Penjelasan Hadits Ahmad No. 1085 tentang Larangan meminta ampun bagi orang musyrik

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa seorang mukmin tidak boleh meminta ampun (istighfar) kepada Allah untuk orang yang meninggal dalam keadaan musyrik, meskipun itu kerabat dekat. Peristiwa ini menjadi sebab turunnya QS. At-Taubah [9]: 113–114, yang menegaskan larangan tersebut dan menjelaskan bahwa istighfar Nabi Ibrahim عليه السلام untuk ayahnya hanyalah karena janji yang beliau ucapkan, bukan karena membenarkan kesyirikan ayahnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. At-Taubah [9]: 113

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Terjemahan ringkas: "Tidak layak bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun mereka itu kerabat dekat, setelah jelas bagi mereka bahwa mereka adalah penghuni neraka."

Ayat Al-Qur'an — QS. At-Taubah [9]: 114

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Terjemahan ringkas: "Dan permohonan ampun Ibrahim untuk ayahnya hanyalah karena suatu janji yang telah ia ucapkan kepadanya. Maka ketika jelas baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah, ia pun berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun."

Hadits terkait

Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, melalui jalur Abu Ishaq dari Abu Khalil, dan dicatat oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (Musnad Ali bin Abi Thalib, no. 1085). Perawi dalam sanadnya termasuk Waki' bin al-Jarrah dan Sufyan ats-Tsauri — keduanya termasuk ulama dalam daftar rujukan. Maknanya juga sejalan dengan hadits-hadits shahih tentang larangan memintakan ampun bagi orang musyrik yang telah mati, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahihain dari sahabat seperti Abu Hurairah dan lainnya (makna umum).

Penjelasan Rinci

Latar peristiwa (asbab al-nuzul). Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه mendengar seorang lelaki beristighfar untuk kedua orang tuanya yang musyrik. Ali mengingkarinya. Lelaki itu berdalih dengan perbuatan Nabi Ibrahim عليه السلام yang memohon ampun untuk ayahnya yang musyrik. Ali kemudian menyampaikan hal ini kepada Nabi ﷺ, lalu turunlah dua ayat di atas. Ini menunjukkan adab Ali dalam menahan diri: beliau tidak memutuskan sendiri, tetapi mengembalikan perkara kepada Nabi ﷺ.

Makna ayat. QS. At-Taubah [9]: 113 menegaskan bahwa istighfar untuk orang musyrik yang telah mati dalam kesyirikan tidak layak dilakukan oleh Nabi maupun orang beriman, sekalipun mereka kerabat dekat. Kata "setelah jelas bagi mereka bahwa mereka adalah penghuni neraka" menunjukkan bahwa larangan ini berlaku setelah kematian seseorang dalam keadaan musyrik — karena saat itu statusnya telah pasti.

Penjelasan QS. At-Taubah [9]: 114. Allah menjelaskan bahwa istighfar Ibrahim عليه السلام untuk ayahnya bukanlah pembenaran terhadap kesyirikan, melainkan karena janji yang beliau ucapkan kepada ayahnya (sebagaimana disebut dalam QS. Maryam [19]: 47, bahwa Ibrahim berkata: "Aku akan memohonkan ampun kepadamu kepada Tuhanku"). Ketika jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya adalah musuh Allah (karena mati dalam kesyirikan), beliau berlepas diri darinya. Ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah harus didahulukan di atas kecintaan kepada kerabat.

Pemahaman ulama dalam daftar:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dalil tegas haramnya memintakan ampun bagi orang musyrik yang telah mati, dan bahwa perbuatan Ibrahim عليه السلام bukanlah hujjah untuk membolehkannya, karena beliau melakukannya berdasarkan janji, lalu berlepas diri setelah jelas kekufuran ayahnya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan larangan memintakan ampun bagi orang kafir yang telah mati, dan menjelaskan bahwa doa untuk mereka tidak bermanfaat.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa ayat ini menutup pintu ta'wil yang salah terhadap perbuatan Ibrahim عليه السلام.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini mengandung bantahan terhadap orang yang berdalih dengan perbuatan Ibrahim, dan bahwa "tabarri" (berlepas diri) Ibrahim setelah jelasnya kekufuran adalah teladan dalam wala' dan bara'.
  • Syaikh al-Utsaimin dan Syaikh al-Fauzan dalam kitab-kitab tauhid mereka menjadikan ayat ini sebagai bab penting dalam al-Wala' wa al-Bara': bahwa kecintaan dan doa seorang mukmin harus sesuai dengan kecintaan Allah.

Perbedaan pendapat. Sebagian ulama membahas apakah larangan ini mencakup orang musyrik yang masih hidup. Yang rajih (paling kuat) menurut dalil: larangan istighfar (memohon ampunan dosa) berlaku bagi yang telah mati dalam kesyirikan; adapun yang masih hidup, dakwah dan doa agar mereka mendapat hidayah tetap dianjurkan, sebagaimana Nabi ﷺ mendoakan kaumnya. Ini ditegaskan oleh Ibnu Katsir dan as-Sa'di.

Story Telling

Dikisahkan bahwa setelah turunnya ayat ini, Nabi ﷺ pernah didatangi seorang lelaki yang berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku..." — dan Nabi ﷺ menolak memintakan ampun untuk orang yang mati dalam kesyirikan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih tentang larangan memintakan ampun bagi orang musyrik. Para salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah, menegaskan bahwa ayat ini adalah pelajaran agar seorang mukmin tidak mengikuti hawa nafsu kerabat dalam perkara yang menyelisihi tauhid. Hikmahnya: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus mengalahkan cinta kepada keluarga, dan kebenaran tidak boleh dikorbankan karena perasaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan memintakan ampun (istighfar) bagi orang yang meninggal dalam keadaan musyrik, meskipun ia orang tua atau kerabat dekat — berdasarkan QS. At-Taubah [9]: 113.
  2. Jangan berdalih dengan perbuatan Nabi Ibrahim عليه السلام untuk membolehkan hal ini, karena beliau melakukannya karena janji, lalu berlepas diri setelah jelas kekufuran ayahnya (QS. At-Taubah [9]: 114).
  3. Bagi yang masih hidup, tetap dianjurkan berdakwah dan mendoakan hidayah, bukan memohon ampunan atas dosa kesyirikan.
  4. Utamakan tauhid dan wala' kepada Allah di atas kecintaan kepada kerabat yang menyelisihi tauhid.
  5. Bertaubatlah jika pernah memintakan ampun bagi orang musyrik yang telah mati, karena itu termasuk perkara yang dilarang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?