuk ikut serta, bahkan anak-anak kecil dilatih untuk berpuasa dan shalat malam sesuai kemampuan mereka.
Kesimpulan Praktis
- Bangunkan keluarga di sepuluh malam terakhir Ramadan untuk shalat malam, dzikir, dan doa, sesuai kemampuan masing-masing.
- Jadilah teladan dalam ibadah sebelum mengajak orang lain.
- Manfaatkan sepuluh malam terakhir dengan ibadah yang lebih intens, karena di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.
- Ajarkan anak-anak untuk mencintai ibadah malam sejak dini, dengan lembut dan penuh kasih sayang.
- Jaga keluarga dari api neraka dengan mengajak mereka kepada ketaatan, sebagaimana perintah Allah dalam QS. At-Tahrim [66]: 6.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.