Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tafsir Nabi ﷺ terhadap firman Allah dalam QS. Al-Waqi'ah [56]: 82. Ayat tersebut menegur orang-orang musyrik yang menjadikan balasan atas rezeki hujan yang Allah turunkan sebagai bentuk pendustaan, yaitu dengan mengaitkan turunnya hujan kepada bintang-bintang (nau') tertentu, bukan kepada Allah semata. Ini adalah bentuk kurangnya syukur dan termasuk perbuatan yang tercela.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَا تَجْعَلُوْا رِزْقَكُمْ اَنَّكُمْ تُكَذِّبُوْنَ
"Dan kamu jadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya)."
(QS. Al-Waqi'ah [56]: 82)
Hadits Riwayat Musnad Ahmad:
Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menafsirkan makna ayat tersebut. Beliau bersabda bahwa yang dimaksud dengan "menjadikan rezeki kalian" adalah "syukur kalian", dan yang dimaksud dengan "kalian mendustakannya" adalah perkataan sebagian orang: "Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu."
Kaitan dengan Ulama:
Tafsir ini juga diriwayatkan dari para sahabat dan ulama salaf. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan beberapa riwayat yang semakna dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah: "Allah menjadikan rezeki hujan yang turun kepada kalian, tetapi kalian balas dengan mendustakan nikmat-Nya, yaitu dengan mengaitkan hujan kepada bintang-bintang, bukan bersyukur kepada Allah."
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan kebiasaan orang-orang Arab di masa jahiliyah. Ketika turun hujan, mereka berkata, "Kami mendapat hujan karena bintang ini dan itu." Mereka mengaitkan turunnya hujan dengan bintang-bintang tertentu yang mereka anggap membawa hujan, bukan karena rahmat Allah semata.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah mencela perbuatan ini. Padahal seharusnya, ketika Allah menurunkan hujan sebagai bentuk rezeki dan rahmat-Nya, manusia justru bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka malah menjadikan rezeki tersebut sebagai sarana untuk mendustakan Allah dengan mengaitkannya kepada selain Allah.
Perbuatan mengaitkan turunnya hujan kepada bintang-bintang ini terbagi menjadi dua tingkatan:
- Syirik Akbar (kekufuran besar): Jika seseorang meyakini bahwa bintang-bintang tersebut memiliki pengaruh langsung dalam menurunkan hujan, terlepas dari kehendak Allah. Ini adalah kesyirikan yang menafikan tauhid rububiyyah.
- Syirik Asghar (kesyirikan kecil): Jika seseorang meyakini bahwa Allah-lah yang menurunkan hujan, tetapi mengaitkan sebabnya kepada bintang-bintang tertentu sebagai kebiasaan. Ini termasuk perbuatan yang tercela dan dilarang, karena termasuk dalam kategori syirik kecil dalam perkataan.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang larangan mengaitkan hujan kepada bintang-bintang menunjukkan betapa pentingnya menjaga tauhid dan adab dalam bersyukur. Seorang mukmin hendaknya selalu mengaitkan segala nikmat kepada Allah semata.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada suatu pagi setelah turun hujan, Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian apa yang Rabb kalian firmankan?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Beliau bersabda, "Allah berfirman: 'Di antara hamba-Ku ada yang masuk ke dalam keadaan beriman kepada-Ku di pagi hari dan ada yang masuk ke dalam keadaan kafir kepada-Ku. Adapun orang yang berkata, "Kami diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya," maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Adapun orang yang berkata, "Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu," maka dia adalah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.'" (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan betapa seriusnya perkara ini dalam Islam. Perkataan yang tampak sederhana, namun mengandung makna yang sangat dalam terkait tauhid dan kesyukuran.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, terutama nikmat hujan yang merupakan sumber kehidupan.
- Menjaga lisan dari perkataan yang mengaitkan nikmat kepada selain Allah, seperti perkataan "kita hujan karena bintang ini" atau ungkapan-ungkapan lain yang semakna.
- Mengaitkan segala sebab kepada Allah sebagai Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
- Mempelajari tauhid agar terhindar dari kesyirikan, baik yang besar maupun yang kecil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.