Penjelasan Hadits Ahmad No. 1103 tentang Anjuran menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kebiasaan Nabi ﷺ saat memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan: beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah dan "mengencangkan izar" (sarung)-nya, yang dipahami oleh sebagian salaf — termasuk penjelasan yang dikutip dalam riwayat ini — sebagai menjauhi hubungan suami-istri dan bersungguh-sungguh dalam ibadah. Ini menunjukkan keutamaan menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah dan menjauhi hal yang mengurangi kekhusyukan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Qadr [97]: 3

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Terjemahan: "Malam kemuliaan (Lailatul Qadar) itu lebih baik daripada seribu bulan."

QS. Al-Baqarah [2]: 187 (bagian akhir ayat, tentang ketentuan puasa dan hubungan suami-istri di malam hari):

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ

Terjemahan: "...Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam. Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu) sedang kamu beri'tikaf di masjid..."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 1103), dari jalur Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah رضي الله عنها, bahwa Nabi ﷺ ketika masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh beribadah.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "mengencangkan izar" adalah kinayah (kiasan) dari kesungguhan dalam ibadah dan menjauhi hubungan intim, karena orang yang bersungguh-sungguh biasanya mengencangkan pakaiannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir Ramadan dan membangunkan keluarga untuk beribadah.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengkhususkan sepuluh hari terakhir dengan amalan yang tidak beliau lakukan di hari lain, termasuk membangunkan keluarga dan menjauhi syahwat.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Hadits ini menggambarkan kesungguhan Nabi ﷺ dalam menyambut sepuluh hari terakhir Ramadan. Ada dua amalan utama yang disebutkan:

  1. Membangunkan keluarga — Nabi ﷺ tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak dan membangunkan istri-istrinya serta keluarganya untuk ikut menghidupkan malam-malam tersebut dengan shalat, doa, dan dzikir. Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap keluarga dalam kebaikan.
  2. Mengencangkan izar — Para ulama berbeda dalam memahami ungkapan ini. Dalam riwayat ini, Abu Bakr bin Ayyasy (perawi) menjelaskan bahwa maknanya adalah i'tizal an-nisa' (menjauhi wanita/hubungan intim). Namun sebagian ulama lain memahaminya sebagai kinayah dari kesungguhan dan keseriusan dalam ibadah, karena seseorang yang hendak bekerja keras biasanya mengencangkan pakaiannya.

Pemahaman ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa makna asalnya adalah menjauhi istri untuk fokus beribadah, dan ini bukan berarti haram, tetapi bentuk zuhud sementara di waktu-waktu tertentu.
  • Ibn Rajab al-Hanbali menegaskan bahwa Nabi ﷺ mengkhususkan sepuluh terakhir dengan i'tikaf dan qiyamul lail, serta menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi.
  • Imam an-Nawawi menyimpulkan bahwa disunnahkan bagi seseorang untuk membangunkan keluarganya di malam-malam ganjil sepuluh terakhir, terutama malam ke-27, untuk shalat dan doa.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama memahami "mengencangkan izar" secara literal sebagai menjauhi hubungan intim, sementara yang lain memahaminya sebagai kiasan dari kesungguhan. Namun keduanya tidak bertentangan: menjauhi hubungan intim adalah salah satu bentuk kesungguhan, dan kesungguhan mencakup menjauhi hal yang mengurangi kekhusyukan. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan keduanya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar dan Ibn Rajab.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Aisyah رضي الله عنها berkata:

"Adalah Rasulullah ﷺ apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan izar-nya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Aisyah juga menyebutkan bahwa beliau bersungguh-sungguh beribadah melebihi hari-hari biasa. Bahkan beliau beri'tikaf di masjid, tidak keluar kecuali untuk keperluan mendesak, dan fokus sepenuhnya pada munajat kepada Allah.

Hikmah: Nabi ﷺ adalah teladan dalam memanfaatkan waktu-waktu mulia. Beliau tidak hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga mengajak keluarga. Ini mengajarkan kita bahwa kepala keluarga bertanggung jawab mengajak keluarganya kepada kebaikan, terutama di waktu-waktu istimewa seperti sepuluh terakhir Ramadan.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan shalat malam, tilawah, dzikir, dan doa, terutama mencari Lailatul Qadar.
  2. Bangunkan keluarga — ajak istri, anak, dan keluarga untuk ikut beribadah, bukan hanya diri sendiri.
  3. Kurangi kesibukan duniawi dan hal-hal yang mengurangi kekhusyukan, termasuk mengurangi hubungan intim jika mampu, untuk fokus beribadah.
  4. Perbanyak i'tikaf di masjid jika memungkinkan, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  5. Jangan berlebihan (ghuluw) — menjauhi istri di waktu tertentu adalah sunnah, bukan kewajiban sepanjang waktu.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?